Jum’at an di negeri orang

26 juli 2014, hari ini merupakan hari jum’at pertama kami di negeri 1000 pagoda. Pagi ini kami memutuskan untuk tidak pergi ke fakultas agar tidak ribet meminta izin ketika mau sholat jum’at. Sebenarnya nggak ribet-ribet amat sih, mereka sangat mempersilahkan kami dalam melakukan aktifitas keagamaan, hanya saja karna kami belum terlalu kenal sama mereka jadi segan untuk meminta izin keluar.

Sholat dhuhur dimulai jam setengah 1, berhubung tidak ada masjid disekitar asrama jadi mau tidak mau kami harus sholat jum’at di muslim center-nya RMUTT. Pemeluk agama muslim disini terbilang sedikit, saat kami sholat jum’at saja terhitung hanya 35 anak yang hadir dalam mushola tersebut. Yah, padahal menurut agama minimal 40 anak yang hadir dalam sholat jum’at. Tapi dari pada kami tidak sholat jum’at yah lebih baik mengikuti kebiasaan disini.

Saat pertama kali sampai ke muslim center kami rada canggung karena hanya ada mushola yang sangat kecil disini, mungkin hanya berukuran 4×5 m saja. Dari pada bingung sendiri, lantas kami mencoba menyapa mahasiswa disana, “Assalamualaikum” kataku, “Waalaikumsalam” mereka membalas. Meskipun penyebutan bahasa inggris mereka berbeda tapi pelafalan bahasa arab mereka sama seperti yang diajarkan di Indonesia.  Selanjutnya kami memperkenalkan diri kami dan meminta izin untuk mengikuti kegiatan sholat jum’at ditempat mereka. Ternyata hanya kata assalamualaikum-lah yang menyambungkan kami semua. Selanjutnya perkenalan diri kami dan izin untuk bergabung diabaikan dan hanya dibalas dengan muka bingung. Ok fine, lebih baik kami bingung dari pada membuat mereka yang bingung. Untung saja tak jauh dari situ ada seorang kakak tingkat kami di uii yang mendengar perkenalan diri kami, mendengar kami dari indonesia dia langsung berbicara dalam bahasa indonesia. Dan kami pun terselamatkan.

Saat melakukan sholat jum’at alhamdulillah hanya bahasa arablah yang familiar di telinga kami,  selebihnya hanya mereka dan tuhanlah yang mengerti. Untung saja pengalaman merantauku sudah lumayan banyak, sudah beberapa kali sholat di tempat terpencil yang semua khutbahnya dalam bahasa jawa “halus”. Jadi ini bukan kali pertama aku sholat jum’at melongo seperti ini. Alhasil tak sedikitpun khutbah yang kami mengerti. Dan kami harus bertahan mendengarkan khutbah ini untuk 2 bulan kedepan.

Oke sekian cerita pengalaman sholat jum’at pertama ku di negeri Thailand ini.

Leave a Reply