Ketakutan

Tiba-tiba muncul quote yang di-post oleh salah satu rekanku di jejaring sosial:

Too many of us are not living our dreams because we are living our fears.” – Les Brown

Quote ini cukup menggelitik, karna disatu sisi ada benarnya, disisi yang lain aku juga tidak begitu setuju.

Aku memiliki teori hina bahwa:

“Setiap orang di dunia hidup dalam ketakutan. Perbedaannya, bagaimana cara mereka mengendalikan ketakutan mereka.”

Disadari atau tidak, kita tumbuh dan dididik dari ketakutan. Read more

The Hidden Lessons

Today 5 mei 2013 is one of the greatest day in my life. This is the day i’ve been waiting for. I’ve sacrifice almost everything for this day. I’ve gave my time, my energy, my mind, my “comfortable zone”, and many things for this day. I almost wasted 5 months focusing for this day, worked almost everyday. But the final result is not comparable at all.

How many nights i’ve passed for this things, how many ideas that i’ve gave for this, how much energy that i’ve gave, moreover i even didn’t care if i was sick or not. Just keep working on this thing. Keep thinking optimist that every sacrifice will rewarded in kind. Keep giving beyond my limitation.

I cutted my holiday for work on this, i leave my family just for this. I canceled my plan to do my hobbies “travelling”. I didn’t join my friends party just because of this. I cutted my time for doing sport, doing assignment, playing with friends and any other things.

They say “the more you give, the more you receive”. Sometimes there are so many questions in my mind, what’s wrong with me?, what’s wrong with my sacrifice?.  Sometimes i afraid about that sentence, and sometimes i wonder if i could keep that sentence in mind.

Now what ever the result, what i can do is to entertain myself. Hopefully god will reward every sacrifices in different way and it much sweater than a glory. Now i just try to believe that god give you failure is to sweetten the glory, because the glory would be meaningful when you know defeat. Now i try to appreciate what i’ve got, try to proud what ever the result. Try to entertain so i can hold on this way. It was over, there is no point to regret. Regret just makes us more frustate, and the more we frustate the more we cann’t get back up. Try to find the hidden lesson of this failure, start to learn from the problem. Think optimist, if i had sacrificed that much, what about the winner. I believe there is no luck in competition, they work much harder than us.

It was bitter, but its not my style to be frustate. I’m gonna keep moving to chase my other dream, i’ll start to build up my biggest dream. The dream which is forgotten because of this project.

Ujian Sebenarnya

31 januari 2013, mungkin bagi sebagian orang hari ini adalah hari terakhir ujian dan merupakan awal dari liburan panjang. tapi mungkin tidak untuk saya dan sebagian orang lainnya, sementara yang lain sudah bersiap untuk mudik atau bahkan bersiap untuk wisata sekelompok orang ini justru mempersiapkan diri untuk ujian yang sesungguhnya.

Memang benar Ujian akhir semester atau biasa disebut UAS, tapi menurut saya dan sebagian orang ini hari terakhir UAS merupakan hari terakhir liburan kami. Terang saja, hanya disaat UAS ini kami merasakan bebas dari tugas, kuliah dan tekanan. Sedangkan dihari normal kami ditekan dengan penelitian, riset, tugas, organisasi sementara disisi yang lain tidak boleh meninggalkan kuliah.Tanpa disadari belajar untuk UAS adalah belajar untuk mengetahui, bukan untuk mengerti. Tentu saja dengan begitu ilmu yang kita dapatkan juga akan sekedarnya, dan nantinya ilmu tersebut hanya akan menjadi kenangan belaka.

Saya jadi teringat dengan beberapa matapelajaran yang dulu mati-matian saya pelajari, contoh saja IPS untuk anak SD. Toh sampai sekarang saya tidak mengerti apa itu pembagian wilayah tingkat 1, tingkat 2 dan seterusnya,  saya juga tidak ingat lagi kerajaan-kerajaan yang dulu mati-matian saya hafalkan. Saya juga sudah lupa peta buta yang saya hafalkan dulu. MASALAH? yah inilah efek dari belajar hanya untuk tuntutan. Okelah nilai bisa saja tinggi, tapi apakah nilai yang dulu saya kejar berpengaruh pada hidupku sekarang? tentu saja jawabannya TIDAK!!!.

Belajar untuk UAS? menurutku apalah artinya belajar jika belajar itu hanya untuk sebuah formalitas, apalah artinya belajar jika belajar itu hanya untuk mengejar nilai ujian yang pada akhirnya hanya merujuk pada nilai akhir. Tidak ada artinya kita belajar, menghafal, berlatih dengan keras jika pada akhirnya hanya digunakan untuk sebuah ujian, setelah itu ilmunya hanya menjadi kenangan. Itu kenapa saya tidak begitu terbebani dengan ujian akhir ini, toh cma untuk sebuah nilai. Toh nilai itu hanya untuk sekedar mengetuk pintu pekerjaan, setelah masuk kerja nilai sudah bukan jaminan. Sama halnya dengan kita sekolah, tidak perduli nilai SD mu tinggi atau rendah, SMP sudah beda lagi ceritanya.  Hanya saja tanpa adanya nilai SD akan sulit bagi kita untuk mendapatkan sekolah favorit.

Mulai besok mungkin otak akan 10-15 kali lebih diperas dari hari-hari biasanya, yah menurutku inilah belajar yang sebenarnya, belajar yang tidak berorientasi kepada nilai tapi berorientasi pengetahuan, belajar yang tidak terkurung oleh suatu ruang formalitas melainkan jauh untuk mengembangkan potensi kedepan, belajar yang bukan untuk sekedar memenuhi tuntutan perkuliahan tapi untuk diri sendiri, belajar yang bukan karena keterpaksanaan dan beban akan tetapi belajar yang karena keinginan untuk maju, bukan juga belajar yang hanya untuk mendapatkan title atau sekedar pujian tapi belajar demi tercapainya cita-cita.
Walaupun memang berat rasanya meninggalkan liburan, tapi demi integritas, tanggung jawab dan impian, hal ini bukanlah suatu pengorbanan yang berarti. Begitu lengkap, belajar demi kebaikan dan pengalaman sendiri tentu sudah menjadi nilai plus tersendiri untuk terus belajar, ditambah lagi belajar sambil praktek dan bermain sehingga semuanya dilakukan karna hobby dan dilain pihak ada tanggung jawab yang akan terus menjadi pegeangan kami dalam proses belajar mengajar ini.
————————————————————————————————————
31 januari 2013
#Random