Generasi Pembelajar

 

Saat rantau menawarkan beribu goda dan harapan,
kampung halaman terasa sungguh meragukan.

Di bawah naungan bujuk rayu materi,
tanah air terasa hanya sekedar melankoli.

Wajar jika keraguan merajalela,
Indonesia tampak belum menjanjikan apa-apa.

Tapi ibu pertiwi tak pernah bosan memanggil,
perantau kuyup dengan perasaan sentimentil.

Dipantik oleh ingatan dan kenangan,
rindu tanah air kelahiran pasti tak tertahankan.

Namun kepulangan jangan semata memuaskan kerinduan,
Indonesia butuh sumbangsih mereka yang berpengetahuan.

Begitu banyak agenda bersama yang harus direalisasikan,
mimpi dan harapan yang harus jadi kenyataan.

Kami amat risau menunggu,
kepulangan kalian yang sedang berguru.

Pulanglah kapanpun kalian mau,
saudara-saudaramu juga sangat ingin maju.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung,
kita bikin Indonesia menjadi bangsa yang agung.

Mata Najwa, Generasi Pembelajar
21 November 2016.

Puisi di atas merupakan puisi penutup dari Najwa Shihab pada acara Mata Najwa edisi “Generasi Pembelajar”. Saat menonton program ini, memori saya melayang pada ingatan beberapa tahun silam, saat saya melakukan penelitian gabungan di negeri orang. Hanya dua bulan lebih, bukan waktu yang panjang untuk sebuah program exchange. Tapi dua bulan tersebut cukup membuatku merasakan beratnya berjuang di negara orang, dengan budaya, bahasa dan lingkungan yang jauh berbeda dari negara asal.

Saya teringat bagaimana kita sangat menikmati makanan Indonesia, jauh lebih nikmat dibanding saat di Indonesia.

Saya teringat bagaimana kita sangat menghargai budaya Indonesia, jauh lebih menghargainya dari pada saat kita berada di tanah kita sendiri.

Saya masih ingat bagaimana getaran kalbu saat menyanyikan lagu Tanah Airku di negeri orang. Sebuah getaran yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Saya teringat bagaimana saya dan beberapa teman-teman Indonesia, dengan semangat membara berbicara akan mimpi dan rencana untuk membangun Indonesia. Rencana yang sangat ingin kami terapkan ketika kami balik ke Indonesia. Yang kemudian, terhenti dan terbentur dengan yang namanya realita pahit. Realita bahwa merubah Indonesia tidak pernah semudah yang kami kira. Merubah Indonesia tak semudah merubah diri kita sendiri. Bahwa merubah Indonesia adalah merubah sebuah tradisi dan lingkungan. Butuh waktu untuk merubah itu semua, dan sebelum semua itu berubah, semangat kamilah yang akan terlebih dahulu terkikis.

Saya juga teringat adanya ajakan untuk bekerja di sana. Dan ketika mendengar cerita dari teman-teman kami, tawaran mereka sangat menjanjikan untuk masa depan. Mungkin benar kata Najwa Shibab, “Saat rantau menawarkan zona nyaman, di manakah masa depan hendak ditambatkan?”. Karena ketika dihadapi pada pertanyaan tersebut, jawabannya tak semudah teori dan doxa yang biasa kita dengar.

Seluruh memori tersebut bercampur aduk di kepala, dan saat puisi tersebut dibacakan. Hatiku langsung mengerenyit sakit, spontan air mata berlinang jatuh membasahi pipi. Hidung mulai basah oleh cairan yang entah datangnya darimana. Sebuah puisi yang menampar saya, sebagai salah satu generasi pembelajar.

Leave a Reply