Mengutuk Kemacetan

Hujan seharusnya jadi suasana sempurna untukku bersantai. Tapi tidak kali ini. Badak tempur yang sedang sakit menjadi alasanku terpaku mengamati pertigaan itu.

Bersama hujan menyaksikan egoisme manusia.

Orang-orang datang dan pergi menunggangi kereta bajanya. Beberapa sedang pergi, yang lainnya sedang kembali. Mereka tergesa, berharap sampai secepatnya.

Tak ada lampu merah atau petugas lalu lintas. Merekalah yang mengatur diri mereka sendiri.

JALANAN ITU KERUH!
Semua berlomba menjadi yang duluan. Tak jelas siapa hendak kemana. Selama ada celah, tak masalah mengubah arah. Suara hujan pun kalah dengan pekikan klakson bersahut-pahut.

DASAR BODOH!
Sekarang semuanya kusut. Tak satupun bisa bergerak. Satu-satunya jalan keluar adalah tak pernah masuk.

Lalu apa gunanya mereka membuka kaca. Berteriak mengutuk orang lain. Memainkan peran maha benar. Dan lupa dengan kesalahannya sendiri.

Sial, sepertinya orang-orang sekarang lebih malu karna basah daripada malu karna tak punya moral.

Aku muak. Aku ingin muntah. Aku tak ingin hirau. Aku ingin mampu menutup sempurna mata dan telinga, seperti para politisi.

Sebelum macet total

4 thoughts on “Mengutuk Kemacetan

Leave a Reply