Ujian Sebenarnya

31 januari 2013, mungkin bagi sebagian orang hari ini adalah hari terakhir ujian dan merupakan awal dari liburan panjang. tapi mungkin tidak untuk saya dan sebagian orang lainnya, sementara yang lain sudah bersiap untuk mudik atau bahkan bersiap untuk wisata sekelompok orang ini justru mempersiapkan diri untuk ujian yang sesungguhnya.

Memang benar Ujian akhir semester atau biasa disebut UAS, tapi menurut saya dan sebagian orang ini hari terakhir UAS merupakan hari terakhir liburan kami. Terang saja, hanya disaat UAS ini kami merasakan bebas dari tugas, kuliah dan tekanan. Sedangkan dihari normal kami ditekan dengan penelitian, riset, tugas, organisasi sementara disisi yang lain tidak boleh meninggalkan kuliah.Tanpa disadari belajar untuk UAS adalah belajar untuk mengetahui, bukan untuk mengerti. Tentu saja dengan begitu ilmu yang kita dapatkan juga akan sekedarnya, dan nantinya ilmu tersebut hanya akan menjadi kenangan belaka.

Saya jadi teringat dengan beberapa matapelajaran yang dulu mati-matian saya pelajari, contoh saja IPS untuk anak SD. Toh sampai sekarang saya tidak mengerti apa itu pembagian wilayah tingkat 1, tingkat 2 dan seterusnya,  saya juga tidak ingat lagi kerajaan-kerajaan yang dulu mati-matian saya hafalkan. Saya juga sudah lupa peta buta yang saya hafalkan dulu. MASALAH? yah inilah efek dari belajar hanya untuk tuntutan. Okelah nilai bisa saja tinggi, tapi apakah nilai yang dulu saya kejar berpengaruh pada hidupku sekarang? tentu saja jawabannya TIDAK!!!.

Belajar untuk UAS? menurutku apalah artinya belajar jika belajar itu hanya untuk sebuah formalitas, apalah artinya belajar jika belajar itu hanya untuk mengejar nilai ujian yang pada akhirnya hanya merujuk pada nilai akhir. Tidak ada artinya kita belajar, menghafal, berlatih dengan keras jika pada akhirnya hanya digunakan untuk sebuah ujian, setelah itu ilmunya hanya menjadi kenangan. Itu kenapa saya tidak begitu terbebani dengan ujian akhir ini, toh cma untuk sebuah nilai. Toh nilai itu hanya untuk sekedar mengetuk pintu pekerjaan, setelah masuk kerja nilai sudah bukan jaminan. Sama halnya dengan kita sekolah, tidak perduli nilai SD mu tinggi atau rendah, SMP sudah beda lagi ceritanya.  Hanya saja tanpa adanya nilai SD akan sulit bagi kita untuk mendapatkan sekolah favorit.

Mulai besok mungkin otak akan 10-15 kali lebih diperas dari hari-hari biasanya, yah menurutku inilah belajar yang sebenarnya, belajar yang tidak berorientasi kepada nilai tapi berorientasi pengetahuan, belajar yang tidak terkurung oleh suatu ruang formalitas melainkan jauh untuk mengembangkan potensi kedepan, belajar yang bukan untuk sekedar memenuhi tuntutan perkuliahan tapi untuk diri sendiri, belajar yang bukan karena keterpaksanaan dan beban akan tetapi belajar yang karena keinginan untuk maju, bukan juga belajar yang hanya untuk mendapatkan title atau sekedar pujian tapi belajar demi tercapainya cita-cita.
Walaupun memang berat rasanya meninggalkan liburan, tapi demi integritas, tanggung jawab dan impian, hal ini bukanlah suatu pengorbanan yang berarti. Begitu lengkap, belajar demi kebaikan dan pengalaman sendiri tentu sudah menjadi nilai plus tersendiri untuk terus belajar, ditambah lagi belajar sambil praktek dan bermain sehingga semuanya dilakukan karna hobby dan dilain pihak ada tanggung jawab yang akan terus menjadi pegeangan kami dalam proses belajar mengajar ini.
————————————————————————————————————
31 januari 2013
#Random

Leave a Reply