Integritas

Semenjak mendapatkan karantina selama 10 hari di Wisma Hijau Depok 2016 lalu, kata integritas menjadi salah satu kata yang sering aku fikirkan. Jujur sebelumnya aku belum pernah begitu memaknai kata yang terdengar sederhana ini. Bahkan sialnya, akupun tak pernah ada ketertarikan untuk mengetahui kata itu sebelum karantina tersebut.

Sepuluh hari karantina tersebut aku maknai sebagai proses penanaman nilai moral dalam kehidupan. Nilai-nilai sederhana yang sering kali kita abaikan dalam aktivitas sehari-hari. Sebuah proses “brainwash” yang aku sukai, dan aku sangat bersyukur dapat mempelajari hal tersebut bersama orang-orang hebat.

Lalu apa sih definisi dari integritas?

Menurut kamus cambridge integritas adalah:

Integrity: the quality of being honest and having strong moral principles that you refuse to change.

Integritas: Suatu kualitas untuk menjadi jujur dan memiliki prinsip moral yang tidak akan kamu ubah.

 

Aku pribadi memaknai integritas sebagai suatu konsistensi dalam bertindak, mengeluarkan kata-kata, memegang nilai, dan berlaku jujur.

Definisi tadi memang terdengar mudah untuk dipahami, tapi untuk dilakukan?, tentu berbeda lagi urusannya. Kalau kita lihat ada banyak sekali pejabat yang mengakhiri masa jabatannya dengan menggunakan rompi orange.

Masalahnya cuma 1: tidak punya integritas. Waittt, bukan berarti aku mendeklarasikan diriku sebagai individu yang sudah berintegritas. Tapi insyaallah aku dalam perjalanan untuk membangun idealisme integritas pada diriku sendiri.

Seperti kebanyakan orang, men”judge” orang lain selalulah mudah untuk dilakukan. Tapi aku sendiri ketika berhadapan dengan persimpangan integritas masih sering kali tergoda untuk memilih jalan yang mudah.

Kata kuncinya adalah “konsistensi dan jujur“. Kenapa?
Karna ada dua ujian yang paling berat dari integritas:

  1. Menjadi jujur ketika tidak ada orang lain yang melihat.
  2. Menjadi jujur ketika lingkungan disekitar menuntut sebaliknya.
img src: lolriot

Berhadapan pada dua kasus tersebut sungguh tidak mudah. Ketika kamu memiliki power lebih, kamu akan memiliki otoritas dan kewenangan lebih untuk mengambil keputusan. Dan pada saat itulah kesempatan untuk melakukan penyelewengan datang silih berganti. Badai godaan untuk mengabaikan idealisme nilai yang dipegang pun semakin kuat.

Mungkin benar kata Uncle Ben:

With great power comes great responsibility“.

Integritas itu memang sulit dilakukan. Karna kita punya kesempatan untuk menguntungkan diri kita, baik dari sisi finansial ataupun kekuasaan. Tapi kita selalu tau, walaupun pahit buat dilakukan, sebenarnya jauh dilubuk hati kita merasa bahagia karna telah melakukan hal yang benar secara “moral”. Dan ada rasa bangga saat mengambil langkah itu, karna kita mampu mengesampingkan ego untuk menyakiti diri sendiri demi hal yang dipercayai benar.

Leave a Reply