Seleksi PPAN – Wawancara

Setelah cerita terakhirku pada seleksi PPAN, Alhamdulillah usahaku tidak sia-sia dan aku lolos ke fase kedua, fase wawancara.

Seleksi diadakan pada hari sabtu dari jam 8 hingga jam 2 siang. Aku berangkat jam setengah 8 agar mendapat giliran awal dan memiliki cukup waktu untuk menyiapkan diri. Sesampainya disana, ternyata aku sudah mendapatkan antrian ke 84 dari sekitar 120 orang yang lolos pada fase ini.

Ok, there’s no chill with these people. I thought I was the only one who is going to the extramiles. Which later I realized everybody does the same thing.

Kembali pada fase wawancara, pada seleksi kali ini kandidat akan mengikuti 3 proses wawancara. Pertama merupakan wawancara mengenai pemahaman konsep nasionalisme. Meja kedua merupakan wawancara mengenai wawasan program. Yang ketiga adalah wawancara mengenai kemampuan individu.

Aku baru dipanggil pada wawancara pertama pada pukul 10. Meja pertama adalah wawancara mengenai konsep nasionalisme. Well, aku sangat percaya diri pada meja ini karna telah berbekal cukup pengalaman wawancara dibidang ini. Kembali Pancasila adalah hal yang benar-benar harus dipahami baik maknanya maupun pengamalannya. Singkat cerita aku melalui bagian ini dengan mulus.

Setengah jam kemudian aku dipanggil pada meja kedua, wawasan mengenai program. Terdapat 2 orang penanya pada meja ini, satu cewek yang aku rasa 2 tahun di atasku dan satu lagi wanita yang mungkin 5 tahun lebih tua diatasku. Usut punya usut ternyata mereka adalah alumni pertukaran pelajar yang masih kerap ambil bagian dalam kegiatan PCMI. Pada meja ini kita akan ditanya mengenai pengetahuan kita seputar program dan ekspektasi kita pada program tersebut. Percayalah pada bagian ini hasil kepo kita akan sangat berguna.

Aku dipanggil ke meja ketiga selang beberapa menit setelah selesai pada meja kedua. Pada meja ini kandidat diminta menampilkan skill individu selama sekitar 10 menit. Jujur meja ini yang paling aku khawatirkan karna miskinnya skill individu yang bisa ditampilkan. Masalah suara jangan ditanya, goresan besi berkarat bahkan lebih merdu dibanding suaraku. Karir bermusikku juga tidak lebih jauh dari bermain pianika di barisan upacara bendera hari senin. Hanya skill tarian yang bisa aku tampilkan. Tarian yang dulu aku pelajari pada saat mata pelajaran kesenian di SMA, tarian yang sudah hampir 1 dekade tidak aku ulangi.

Belum setengah menit menari musik sudah dimatikan. Tarian bahkan belum memasuki bagian inti, baru bagian pembukaan. Aku merasa berada dipanggung IGT dimana sang juri menghentikan pertunjukkan karna kecewa.

I know I’m not expertise in dancing. But wait, am I that bad in dancing?, What should I do with the rest of the time?, Can I repeat the dance and try do better?

Ribuan pertanyaan bercampur malu tiba-tiba menyerbu otakku. Tapi aku nggak bisa berhenti disini, I have to show my best. Akhirnya aku perlihatkan beberapa karya di organisasi dan di akademik yang telah aku persiapkan dilaptopku. Aku mengerti ini bukan skill yang bisa ditampilkan selama program nanti, but I have to impress the judge no matter what. Lagi pula, dibidang inilah aku rasa memiliki nilai lebih dibanding yang lain. At least I tried. Didn’t I?

Demikianlah proses seleksi wawancara PPAN yang saya alami. Semoga bisa menginspirasi teman-teman yang lain.

Img src: PCMI Jogja

One thought on “Seleksi PPAN – Wawancara

Leave a Reply