Join Project RMUTT, explore bangkok

23 July 2014, hari ini merupakan hari ketiga saya merantau di negeri orang. Kegiatan hari ini adalah melaporkan diri ke KBRI di Thailand. Untuk apa?, hal ini diperlukan untuk mendata kembali siapa saja warga negara indonesia yang menetap di Thailand. KBRI perwakilan utama Indonesia di sebuah negara asing yang memiliki hubungan diplomatik dengan indonesia.  Lapor diri bertujuan disamping untuk mendata keberadaan para WNI di negara akreditasi, juga untuk dapat diberikannya bantuan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti hilangnya paspor atau travel document. Perwakilan Republik Indonesia tidak akan dapat memberikan bantuan atau melakukan penggantian paspor / travel document seketika, bila Perwakilan tidak mempunyai data diri yang bersangkutan.

Kami memulai perjalanan pukul 8 pagi waktu setempat (waktu sama dengan WIB). Kami berangkat ditemani 2 dosen saya dari UII yaitu Mr Hendrik dan Mr Teduh dengan menggunakan sebuah mobil univ. Kami sampai di KBRI pukul 9 kemudian mobil yang mengantar kami langsung pulang sehingga kami harus berpetualang ketika pulang, alih-alih ternyata dosen kami sengaja menyuruh supir kami pulang agar kami dapat belajar menggunakan angkutan umum disini. 


KBRI Bangkok


Pengamanan di gedung KBRI sangat ketat, jujur baru pertama kali masuk gedung yang penuh pengamanan seperti difilm-film, hehehe. Begitu masuk sudah disambut dengan CCTV, sampai di dalam pintu pertama kami disambut dengan orang thailand yang bisa bahasa Indonesia. Disini terjadi tanya jawab singkat mengenaik identitas kita dan tujuan kita datang kesini. Setelah mengetahui identitas kita, ia akan menghubungin bagian dalam gedung untuk meminta persetujuan, jika disetujui maka kita akan diberikan id card. Untuk membuka pintu kedua dibutuhkan sidik jari orang-orang tertentu, setelah kami diberikan id maka ia akan membukakan pintu yang kedua. Setelah itu kami masuk kedalam suatu ruang yang dijaga oleh seorang tentara bersenjata penuh, walaupun kami hanya lewat di depannya tapi rasa takut masih saja ada. Setelah melewati ruang ini barulah kami memasuki area halaman gedung KBRI. Tidak berhenti sampai disitu, tak jauh dari gedung itu terdapat sejenis perangkap ban, perangkap ini akan menancap pada ban mobil yang masuk melalui jalur yang salah.

Sampai di dalam gedung KBRI kami disambut oleh seorang yang sangat cantik, selain cantik ia memiliki bahasa inggris yang sangat fasih dan halus, ok ia adalah orang yang memiliki bahasa inggris paling fasih yang pernah aku temuin. Rasanya ingin melihat dia bicara lagi-lagi dan lagi,  wuh tidak salah gedung ini dilapisi pengamanan yang berlapis (ngawur). Kamipun langsung meminta izin untuk bertemu dengan pak Yunardi, ia adalah duta indonesia yang khusus menangani pelajar Indonesia di Thailand. Pengamanan tak berhenti sampai disini, banyak CCTV yang mengintai kami selama perjalanan dari meja resepsionis ke ruang pak Yunardi. Sesampai di dalam kami memulai dialog ringan dengan beliau, setelah berbincang-bincang kami segera melakukan lapor diri. Sayangnya petugas imigrasi yang seharusnya mengurus visa kami sedang tidak berada ditempat, sehingga kami harus meninggalkan passport kami dan kembali lagi esok hari. Setelah melakukan lapor diri kami pergi keluar dengan melalui jalur pengamanan yang kami masuki pada saat masuk.

Setelah keluar dari gedung KBRI kami pergi ke salah satu tempat penjualan elektronik terbesar di bangkok. Disini kami belajar bagaimana memesan barang dalam bahasa inggris dan beradaptasi dengan bahasa inggris yang terkadang tidak terlalu baik. Alhasil kami hanya membeli satu set obeng untuk persiapan penelitian kami. 

Disini sebagian besar orang masih sabar untuk berjalan kaki atau menunggu angkutan umum. Sebagai pendatang yang tidak memiliki kendaraan pribadi kami terpaksa berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum. Meskipun jarak yang ditempuh lumayan jauh tapi orang tetap mau berjalan kaki.
Suasana jalan di Bangkok

Pedagang kaki lima di Bangkok

Jembatan Layang

Di kota ini orang tidak menyebrang sembarangan, untuk menyebrang jalan mereka akan mencari jembatan atau zebra cross terdekat. Seharian ini  saya belum pernah melihat ada seorangpun yang menyebrang selain melewati jembatan atau zebracross.



Taxi Roda tiga
Taxi Bajaj
Kalau di Indonesia kendaraan tersebut disebut bajaj, kalau disini tetap dibilang taxi, bahkan tukang ojek juga disebut taxi. Mungkin semua kendaraan yang mengantar langsung ketujuan disebut taxi kali ya, hehehe.
Bis
Disini bis memiliki nomor tujuannya masing-masing, misalnya bis diatas memiliki nomor 113, nah nomor ini nantinya akan menentukan ke rute mana ia akan pergi. Nah sebelum naik bis ini ada baiknya kita bertanya dengan orang setempat mengenai nomor bis yang harus kita naiki. Harga bis ini relatif murah, hanya 10 bath atau Rp 3000, yah harga menentukan kualitas pelayanan. Di setiap pintu pada bis ini disediakan sebuah bel, bagi penumpang yang ingin berhenti tinggal menekan tombol bel  yang disediakan.

Pak Teduh dan Pak Hendrik
Escalator datar

Kami berhenti di MBK, salah satu mall di Bangkok. Sama saja seperti mall lainnya, hanya saja mall ini memiliki beberapa fasilitas dan tema yang unik. Di awali dengan escalator datar, metal detector dan beberapa tema unik lainnya. Mall ini sangat luas dan tinggi, yah mungkin karena kami puasa dan baru berjalan jauh jadi kami tidak mampu untuk mengelilingi seluruh tempat. Disini tempat sholat hanya ada satu dan tempatnya agak sedikit tersembunyi, kami sempat kebingungan untuk mencarinya, setelah bertanya beberapa kali baru kami dapat menemukan posisi musholanya. Untuk masalah harga mall ini 11-12 dengan mall di Jogja, yah bagaimanapun ini tetap mall, bukan tempatnya mencari barang murah, hehehe.
Lelah berkeliling MBK kami pergi ke skytrain. Skytrain adalah sejenis kereta api yang memiliki jalurnya sendiri. Nah disebut skytrain karena jalurnya berada di atas jembatan dan sering kali menjadi jalur yang paling tinggi di Bangkok. Harga skytrain relatif murah 22 bath atau Rp 8000 untuk setiap perjalanannya, kereta ini sangat cepat dan mewah, bisa dibandingkan dengan kereta eksekutif di Indonesia. Di kereta ini penumpang tidak diperbolehkan makan dan minum, hal ini mungkin untuk menjaga kebersihan kereta. 
Sekitar MBK
Infront Of MBK
Panorama di depan MBK

Jalur SkyTrain

Kami melakukan perjalanan dari national stadium sampai ke Victory Monument. Kami diharuskan pindah kereta dan merubah jalur kereta ke arah Victory Monument.

Loket pembelian Tiket


Memesan tiket

Pembelian tiket dilakukan secara elektronik, dengan cara ini pemesanan tiket dapat lebih cepat dilakukan. Hanya saja uang yang sudah tidak rapi terkadang tidak diterima mesin ini.


Loket Masuk Kekereta
Kereta SkyTrain
SkyTrain saat sepi

SkyTrain saat penuh
Me and our teacher

And last, let us take a selfie
Nah ini dia Victory Monument, lebih mirip ke simpang lima Semarang, hehehe. Katanya sih disini pusat pemberhentian semua alat transportasi. Mulai dari sini kami harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ven (orang thai membacanya wen). Nah disini masalah dimulai, tak satupun petugas penjual tiket yang mengerti bahasa inggris, dosen kami juga sempat bingung melihatnya, sistem baru ini menyulitkan pendatang untuk menggunakan jasanya. Bahkan stop, wait, dan tell saja mereka tidak mengerti. Kami duduk pasrah sampai salah seorang petugas penjual tiket menghampiri kami dan menyuruh kami naik dengan menggunakan bahasa universal, bahasa tubuh.

Victory Monument
Tempat mengunggu ven

Loket penjualan tiket

Setelah sampai di asrama kami langsung tidur karena mempersiapkan welcoming party yang akan diadakan malam harinya. 


Malam harinya kami dibawa ke restoran yang cukup terkenal di bangkok, makanannya luar biasa enak,  mereka memiliki menu ayam dan seafood terbaik. Perut kami hampir meledak karna dipaksa memakan beraneka ragam makanan, walaupun tanpa dipaksa kami akan memakan semuanya. hahaha

Leave a Reply