Asmara Nusantara

Lagu Asamara Nusantara dari Budi Doremi kembali menjadi soundtrack untuk program yang saya lalui kali ini. Alunan melodi yang lembut menyapa telinga selalu menjadi penenang yang ampuh saat besarnya tuntutan selama program. Dan lirik yang dalam dan sesuai dengan kondisi kami menjadikan lagu ini “sempurna” untuk dijadikan soundtrack SIYLEP 2017.

waktu itu kamu pakai baju merah
yang ku tahu aku pakai baju putih
kita bergandengan menyusuri kota
dan cinta kita seperti indonesia

Dua baris pertama intro lagu di atas memberikan kesan romantis, seperti pria yang dengan tulus memuja seorang wanita dari kejauhan. Pesan yang seolah mengisyaratkan bahwa mencintai tidak selamanya perlu ditunjukkan, hanya perlu dibuktikan. Setidaknya itulah yang saya fikirkan saat pertama kali mendengar lirik tersebut. Tapi persepsi tersebut mulai terkikis ketika mendengar baris ke tiga dan baris-baris selanjutnya.

Bukan, lagu ini bukan kisah asmara seorang anak muda, bukan pula kisah cinta picisan yang sering kali booming di pasaran. Lagu ini tak lain menceritakan indahnya cinta yang tulus kepada tanah air kita, tanah air Indonesia. Karena intro tersebut tak lain menceritakan sang Merah Putih yang berkibar di seluruh penjuru Indonesia.

Dan bait selanjutnya..:


walau kini kau ada di wakatobi
yang jelas-jelas aku di raja ampat
luasnya lautan memisahkan kita
oh indahnya bercinta di nusantara

Bait ini seolah menggambarkan background dan asal kami yang berasal dari seluruh penjuru negeri. Tapi meskipun begitu, perbedaan kami begitu indah, menjadikan kami sebagai kelompok yang kaya perspektif. Dan anehnya, dengan perbedaan yang begitu besar, cinta kami tetap tidak terbatas, luasnya Aceh hingga Papua tetap bermuara pada satu cinta, Cinta kepada Tanah Air.

Kita sepakat
Bila rasa yang sesungguhnya tak mudah didapat
Perlu ada pengorbanan
Perlu ada perjuangan, seperti pahlawan

Lirik di atas membuat ku terdiam sejenak dan merenung, apa saja yang sedang difikirkan Budi Doremi saat menulis lirik ini. Rangkaian kalimat yang begitu dalam, begitu tajam dan begitu mengena. Karena memang cinta terhadap negeri ini tidak mudah, memelihara cinta yang terpecah di pelosok-pelosok negeri ini tidak dapat dianggap sebagai hal yang remeh temeh. Persoalan negeri ini tidak dapat kita gampangkan. Kita perlu tekat yang kuat, kami perlu berjuang, menjadi pemuda-pemudi yang mampu membangkitkan Ibu Pertiwi.

Dan itulah alasan utama kenapa kami semua dikumpulkan di tempat ini. Pemuda-pemudi menginspirasi yang bersatu padu, menyatukan visi dan membentuk idealisme bersama demi membangun masa depan Indonesia yang gemilang. Suatu kolaborasi berbahaya, buah dari cinta tulus yang kami berikan kepada Bumi Pertiwi.

Dan bagian Reff ini saya maknai dengan cara yang sedikit berbeda:

kita tulis cerita yang takkan kita lupa
bersama di bawah langit senja
kita nyatakan saja pada mereka lewat sebuah lagu
asmara kau dan aku di bumi khatulistiwa

Terlepas dari gambaran cinta tanah air, bait tersebut menurutku lebih tepat menggambarkan suasana program kami. Tetesan air mata yang gugur di hari terakhir kegiatan menandakan bahwa ada cerita yang telah terukir di hati kami masing-masing. Hari dimana kami harus sadar bahwa kebersamaan kami akan segera berakhir, bahwa cinta ini harus kami jaga jarak jauh, dengan jarak dan zona waktu yang mungkin berbeda. Yang bisa jadi, beberapa dari kami tidak lagi dapat saling bertemu.

Tapi begitulah uniknya menjalin Asmara di negeri ini. Dan saya harus mengakui, pertemuan yang terbilang sangat singkat tersebut telah terukir indah menjadi sebuah kenangan manis. Sebuah kisah romantis akan cinta tulus di negeri ini, yang tertuang pada sebuah lagu sederhana, lagu Asmara Nusantara.

Leave a Reply