4 x 6 = 6 x 4???

Sebenarnya berita ini sudah dari sebulan yang lalu, hanya saja baru sekarang saya dapat meluangkan waktu untuk menuliskan opini saya mengenai kasus ini.
Masalah sepele, 4 x 6 apakah sama dengan 6 x 4?, hanya sesederhana ini. Akan tetapi persoalan ini telah mengundang banyak pakar untuk angkat bicara mengenai masalah ini, katakan saja pakar fisika Indonesia bapak Yohanes Surya, dan Iwan Pranoto, profesor matematika dari Institut Teknologi Bandung. Siapa yang tak kenal mereka berdua, nama-nama besar para cendikiawan indonesia. Selain itu termasuk jugalah dosen-dosen saya di Universitas Islam Indonesia yang saya nilai beliau-beliau ini adalah orang-orang hebat. Bagaimana mungkin banyak orang-orang hebat yang mendebatkan masalah semudah ini.

Pemikiran saya pada saat pertama kali melihat gambar tersebut adalah kakak yang terlalu egois dan terlalu memenangkan adiknya. Banyak orang yang memenangkan sang kakak, banyak juga yang setuju dengan tindakan gurunya.

Orang biasa akan berfikir sekali, orang pintar akan berfikir dua sampai tiga kali, tapi orang yang hebat akan berfikir berkali-kali. Yah memang hasil 4×6 sama dengan 6×4, setidaknya itu teori dasar yang diajarkan kepada kita di sekolah dulu. Tapi semakin kamu berfikir kritis kamu akan menyadari bahwa 4×6 belum tentu sama dengan 6×4. Orang biasa, akan menjawab 4×6 sama dengan 6×4, dan mereka akan menghina guru tersebut karena dinilai tidak kreatif dan terlalu kaku. Tapi orang yang sedikit lebih kritis akan setuju dengan tindakan guru karena mereka menilai ada konsep dasar yang harus diketahui oleh setiap anak. Saya pribadi langsung berfikir untuk mendukung gurunya, walaupun hal ini didorong juga oleh tidak setuju nya saya atas tindakan yang diambil oleh kakaknya.

Menurut saya pendidikan di Indonesia terlalu mementingkan hasil, bukan proses. Hal ini lah yang membentuk mental anak bangsa menjadi kurang baik. Sampai ia dewasa maka ia akan terus menghargai nilai bukan prosesnya. Pantas saja banyak pejabat yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil yang ia inginkan tanpa mau berusaha dengan keras. Beberapa mahasiswa membeli gelar, membayar orang untuk mengerjakan tugas, demi mendapatkan hasil yang setara. Hasilnya sama, SARJANA, tapi kualitasnya berbeda. Lantas, apakah mereka pantas mengeluh dengan negeri ini karna minimnya lapangan kerja? saya rasa tidak, jika mereka memang lulusan berkualitas maka pekerjaanlah yang akan mencari mereka.

Menurut saya ada proses yang harus mereka pelajari dari 6×4 dan 4×6. Tidak hanya mengetahui bahwa itu sama, tapi juga tau teori dasar mereka. Lagi pula matriks 6×4 berbeda dengan 4×6, aturan minum obat 2×3 berbeda dengan 3×2, dan jika berfikir kearah yang lebih teknis maka akan banyak sekali alasan kenapa 6×4 tidak sama dengan 4×6.

Kedua pakar yang saya sebutkan tadi juga tak satupun mengatakan bahwa 6×4 dan 4×6 itu sama. Hanya saja pak Yohanes surya lebih menekankan untuk mengikuti proses yang ada dan menurut saya beliau lebih mensupport kearah tindakan si guru. Sedangkan pak Iwan Pranoto lebih mendukung si siswa karena menimbang bahwa mereka masih kelas 2 SD, bukan saatnya mereka berfikir terlalu kritis. Menurutnya yang penting adalah si anak mengerti kenapa 6×4 sama dengan 4×6. Jika mereka mengerti alasan dibalik kedua perhitungan tersebut maka sudah cukuplah bagi si guru untuk membenarkan jawaban si anak. Bagaimana pun mental anak akan jatuh ketika diberi nilai 20, dan tentu itu tak baik bagi si anak.

Membaca pernyataan pak Iwan tadi serentak wajahku terasa ditampar. Jika aku memaksakan pola fikir taknis ku kepada si anak maka itu sama saja menyuruh bayi untuk melakukan lompat jauh, jangankan untuk lompat jauh, untuk berjalan saja ia masih sulit. Bukan saatnya untuk anak sekelas 2 SD untuk memikirkan hal rumit seperti yang telah saya fikirkan. Cukuplah bagi dia mengetahui alasan kenapa 6×4 dan 4×6 itu sama.

Menurutku jawaban pak Iwan ini sangat hebat, ia mengerti bahwa 6×4 dan 4×6 itu tidak sama. Akan tetapi ia tidak memaksakan pemikiran dia ke anak sekelas 2 SD seperti yang dikatakan orang2 pintar diluar sana. Jawaban pak Iwan ini begitu membangun, ia dapat menegur si kakak juga dapat menasehati guru. Sebuah jawaban langka yang hanya dikeluarkan oleh orang yang hebat.

3 thoughts on “4 x 6 = 6 x 4???

  • 16th October 2014 at 6:58 am
    Permalink

    Yap, sepakat Den, orang bijak itu seharusnya mampu menyederhanakan apa yang diketahui, agar orang lain paham, dan tentu saja dengan melihat konteks siapa orang yang sedang kita ajak bicara saat itu.. ๐Ÿ™‚

    Reply
  • 30th November 2016 at 5:31 am
    Permalink

    Heya iโ€™m for the first time here. I came across this
    board and I to find It really useful & it helped me out a lot.
    I hope to provide one thing again and help others like you
    helped me.

    Reply

Leave a Reply