Assalamualaikum 2018, please be awesome!

Assalamualaikum 2018, please be awesome!

My 2017 was beautifully colored by plot twists, ups and downs, glories and sorrows. The year I found another side of “me”. The year of “Self Discovery”.

2017 has given me new experiences, new perspectives, and new ways of thinking.

When I rewind every hardship, burdens, loss and heartaches; I remember – yes, I went through hell last year — but I made it through. And now I am more powerful than ever. The pain has strengthened me. It helped me to grow. It helps me to have a better understanding to the people of all sorts. Now I know what kind of toxic people I should keep far away from me, or at the very least, I know how to deal with them.

When I recall every celebrations, joys and glories; I realize – yes, the road in 2017 was not always smooth. But it shapes me anyway. And those lessons have given me the rewards that I deserve to own. Instead of seeing 2017 as a failure, I’d rather take that as I was training my best, as I was trying my hardest. I don’t dare to start 2018 by a negative thought. So I want to proudly saying “YES – I am WORTHY of all the rewards”. Because It’s when you’re up against the wall that your true character shows.

Now, I know a little bit more about myself and the way I want to live my life to completion.

Thank you 2017!

Read more

Seleksi PPAN – Final

Ditengah lembutnya terpaan angin padang rumput, tiba-tiba hpku berdering. Dering pengingat akan pengumuman kandidat yang lolos ketahap final seleksi PPAN.

Kebetulan hari itu kelasku sedang kosong sehingga aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bersantai di runway bandara di kotaku. Memang kegiatan beberapa minggu belakangan membuat waktu me-time ku berkurang. Biasanya aku habiskan waktu seperti ini dengan membaca novel atau menulis cerita.

Serentak degub jantung semakin cepat ketika membaca pengingat yang ku pasang. Novel ku tutup dan simpan dalam tas kecilku. Jemari kemudian berlomba untuk menekan tuts keyboard pada layar tablet, mengetik alamat website PCMI Jogja dimana pengumuman akan dipublish.

Halaman web terbuka perlahan seiring mata bergerilya mencari teks pengumuman finalis. Hei my name’s on the list!. Segera aku mengecup tabletku sambil mengucap Alhamdulilah. Aku merasa mempiku sudah di depan mata. Hanya butuh kemauan lebih untuk terus berjuang menjadikan impian itu menjadi nyata. Segera aku screenshot pengumuman itu dan ku kirim ke keluargaku. Tak lupa aku kabari beberapa kerabat dekatku. Hari itu senyum ku mekar hingga aku tidur, atau bahkan bisa jadi, tidurku pun tetap tersenyum saking senang nya.

—–***—–

Beberapa minggu kemudian proses seleksi final diselenggarakan. Seleksi terakhir ini dilakukan dengan mekanisme karantina selama 3 hari 2 malam. Seluruh kegiatan didesain dengan padat untuk melihat kedisiplinan pesertanya, selain itu tes yang beraneka ragam memaksa seluruh kandidat mengeluarkan kemampuan terbaiknya, bahkan untuk ranah yang tidak mereka mengerti.

Seleksi dibuka dengan penilaian public speaking selama 2 menit. Topic yang diberikan merupakan isu internasional dan berbeda untuk setiap orang nya. Jujur aku sendiri tidak mengerti mengenai topic yang aku dapatkan. Yang aku tampilkan adalah topik lain yang mungkin mirip dengan kasusku. Yah setidaknya mereka dapat menilai usaha yang aku berikan meskipun topic melenceng kesegala arah.

—–***—–

Program selanjutnya adalah skill individu. Peserta kembali diminta untuk menampilkan pertunjukan individu selama 20 menit. Kali ini aku tak tampil tanpa persiapan. Aku telah melakukan latihan beberapa tarian daerah dari berbagai provinsi melalui tutorial youtube. Tidak lupa aku menghafalkan beberapa lagu daerah yang mudah dihafalkan jika ternyata waktu yang dibutuhkan tarian tidak mencukupi. Lebih dari itu, aku juga meminjam baju khas daerahku di Asrama putra daerah.

Waktu tampilku pun tiba. Aku tak sempat menghitung seluruh panitia di ruangan. Yang aku ingat ada 3 orang yang aku perhatikan terus menulis selama penampilanku sambil mencatat sesuatu. Sedangkan panitia yang lain hanya memperhatikan sambil memberikan instruksi skill individu.

Ku awali penampilanku dengan menarikan tarian nusantara. Sama seperti saat seleksi wawancara, baru sebentar aku menari dan musikpun dimatikan. Bedanya, kali ini aku ditantang dengan spontan menarikan tarian sesuai irama musik yang dipilih oleh dewan juri. Aku cukup kesulitan menyesuaikan irama lagu dengan tarian, mungkin ini akibat aku baru melatih gerakan beberapa hari sebelum seleksi. Tugas selanjutnya adalah menyanyikan lagu daerah, kubawakan lagu Batu belah yang telah kuhafalkan saat menunggu antrian tampil. Setelah itu aku diminta melakukan story telling mengenai legenda dibalik lagu tersebut. Setelah story telling, kemampuan individu yang dites adalah bermain musik. Jeng jeng… Tak satupun alat musik yang bisa aku mainkan selain pianika, itupun terbatas lagu-lagu wajib untuk upacara hari senin. Alhasil, sesi ini aku lewati dengan memalukan.

—–***—–

Malam selanjutnya disebut sesi konfirmasi, pada tes kali ini kami satu persatu maju untuk menjawab pertanyaan. Bedanya tes kali ini adalah proses tanya jawab dilakukan sambil penekanan mental dari dewan juri. Pada giliranku, kuhitung ada sampai 7 dewan juri yang memperhatikan ditambah 1 dewan juri yang duduk disudut ruangan memperhatikan gerak-gerikku, yang kemudian aku fikir seorang psikolog.

Seleksi PPAN – Semifinal

Seleksi PPAN – Semifinal

Alhamdulillah usahaku pada wawancara imyep tidak sia-sia dan aku lolos bersama 39 kandidat lainnya ke fase berikutnya.

Dua hari setelah pengumuman semua semifinalis dikumpulkan untuk mengikuti briefing. Kami semua dikumpulkan pada satu ruang yang kemudian akan diberikan tugas secara individu selama dua hari.

Tugas yang aku dapat bertema “business culinary”. Tugas ini dapat diselesaikan dengan membuat artikel ilmiah, proposal kegiatan, photography atau vidiografi. Aku memutuskan memanfaatkan kemampuanku dibidang vidiografi, lagi pula pada video tersebut dapat aku selipkan beberapa foto yang mungkin menjadi nilai tambah untuk kemampuan fotografiku.

Malamnya aku langsung mengonsep video yang akan dibuat, mulai dari list tempat, potongan yang akan diambil dan musik yang akan digunakan sebagai backsound. Aku juga tidak lupa mengontak temenku yang memiliki kamera bagus untuk merekam.

Keesokan harinya aku mulai mengontak tempat-tempat yang sudah aku list untuk mendapatkan izin meliput. Banyak tempat yang menolak untuk diliput, sebagian lagi bersedia diliput setelah proposal diACC. Waktu untuk proses birokrasi proposal tidak akan cukup dengan deadline yang relatif singkat. Akhirnya aku memutuskan untuk meliput seadanya.

Read more

Seleksi PPAN – Wawancara

Seleksi PPAN – Wawancara

Setelah cerita terakhirku pada seleksi PPAN, Alhamdulillah usahaku tidak sia-sia dan aku lolos ke fase kedua, fase wawancara.

Seleksi diadakan pada hari sabtu dari jam 8 hingga jam 2 siang. Aku berangkat jam setengah 8 agar mendapat giliran awal dan memiliki cukup waktu untuk menyiapkan diri. Sesampainya disana, ternyata aku sudah mendapatkan antrian ke 84 dari sekitar 120 orang yang lolos pada fase ini.

Ok, there’s no chill with these people. I thought I was the only one who is going to the extramiles. Which later I realized everybody does the same thing.

Kembali pada fase wawancara, pada seleksi kali ini kandidat akan mengikuti 3 proses wawancara. Pertama merupakan wawancara mengenai pemahaman konsep nasionalisme. Meja kedua merupakan wawancara mengenai wawasan program. Yang ketiga adalah wawancara mengenai kemampuan individu.

Aku baru dipanggil pada wawancara pertama pada pukul 10. Meja pertama adalah wawancara mengenai konsep nasionalisme. Well, aku sangat percaya diri pada meja ini karna telah berbekal cukup pengalaman wawancara dibidang ini. Kembali Pancasila adalah hal yang benar-benar harus dipahami baik maknanya maupun pengamalannya. Singkat cerita aku melalui bagian ini dengan mulus.

Read more

Seleksi PPAN

Seleksi PPAN

Img Src: http://kreativitas.ugm.ac.id/site/?p=3873

Ada sebuah pertanyaan yang sering lupa kita tanyakan kepada diri sendiri.

“Kapan terakhir kali kita berani berkompetisi?”

Pertanyaan ini tiba-tiba terlintas ketika email dari PCMI mampir ke inbox emailku. Sebuah email yang berisi undangan untuk datang ke stand PCMI pada acara career days di Yogyakarta.

Semenjak membaca novel “Ranah 3 Warna” 6 tahun lalu, PPAN merupakan salah satu target pada bucket list yang belum tercapai. Buku karangan Ahmad Fuadi tersebut memang sangat menginspirasi diriku, tidak heran aku ingin sekali merasakan program yang sama dengan apa yang telah ia alami.

Sebetulnya aku sudah pernah mencoba mewujudkan impian ini 3 tahun lalu, tapi hal itu kandas ketika aku gagal melewati proses administrasi dan essay. Ya aku gagal pada fase pertama seleksi ini, baru pada fase administrasi dan essay. Dua tahun berikutnya nyaliku sempat surut untuk mengikuti seleksi yang sama. Baru pada tahun ketiga ini aku memberanikan diri untuk kembali barkompetisi diajang yang sama.

Read more

Life Is Journey

Life is a journey, and the ultimate goal of our journey is happiness. In life, more or less everything we do is for happiness. To start a journey, a clear destination is needed, so that we can follow and get to the right destination. Without a clear destination, we go round and round and back to the same point, or the journey will cause us a lot of trouble. “What is our destination” is the proper question to ask ourselves right here and now.

When we are clear about destination, next we should prepare ourselves by planning the journey and selecting provisions properly; don’t overload ourselves. Most of us carry a lot of junk or rubbish, so we have to leave all the rubbish and take only the necessary things. Bikkhu Kumarakassapa told Governor Payasi the following story. Once upon a time, there were two close friends who were seeking for precious things overseas. First of all they found hay, so each of them collected and carried it, thinking that they might sell it for cattle food. When they had walked a long way, they found a big parcel of gold. The first friend said, “Friend, we should throw away the bunch of hay and carry the parcel of gold home.” The second friend refused, “No no, I won’t throw it away, because I have carried it quite a long way. I won’t throw it away easily. You can take it alone if you like.” So the first one threw away the bunch of hay and carried the parcel of gold home instead. When they got back home, the first friend was praised by his family, but the second one was blamed by his family because he had been stupid enough to carry the hay home. With us it is the same, we sometimes carry lots of junk. We’d better carry the parcel of gold, or the necessary things.

Read more

BACA DEH!!! (untuk adik kecilku yang sedang merantau)

Selamat datang mahasiswi baru Universitas Islam Indonesia. 😀
 
Semoga betah tinggal di jogja ya, tenang aja jogja berhati nyaman kok. Abang belum pernah dengar orang nggak suka tinggal di jogja. Yang ada banyak orang yang pingin berlama-lama tinggal di jogja. Hehehe

 

Jangan takut untuk hidup merantau, awalnya memang agak sulit, tapi lama-kelamaan terbiasa dan bisa dibawa asik kok. Asal jangan disalah gunakan aja. Akan ada banyak hal yang bisa kamu pelajari disini, di tanah perantauan. Belajar hidup mandiri, berjuang menghadapi masalah sendiri, belum lagi lingkungan yang mendukung pembelajaran. Dan bakal banyak lagi pelajaran hidup yang bakal kamu temuin di tanah perantauan ini. Eh ada puisi yang sangat abang sukai dari imam syafi’i :
MERANTAULAH
Orang pandai dan beradab tak kan diam di kapung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggal kan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran

Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam,
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan

Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota berubah mahal seperti emas

Read more

Lessons from Google Science Fair

Hi today i’m gonna share my problems here.

I’ve worked in robotic club for 2 years and passed many failed in my experiments. Started from my research in measuring object distance using stereo vision method. I’ve took thousands samples for that research, it was tiring and vary boring but my senior kept forcing me to finish the research. I did it in 3 months, and the result is not as accurate as we expected. But when i look at the other side i realized that i should have be proud of for what i’ve done, i’m the one who accomplished a research in the first semester. Even it’s just a failed experiments, we keep publish them on national journal because my lecturer said that failed is also a lesson.

The second failed is when i tried to make fire fighter robot. I did it in second semester, we took six months to make the robot. The robot was able to find the fire in labirin. It also able to extinguished the fire using its fan.We lost at the competition because we can’t made an efficient algorithm and the other team could extinguished the fire faster than us. I thought i was failed just because i can’t won the competition.

The third failed is when i tried to make robot humanoid soccer in third and fourth semester. And i’ve wrote them in previous article. I thought i was failed to. I thought it wasn’t fair because i sacrificed many things on it and can’t win the competition.

And this year is the last year for me to join the competition. I’ve frustrated of working on it, many things didn’t go well and we don’t know why. I am working with my team which is consist of 7 people. Three people from mechanical engineering, two people from  electrical engineering and 2 from informatics engineering. Each person have their own capabilities, but we still can’t fix our problems.

Yesterday, i found a new channels in youtube, it’s about google science fair. There were many young scientist who invented a great technology. I wonder how can they invent such as technology in their age. I was curious and watched the event from the opening ceremony, there was something interesting on the opening ceremony. It was a great greeting from Susan Wojcicki the senior vice president at google and science anthisiast.

“No matter who wins, i know all of you will go on to do amazing things. And i hope you continue your love of science, and i hope you continue thinking big, and i hope you continue your ambitions, and i hope you keep trying for things go well and things that don’t go well. That’s part of being a scientist, is trying to figure out what worked and didn’t work and then making it better the next time.”

 I love that quotes, i never knew that failed is a part of being scientist. I remember that Thomas Alva Edison were failed for thousands times and it took years for him to make the first lamp. How can i be a scientist if a little pressure will knock me down. They tried for years, i just tried for months and i wanna give it up?. I’ve learned that being scientist is not about winning competition, because competition is just a reference point so we can compete to each other.

I was continued watching the next video, it’s a video from young scientist from canada who invent a flashlight using energy from human heat. Her name is Ann Makosinski and she is 16 years old, can you imagine how could a little girl make such a great invention. It seems crazy but there she is, the one who harvest human heat for flashlight energy. I kept watching the video and found some great statement from her:

“I think the biggest mistake people make about kids who enter science fairs, is that we are top of the class, straight A students. I am not the genius nerd some people expect me to be!. I think the only difference is that we’re always questioning how things work.”

And the end of the video she said:

“I’ve learned that we shouldn’t be scared by how crazy our ideas seem. Harvesting human heat? I thought that only happened in the movies!”

 Some people said that the people who enter robotics club is a freak genius, sometimes i’m proud of it but sometimes i really want to say that robotics is not a set of genius people. We just have a spirit to make our dreams real. We have bravery to think big, to think beyond what other think. 

Ever since i was a kid, i’ve been interested in robotics, tried to fix every toys and made some modification on them even though it will be broken in the end. I thought working on robotics is only a dream, but i really tried to make it real even i didn’t know what to do. I remember when some of my friends said that  i’m crazy, but i keep building my dreams and now i realize that we shouldn’t be scared by how crazy our ideas seem.

I continued to watch the next video, and it was came from young scientist from istanbul turkey. Her name is elif bilgin 16 years old, she invented a bio plastic from banana’s peels. She did the research for 2 years. Can you imagine 14 years old girl took a research for next 2 years?. She was willingly to leave their comfort zone. It’s surely a great decision for her and the result is much more than excellent. In the video she said that:

“I actualy quits for a while in the middle of the first year, for like three months and then i said well i came so far why i have to stop now. My prinsip is allowed me to discover something really new.”

“People should never give up on their goals, i didn’t and i discovered something brand new and this really suprised me.”

It’s not only you who ever feel the failure,  everyone who had a great dream will fall many times. They just can handled it, and making it better the next time. The question is, can we manage our spirits and accept the failure?, because without spirit we will never gain our goals, and without failure we will never know what success really means.

The Hidden Lessons

Today 5 mei 2013 is one of the greatest day in my life. This is the day i’ve been waiting for. I’ve sacrifice almost everything for this day. I’ve gave my time, my energy, my mind, my “comfortable zone”, and many things for this day. I almost wasted 5 months focusing for this day, worked almost everyday. But the final result is not comparable at all.

How many nights i’ve passed for this things, how many ideas that i’ve gave for this, how much energy that i’ve gave, moreover i even didn’t care if i was sick or not. Just keep working on this thing. Keep thinking optimist that every sacrifice will rewarded in kind. Keep giving beyond my limitation.

I cutted my holiday for work on this, i leave my family just for this. I canceled my plan to do my hobbies “travelling”. I didn’t join my friends party just because of this. I cutted my time for doing sport, doing assignment, playing with friends and any other things.

They say “the more you give, the more you receive”. Sometimes there are so many questions in my mind, what’s wrong with me?, what’s wrong with my sacrifice?.  Sometimes i afraid about that sentence, and sometimes i wonder if i could keep that sentence in mind.

Now what ever the result, what i can do is to entertain myself. Hopefully god will reward every sacrifices in different way and it much sweater than a glory. Now i just try to believe that god give you failure is to sweetten the glory, because the glory would be meaningful when you know defeat. Now i try to appreciate what i’ve got, try to proud what ever the result. Try to entertain so i can hold on this way. It was over, there is no point to regret. Regret just makes us more frustate, and the more we frustate the more we cann’t get back up. Try to find the hidden lesson of this failure, start to learn from the problem. Think optimist, if i had sacrificed that much, what about the winner. I believe there is no luck in competition, they work much harder than us.

It was bitter, but its not my style to be frustate. I’m gonna keep moving to chase my other dream, i’ll start to build up my biggest dream. The dream which is forgotten because of this project.

Encouragement

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UII