(Mengapa) sudah tua baru belajar?

(Mengapa) sudah tua baru belajar?

(Mengapa) sudah tua baru belajar?

Seribu asumsi bisa saja muncul, namun hanya beliaulah yang satu-satunya mengerti. Meski dengan pendekatan super canggih hingga disebut ilmiah, tapi asumsi tetap saja asumsi.

Hati-hati, asumsi sering kali melahirkan orang-orang sok ngerti.

Toh tidak semua hal di dunia ini harus kita mengerti. Apalagi tentang hidup orang lain, apa yang membuat kita berhak memainkan peran paling mengerti?

Di dunia ini sudah terlalu banyak orang yang merasa dirinya paling mengerti. Dengan latar belakang yang “katanya” terpelajar, mereka merasa berhak menjadi yang paling benar lalu berperangai kurang ajar.

 

Read more

4 x 6 = 6 x 4???

Sebenarnya berita ini sudah dari sebulan yang lalu, hanya saja baru sekarang saya dapat meluangkan waktu untuk menuliskan opini saya mengenai kasus ini.
Masalah sepele, 4 x 6 apakah sama dengan 6 x 4?, hanya sesederhana ini. Akan tetapi persoalan ini telah mengundang banyak pakar untuk angkat bicara mengenai masalah ini, katakan saja pakar fisika Indonesia bapak Yohanes Surya, dan Iwan Pranoto, profesor matematika dari Institut Teknologi Bandung. Siapa yang tak kenal mereka berdua, nama-nama besar para cendikiawan indonesia. Selain itu termasuk jugalah dosen-dosen saya di Universitas Islam Indonesia yang saya nilai beliau-beliau ini adalah orang-orang hebat. Bagaimana mungkin banyak orang-orang hebat yang mendebatkan masalah semudah ini.

Pemikiran saya pada saat pertama kali melihat gambar tersebut adalah kakak yang terlalu egois dan terlalu memenangkan adiknya. Banyak orang yang memenangkan sang kakak, banyak juga yang setuju dengan tindakan gurunya.

Orang biasa akan berfikir sekali, orang pintar akan berfikir dua sampai tiga kali, tapi orang yang hebat akan berfikir berkali-kali. Yah memang hasil 4×6 sama dengan 6×4, setidaknya itu teori dasar yang diajarkan kepada kita di sekolah dulu. Tapi semakin kamu berfikir kritis kamu akan menyadari bahwa 4×6 belum tentu sama dengan 6×4. Orang biasa, akan menjawab 4×6 sama dengan 6×4, dan mereka akan menghina guru tersebut karena dinilai tidak kreatif dan terlalu kaku. Tapi orang yang sedikit lebih kritis akan setuju dengan tindakan guru karena mereka menilai ada konsep dasar yang harus diketahui oleh setiap anak. Saya pribadi langsung berfikir untuk mendukung gurunya, walaupun hal ini didorong juga oleh tidak setuju nya saya atas tindakan yang diambil oleh kakaknya.

Menurut saya pendidikan di Indonesia terlalu mementingkan hasil, bukan proses. Hal ini lah yang membentuk mental anak bangsa menjadi kurang baik. Sampai ia dewasa maka ia akan terus menghargai nilai bukan prosesnya. Pantas saja banyak pejabat yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil yang ia inginkan tanpa mau berusaha dengan keras. Beberapa mahasiswa membeli gelar, membayar orang untuk mengerjakan tugas, demi mendapatkan hasil yang setara. Hasilnya sama, SARJANA, tapi kualitasnya berbeda. Lantas, apakah mereka pantas mengeluh dengan negeri ini karna minimnya lapangan kerja? saya rasa tidak, jika mereka memang lulusan berkualitas maka pekerjaanlah yang akan mencari mereka.

Menurut saya ada proses yang harus mereka pelajari dari 6×4 dan 4×6. Tidak hanya mengetahui bahwa itu sama, tapi juga tau teori dasar mereka. Lagi pula matriks 6×4 berbeda dengan 4×6, aturan minum obat 2×3 berbeda dengan 3×2, dan jika berfikir kearah yang lebih teknis maka akan banyak sekali alasan kenapa 6×4 tidak sama dengan 4×6.

Kedua pakar yang saya sebutkan tadi juga tak satupun mengatakan bahwa 6×4 dan 4×6 itu sama. Hanya saja pak Yohanes surya lebih menekankan untuk mengikuti proses yang ada dan menurut saya beliau lebih mensupport kearah tindakan si guru. Sedangkan pak Iwan Pranoto lebih mendukung si siswa karena menimbang bahwa mereka masih kelas 2 SD, bukan saatnya mereka berfikir terlalu kritis. Menurutnya yang penting adalah si anak mengerti kenapa 6×4 sama dengan 4×6. Jika mereka mengerti alasan dibalik kedua perhitungan tersebut maka sudah cukuplah bagi si guru untuk membenarkan jawaban si anak. Bagaimana pun mental anak akan jatuh ketika diberi nilai 20, dan tentu itu tak baik bagi si anak.

Membaca pernyataan pak Iwan tadi serentak wajahku terasa ditampar. Jika aku memaksakan pola fikir taknis ku kepada si anak maka itu sama saja menyuruh bayi untuk melakukan lompat jauh, jangankan untuk lompat jauh, untuk berjalan saja ia masih sulit. Bukan saatnya untuk anak sekelas 2 SD untuk memikirkan hal rumit seperti yang telah saya fikirkan. Cukuplah bagi dia mengetahui alasan kenapa 6×4 dan 4×6 itu sama.

Menurutku jawaban pak Iwan ini sangat hebat, ia mengerti bahwa 6×4 dan 4×6 itu tidak sama. Akan tetapi ia tidak memaksakan pemikiran dia ke anak sekelas 2 SD seperti yang dikatakan orang2 pintar diluar sana. Jawaban pak Iwan ini begitu membangun, ia dapat menegur si kakak juga dapat menasehati guru. Sebuah jawaban langka yang hanya dikeluarkan oleh orang yang hebat.

Join Project RMUTT, Explore Bangkok part II

24 Juli 2014, agenda hari ini adalah mengambil passport dan visa di KBRI. Perjalanan kali ini kami ditemani salah satu buddy kami yaitu aomsin. Alih-alih ternyata teman-teman baru kami di Bangkok khawatir akan keadaan kami, alhasil mereka menghubungi buddy kami untuk menemani kami sepanjang perjalanan. Jarak dari asrama ke KBRI cukup jauh, jika tidak macet bisa mencapai 1 jam perjalanan. Dan karena di Thailand minim orang yang bisa bahasa inggris maka mereka takut kalau kami akan tersesat di Bangkok. Yup kami tidak bisa menolak bantuan kali ini, apalagi kami masih awam dengan kota ini.

Kami berangkat ke KBRI pukul 8 pagi, pertama kami naik van dari depan gate 3 RMUTT. Van ini akan mengantarkan kami ke Victory Monument. Van adalah minibus dengan kelas eksekutif, kalo di Indonesia seperti bis travel. Harganya cukup mahal tpi tidak semahal taxi, harga setiap perjalanan adalah 50bath atau sekitar 18000 rupiah (yah memang jaraknya jauh banget sih). Enaknya naik kendaraan ini adalah cepat karena kendaraan ini berangkat melalui motorway (jalan tol) sehingga dapat meminimalisir kemacetan. Waktu tempuh dari gate 3 ke Victory Monument adalah 40 menit.

Setelah sampai di Victory Monument, kami langsung pergi ke KBRI dengan menggunakan skyTrain. Perjalanan dengan menggunakan skyTrain ini hanya membutuhkan kurang dari 1 menit perjalanan dengan melalui 2 stasiun skyTrain(sangat cepat bukan). 

Sesampainya di KBRI kami langsung mengambil passport kami dan kemudian langsung keluar lagi (Ok, datang jauh-jauh cuma untuk urusan 5 menit). Untuk informasi KBRI terletak di tengah kota bangkok, merupakan embassy yang paling strategis di Bangkok. Ini semua berkat kekuatan soekarno pada zaman dahulu, bangsa lain termasuk thailand sangat respect kepadanya. Berita terakhir mengatakan bahwa KBRI ditawarkan untuk pindah di pinggiran kota bangkok dan diberi lahan 4 kali lebih luas dari yang sekarang, akan tetapi KBRI menolak hal ini dan tetap bertahan di lokasi yang dulu. 

Tidak mau rugi, kami langsung mengambil inisiatif untuk jalan-jalan, maklum banyak mall yang dekat dengan KBRI. Mulai dari Platinum Fashion Shop, Paragon Shopping Center, Central World dan Pratunam Market. Semua tempat ini sangat besar, minimal sebesar amplas di jogja. 

Perjalanan menuju Central World, gadis yang disebelah kiri adalah buddy kami.

Traffic near Central World.
Ngeksis di depan Central World

Ngeksis part 2. hehehe

Tempat Ibadah para Budhist

 Kami pergi ke central world, mall ini gedenya minta ampun. Atau mungkin aku yang udik karna selama ini belum pernah ke mall ibu kota. Kalau masalah harga ya 11-12 dengan mall di jogja. Beberapa memang berbeda harga ada yang lebih mahal ada yang lebih murah, tapi tetap saja ini mall,  bukan tempatnya mahasiswa untuk nongkrong dan belanja. Kecuali ada diskon hahaha.

Sepulangnya dari mall kami pergi mencari makan untuk berbuka, kami diantar buddy kami ke salah satu kantin di RMUTT yang menyediakan makanan halal. Dari obrolan singkat kami dengan si penjual, ternyata ibunya islam, dan dia hanya menjual makanan HALAL.

Kantin 10, makanan HALAL

Pahlawan yang mempertahankan makanan HALAL

Join Project RMUTT, explore bangkok

23 July 2014, hari ini merupakan hari ketiga saya merantau di negeri orang. Kegiatan hari ini adalah melaporkan diri ke KBRI di Thailand. Untuk apa?, hal ini diperlukan untuk mendata kembali siapa saja warga negara indonesia yang menetap di Thailand. KBRI perwakilan utama Indonesia di sebuah negara asing yang memiliki hubungan diplomatik dengan indonesia.  Lapor diri bertujuan disamping untuk mendata keberadaan para WNI di negara akreditasi, juga untuk dapat diberikannya bantuan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti hilangnya paspor atau travel document. Perwakilan Republik Indonesia tidak akan dapat memberikan bantuan atau melakukan penggantian paspor / travel document seketika, bila Perwakilan tidak mempunyai data diri yang bersangkutan.

Kami memulai perjalanan pukul 8 pagi waktu setempat (waktu sama dengan WIB). Kami berangkat ditemani 2 dosen saya dari UII yaitu Mr Hendrik dan Mr Teduh dengan menggunakan sebuah mobil univ. Kami sampai di KBRI pukul 9 kemudian mobil yang mengantar kami langsung pulang sehingga kami harus berpetualang ketika pulang, alih-alih ternyata dosen kami sengaja menyuruh supir kami pulang agar kami dapat belajar menggunakan angkutan umum disini. 


KBRI Bangkok


Pengamanan di gedung KBRI sangat ketat, jujur baru pertama kali masuk gedung yang penuh pengamanan seperti difilm-film, hehehe. Begitu masuk sudah disambut dengan CCTV, sampai di dalam pintu pertama kami disambut dengan orang thailand yang bisa bahasa Indonesia. Disini terjadi tanya jawab singkat mengenaik identitas kita dan tujuan kita datang kesini. Setelah mengetahui identitas kita, ia akan menghubungin bagian dalam gedung untuk meminta persetujuan, jika disetujui maka kita akan diberikan id card. Untuk membuka pintu kedua dibutuhkan sidik jari orang-orang tertentu, setelah kami diberikan id maka ia akan membukakan pintu yang kedua. Setelah itu kami masuk kedalam suatu ruang yang dijaga oleh seorang tentara bersenjata penuh, walaupun kami hanya lewat di depannya tapi rasa takut masih saja ada. Setelah melewati ruang ini barulah kami memasuki area halaman gedung KBRI. Tidak berhenti sampai disitu, tak jauh dari gedung itu terdapat sejenis perangkap ban, perangkap ini akan menancap pada ban mobil yang masuk melalui jalur yang salah.

Sampai di dalam gedung KBRI kami disambut oleh seorang yang sangat cantik, selain cantik ia memiliki bahasa inggris yang sangat fasih dan halus, ok ia adalah orang yang memiliki bahasa inggris paling fasih yang pernah aku temuin. Rasanya ingin melihat dia bicara lagi-lagi dan lagi,  wuh tidak salah gedung ini dilapisi pengamanan yang berlapis (ngawur). Kamipun langsung meminta izin untuk bertemu dengan pak Yunardi, ia adalah duta indonesia yang khusus menangani pelajar Indonesia di Thailand. Pengamanan tak berhenti sampai disini, banyak CCTV yang mengintai kami selama perjalanan dari meja resepsionis ke ruang pak Yunardi. Sesampai di dalam kami memulai dialog ringan dengan beliau, setelah berbincang-bincang kami segera melakukan lapor diri. Sayangnya petugas imigrasi yang seharusnya mengurus visa kami sedang tidak berada ditempat, sehingga kami harus meninggalkan passport kami dan kembali lagi esok hari. Setelah melakukan lapor diri kami pergi keluar dengan melalui jalur pengamanan yang kami masuki pada saat masuk.

Setelah keluar dari gedung KBRI kami pergi ke salah satu tempat penjualan elektronik terbesar di bangkok. Disini kami belajar bagaimana memesan barang dalam bahasa inggris dan beradaptasi dengan bahasa inggris yang terkadang tidak terlalu baik. Alhasil kami hanya membeli satu set obeng untuk persiapan penelitian kami. 

Disini sebagian besar orang masih sabar untuk berjalan kaki atau menunggu angkutan umum. Sebagai pendatang yang tidak memiliki kendaraan pribadi kami terpaksa berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum. Meskipun jarak yang ditempuh lumayan jauh tapi orang tetap mau berjalan kaki.
Suasana jalan di Bangkok

Pedagang kaki lima di Bangkok

Jembatan Layang

Di kota ini orang tidak menyebrang sembarangan, untuk menyebrang jalan mereka akan mencari jembatan atau zebra cross terdekat. Seharian ini  saya belum pernah melihat ada seorangpun yang menyebrang selain melewati jembatan atau zebracross.



Taxi Roda tiga
Taxi Bajaj
Kalau di Indonesia kendaraan tersebut disebut bajaj, kalau disini tetap dibilang taxi, bahkan tukang ojek juga disebut taxi. Mungkin semua kendaraan yang mengantar langsung ketujuan disebut taxi kali ya, hehehe.
Bis
Disini bis memiliki nomor tujuannya masing-masing, misalnya bis diatas memiliki nomor 113, nah nomor ini nantinya akan menentukan ke rute mana ia akan pergi. Nah sebelum naik bis ini ada baiknya kita bertanya dengan orang setempat mengenai nomor bis yang harus kita naiki. Harga bis ini relatif murah, hanya 10 bath atau Rp 3000, yah harga menentukan kualitas pelayanan. Di setiap pintu pada bis ini disediakan sebuah bel, bagi penumpang yang ingin berhenti tinggal menekan tombol bel  yang disediakan.

Pak Teduh dan Pak Hendrik
Escalator datar

Kami berhenti di MBK, salah satu mall di Bangkok. Sama saja seperti mall lainnya, hanya saja mall ini memiliki beberapa fasilitas dan tema yang unik. Di awali dengan escalator datar, metal detector dan beberapa tema unik lainnya. Mall ini sangat luas dan tinggi, yah mungkin karena kami puasa dan baru berjalan jauh jadi kami tidak mampu untuk mengelilingi seluruh tempat. Disini tempat sholat hanya ada satu dan tempatnya agak sedikit tersembunyi, kami sempat kebingungan untuk mencarinya, setelah bertanya beberapa kali baru kami dapat menemukan posisi musholanya. Untuk masalah harga mall ini 11-12 dengan mall di Jogja, yah bagaimanapun ini tetap mall, bukan tempatnya mencari barang murah, hehehe.
Lelah berkeliling MBK kami pergi ke skytrain. Skytrain adalah sejenis kereta api yang memiliki jalurnya sendiri. Nah disebut skytrain karena jalurnya berada di atas jembatan dan sering kali menjadi jalur yang paling tinggi di Bangkok. Harga skytrain relatif murah 22 bath atau Rp 8000 untuk setiap perjalanannya, kereta ini sangat cepat dan mewah, bisa dibandingkan dengan kereta eksekutif di Indonesia. Di kereta ini penumpang tidak diperbolehkan makan dan minum, hal ini mungkin untuk menjaga kebersihan kereta. 
Sekitar MBK
Infront Of MBK
Panorama di depan MBK

Jalur SkyTrain

Kami melakukan perjalanan dari national stadium sampai ke Victory Monument. Kami diharuskan pindah kereta dan merubah jalur kereta ke arah Victory Monument.

Loket pembelian Tiket


Memesan tiket

Pembelian tiket dilakukan secara elektronik, dengan cara ini pemesanan tiket dapat lebih cepat dilakukan. Hanya saja uang yang sudah tidak rapi terkadang tidak diterima mesin ini.


Loket Masuk Kekereta
Kereta SkyTrain
SkyTrain saat sepi

SkyTrain saat penuh
Me and our teacher

And last, let us take a selfie
Nah ini dia Victory Monument, lebih mirip ke simpang lima Semarang, hehehe. Katanya sih disini pusat pemberhentian semua alat transportasi. Mulai dari sini kami harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ven (orang thai membacanya wen). Nah disini masalah dimulai, tak satupun petugas penjual tiket yang mengerti bahasa inggris, dosen kami juga sempat bingung melihatnya, sistem baru ini menyulitkan pendatang untuk menggunakan jasanya. Bahkan stop, wait, dan tell saja mereka tidak mengerti. Kami duduk pasrah sampai salah seorang petugas penjual tiket menghampiri kami dan menyuruh kami naik dengan menggunakan bahasa universal, bahasa tubuh.

Victory Monument
Tempat mengunggu ven

Loket penjualan tiket

Setelah sampai di asrama kami langsung tidur karena mempersiapkan welcoming party yang akan diadakan malam harinya. 


Malam harinya kami dibawa ke restoran yang cukup terkenal di bangkok, makanannya luar biasa enak,  mereka memiliki menu ayam dan seafood terbaik. Perut kami hampir meledak karna dipaksa memakan beraneka ragam makanan, walaupun tanpa dipaksa kami akan memakan semuanya. hahaha

Join Project RMUTT part 1

Faculty of Science and Technology RMUTT
22 july 2014, Hari ini hari pertama kami di Bangkok. Jadwal hari ini adalah serah terima mahasiswa dan perkenalan dengan beberapa prof (dalam bahasa thai disebut acan) yang akan membimbing kami 2 bulan kedepan. 
Kata sambutan dari RMUTT

Paginya kami berkumpul di Hall fakultas, setelah dekannya datang kami langsung masuk ke ruang sidang untuk melakukan serah terima mahasiswa. Yah sambutan hangat kepada kami dan juga ada kesan dan pesan dari fai selaku delegasi RMUTT pada join project di UII.
Hall Fakultas ilmu dan komputer
Serah terima Mahasiswa dari dosen UII ke Prof RMUTT
Setelah melakukan serah terima kami berkeliling fakultas dan melihat beberapa laboratorium yang mungkin akan kami gunakan. 
Halaman Tengah 
Tampak atas Fakultas ilmu dan teknologi
Fakultas ini terdiri dari 9 lantai, lantai 8 khusus computer science atau bahasa indonesianya ilmu komputer. Nah berhubung lantai 8 itu jauh maka mahasiswa turun naik dengan menggunakan lift. Katanya beberapa lantai dimiliki oleh jurusan tertentu misal lantai 8 computer science, lantai 9 computer engineering dan lain sebagainya. 
Dilantai 8 lah kami akan melakukan tugas penelitian kami. Dan salah satu ruang kerja kami sudah terdapat beberapa kursi roda yang telah selesai dikerjakan. Kursi roda inilah project kami 2 bulan kedepan, tugas kami adalah membuat sebuah program android yang dapat mengendalikan kursi roda ini. Baik dengan menggunakan tombol, sensor gyro dan perintah suara.
Kursi Roda elektronik
Halaman Tengah

Halaman tengah dengan suasana tersendiri, mungkin ini dibuat agar mahasiswa (dalam bahasa thailand disebut bandit) lebih betah tinggal di Kampus. Memiliki corak warna seperti di TK, mungkin biar mahasiswanya tidak cepat bosan. Setau saya di perusahaan google dan microsoft juga menggunakan warna seperti ini pada setiap kantornya. Cara ini dinilai efektif untuk mengurangi kejenuhan.
Fakultas Liberal Arts
Panorama sebelah fakultas
Danau Buatan
Ini merupakan danau buatan, luasnya bisa jadi lebih dari 6x lapangan sepak bola. Danau ini dibuat dalam rangka menanggulangi banjir, mereka membuat aliran sungai kecil yang menuju danau ini. Diharapkan ketika hujan besar universitas tidak akan banjir. Selain sebagai tempat untuk membendung air, danau ini juga sering digunakan untuk bersantai, pemandangan disekitar danau ini juga sangat bagus. Pohon-pohon tertata rapi dan terlihat beberapa model sedang melakukan sesi foto disana.
Warnet Gratis
Semua mahasiswa  dapat mengakses gratis ditempat ini, suasana disini sangat nyaman dan tenang. Ditambah lagi kecepatan internet yang sangat baik, kemarin sempat ngecek sampai 5MBps. Kalo ini di UII pasti sudah nggak ada komputer yang nganggur.

Tempat Nonton

Di tempat ini mahasiswa dapat menonton film bioskop tanpa perlu membayar sedikitpun. Sebagai konsekuensinya mereka harus menonton film yang sudah tayang di box office beberapa minggu yang lalu. Tentu saja pihak universitas harus menghargai film box office yang resmi. Di tempat ini bandit (siswa) tinggal menunjukkan KTM kemudian memilih film yang hendak ia tonton. Saya melihat 2-3 buku binder yang memperlihatkan judul buku yang mereka miliki.

Di atas tempat ini adalah ruang perpustakaan, masalahnya adalah sebagian besar buku ditulis dengan aksara thailand. Dari 5 buku yang saya ambil secara random, semua buku menggunakan bahasa thailand. Padahal dari judulnya terlihat seperti menggunakan bahasa inggris.
Uang amal
Begini cara mereka melakukan perbuatan amal, salah seorang tourguide kami mengatakan setiap orang yang ingin menyumbang harus mengikat uang yang ia punya di salah satu lidi, kemudian meletakkannya pada tempat ini. Uang yang telah terkumpul akan digunakan dalam kegiatan amal atau akan disumbangakan ke orang yang tidak mampu
Mini Bus Tampak Depan

Mini Bus Tampak Belakang
Disini kebanyakan siswa bepergian menggunakan bus atau jalan kaki. Nah karena universitas ini sangat luas maka mahasiswa sebagian besar menggunakan mini bus ini untuk pergi dari satu tempat ketempat lain. Disini disediakan 10 unit minibus sehingga mahasiswa tidak perlu menunggu terlalu lama ketika ingin menaiki bus ini. Kelemahannya adalah semua supir tidak ada yang mengerti bahasa inggris, jadi kita sebagai orang asing harus bisa ngomong thailand terlebih dahulu, atau setidaknya memiliki catatan alamat yang akan diberikan kepada si pak supir.
Seharian kami berkeliling kampus, karena panas, puasa dan memang jarak yang cukup jauh jadi kami memutuskan untuk tidak pergi keluar kampus. Secara general memang kampus ini memiliki fasilitas yang sangat baik, jujur aku belum pernah menemukan fasilitas kampus sebaik ini. Akan tetapi di kampus ini masih minim orang yang bisa berbahasa inggris sehingga sulit untuk beradaptasi dan berbaur dengan mereka.
Malam harinya kami mendapatkan undangan makan malam disalah satu restaurant terkenal di bangkok. Makanannya sangat enak, memang terasa aneh dilidah ku tapi rasanya buat kamu mau lagi-lagi dan lagi. Makanan disini rasanya sangat asam, tapi asam tersebut tidak kecut seperti di indonesia, paduan bumbunya memang sangat mengikat lidah para penikmatnya. Kami bebas memilih makanan apapun yang kami mau, dan kami makan makanan terbaik tanpa dicampur nasi, you could say lauk pakai banyak lauk. Setelah makan kami pergi ke department store untuk membeli perlengkapan sehari-hari. Jam 10 kami pulang ke asrama. 
To Be Continued…

Join Project RMUTT

Baik dimulai dari keberangkatan pada tanggal 21 july 2014. Ini merupakan perjalanan yang telah lama kami impikan, kami mulai dikabari untuk mempersiapkan diri mulai dari 2 tahun yang lalu. Yah walaupun keberangkatan ini masih belum pasti tapi kami sudah diminta untuk mempersiapkan diri. Masing-masing dari kami mempersiapkan diri dengan sangat baik, baik secara mental, bahasa dan kemampuan akademik. Alhasil kami pun terpilih menjadi delegasi Informatika UII dalam program join research di Computer Science RMUTT. Dalam program ini kami akan membuat sebuah kursi roda yang akan dikendalikan dengan perintah suara dari Android. (ANDROID : Salah satu Operating system pada smartphone).
Kami memulai perjalanan dari bandara Adi Sujcipto Jogja jam 12 dan sampai di Soekarno-Hatta Jakarta pada jam 1 siang. Perjalanan ini menggunakan pesawat airUsia, dan penerbangan kali ini merupakan pengalaman penerbangan yang menakutkan. Mungkin karena image pesawat akhir-akhir ini jelek sehingga berfikiran yang tidak-tidak mengenai penerbangan kami. Atau mungkin memang penerbangan kali ini yang jelek. Who knows…
Tapi berdasarkan pengalaman saya yang sudah beberapa kali naik pesawat (*sombongModeOn), memang penerbangan kali ini merupakan penerbangan terburuk yang pernah saya alami. Bagaimana tidak, saat berangkat saja mesin pesawat terdengar seolah berkarat. Sesaat lepas landas pesawat naik dengan sangat tajam, ok aku tau karena perutku merasakan ngilu saat pesawat mulai terbang. Entah karena mindset mengenai penerbangan sedang jelek atau memang pesawat kali ini yang kurang baik. Selama penerbangan juga pesawat bergetar lumayan kuat. Padahal penerbangan yang kami gunakan sudah menggunakan teknologi airbuss yang katanya sudah lebih aerodinamis dan getaran pesawat tidak lagi terasa. Faktanya, pesawat tetap saja bergetar dan getaran tersebut terasa kasar padahal cuaca saat itu sangat cerah.
Berhubung saya duduk di aisle jadi saya lebih memilih tidur dari pada mencemaskan penerbangan. Sampailah saatnya pesawat mendarat, aku dibangunkan oleh pramugara untuk bersiap-siap. Ok, kembali pesawat turun dengan drastis, perutku kembali bergejolak. Dan benar saja pesawat mendarat seperti terhempas, untung saja bannya masih mampu menopang pesawat. Aku sudah berfantasi liar, “bagaimana kalau bannya tidak mampu menopang dan pesawat kami tergelincir di runway, yah setidaknya kami tidak jatuh ditempat berbahaya”, sekilas otakku berfantasi cepat. Dan saat parkir, mesin pesawat kembali bersuara aneh. Yup kali ini aku sudah masa bodoh, yang penting aku selamat. hahaha
Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta kami langsung check-in untuk keberangkatan berikutnya. Saya baru tau bahwa setiap penerbangan internasional agak merepotkan. Penjagaan jauh lebih ketat dibanding penerbangan domestik. Disini ada pemeriksaan passport oleh pihak imigrasi, setelah itu scan barang bawaan dan anehnya ikat pinggang harus dilepas. Dan pembawaan makanan dan minuman sangat dibatasi. Padahal hari itu kami puasa dan harus buka di pesawat, sehingga kami memutuskan untuk membawa minuman sendiri. Nah di pemeriksaan barang inilah teman saya terkena kasus(*lebay). Iya tertangkap membawa 2 kaleng minuman, dan pihak bandara memintanya membongkar tas dan mengeluarkan kedua kaleng tersebut.
Setelah pemeriksaan barang kami langsung memasukki ruang tunggu. Dan karena kami transit sampai jam 5 sedangkan saat itu jam 2 jadi ruang tunggu pesawat sangatlah sepi. Tapi mendekati jam 4 suasana ruang tunggu mulai tidak karuan.

suasana ruang tunggu

Yups, it’s time to go, jam 4 lewat 15 menit kami sudah dipanggil. Usai sudah penantian transit kami *lebay. Ini penerbangan international kami yang pertama kali. Walaupun malu, tapi kami tetap mengabadikan moment ini. Karna memang banyak orang yang mengambil gambar disekitar pesawat jadi kami semakin percaya diri.

but first let me take a picture
Setelah itu kami memasukki pesawat, dan baru tau kalo penerbangan internasional di kabinnya dikasi alat sejenis blower, entah apa gunanya, atau mungkin agar terlihat keren saja.
dilangit-langit ada asap nggak jelas
Perjalanan menuju Bangkok memakan waktu sekitar 3 jam 15 menit. Kali ini aku duduk di dekat jendela, what a great opportunities to see Bangkok from above. Yup, pantas saja kami cepat disuruh masuk pesawat, ternyata pada saat mau terbang malah pesawatnya mengantri lama. Terlihat ada 4-5 pesawat yang telah antri di depan kami terlebih dahulu. Ok sabar aja..
Akhirnya jam buka tiba, si gelis (pramugari) memberitaukan kepada kami sudah saatnya berbuka puasa. Tapi saat melihat menu di pesawat aduh mak, mending abang puasa sampai jam 8 aja deh. Nunggu disana baru makan, untung ada bawa milo sendiri yang alhamdulillah lolos dari pemeriksaan imigrasi. Tapi untuk makan ya perlu bersabar 2 jam lagi.
Sudah saatnya mempersiapkan diri untuk mendarat. Yup aku tertidur dan ketika dibangunkan, wow what an amazing view we got. Kami disambut dengan permadani lampu diseluruh kota bangkok. Dari atas terlihat bahwa kota ini sangat luas sekali, yah setidaknya jauh lebih luas dibandingkan dengan jogja. Terlihat juga kalau kota ini memiliki manajemen trafik yang sangat baik karena tidak terlihat adanya kemacetan. Sekilas terlihat tata kota mereka sangat baik. Maaf kamera tidak diizinkan di dalam pesawat. Jadi gambar dibawah saya ambil dari google.
bangkok at night
Setelah turun dari bandara aku langsung mencari signal, dan alhamdulillah kartu sim cardku masih bisa digunakan untuk sms walaupun signalnya ROAMING dan biaya sangat MAHAL. Setidaknya aku bisa mengabari kondisiku kepada orang tua.
Sampai dibandara kembali ada pengecekkan passport oleh pihak imigrasi setempat. Salah seorang petugas menanyakan alamat tinggal saya di Bangkok, tentu saja saya tidak tau, yang saya tau saya akan tinggal di asrama universitas di RMUTT. Setelah bernegosiasi dengan dosen kami, imigrasi pun mempersilahkan kami untuk lewat.
Begitu keluar bandara teman dan kenalan lama telah menunggu kami, ya mereka adalah phor yang merupakan delegasi RMUTT ke UII 3 bulan yang lalu, dan beberapa professor yang 3 bulan lalu mengantar phor ke UII. Tapi sebelum kami berangkat dengan mereka kami harus mengambil uang bath terlebih dahulu. Yah aku langsung menukarkan uang 10.000 bath atau senilai dengan Rp. 3.769.847 dan dikenakan biaya penarikan Rp 180.000.
Setelah beberapa sapaan hangat akhirnya waktunya makan. This is what i really need, i’m so hungry this time. We can’t say this is as jetlag because the timezone between jogja and bangkok are same. Baiknya mereka, kami diajak ke KFC dan bebas memilih apa aja yang kami inginkan.  Padahal kami beli untuk sahur sekalian.
Akhirnya kami tiba di Asrama, ini lebih tepat disebut sebagai Apartment. Ada TV, AC, Shower, Kompor Gas dan kulkas. Bahkan lebih nyaman disini dibandingkan kosku di Jogja. Dan beruntungnya kami tidak perlu membayar semua ini, kecuali listrik dan air yang katanya disini sangat murah.
Asrama

Tesaiga

Pingin cerita nih tentang warna masa lalu yang begitu dekat dan indah dalam ingatan. Warna-warna ini begitu hangat dan merupakan salah satu saksi hidup sejarah terpenting dalam hidupku. Mereka adalah teman dan sahabat-sahabat SMA ku. Mereka adalah teman sekelas di XI – XII IPA 3, atau kami menyebutnya TESAIGA (TwElve SAIns tiGA) *maksaBangetYak. Kelas ini begitu spesial bagiku, ya wajar saja karna 2 tahun aku bersama mereka. 
Aku adalah saksi hidup bagaimana kelas ini telah melahirkan orang-orang yang sangat berpengaruh pada tempatnya masing-masing. Kelas ini begitu lengkap, mulai dari si jenius, si pemimpin, si penyanyi, si pembalap, si hacker, si batu, si dingin, sampai si~alan juga ada. Setiap orang kami memiliki keunikannya tersendiri, hal inilah yang membuat kelas ini begitu berwarna. Meskipun terkadang sangat sulit untuk menyatukan suara.
Kalau masalah peringkat paralel, kelas ku ini merata disemua lapisan peringkat, mulai peringkat atas, tengah dan bawah (*jangan ditanya lagi). Walaupun terkenal nakal kelas kami tetap tekun dalam belajar, bahkan sering kali kami belajar bareng hingga jam 11 malam hanya demi ulangan harian. Tak ada kata pelit untuk berbagi, yang sudah bisa mengajari yang belum bisa, sehingga tercipta lingkungan yang saling mendukung dalam hal belajar. Nakal sih jangan ditanya, bisa dibilang kami merupakan kelas paling nakal di IPA, tapi kenakalan tersebut masih memegang norma dan masih dalam batas kewajaran. 
Saat perpisahan kami berjanji akan berkumpul kembali 5 tahun lagi dan kami akan membuktikan bahwa masing-masing dari kami telah berhasil menjadi orang yang berguna. Lima tahun ini akan kami jadikan waktu untuk menempa diri, bersaing secara tidak langsung, berlomba-lomba untuk mencapai puncak kesuksesan. “Selamat jalan sahabat, selamat berjuang pada jalannya masing-masing, sampai jumpa 5 tahun lagi di puncak kesuksesan”, kira-kira begitulah janji kami seusai perpisahan sekolah. Reuni 5 tahun adalah target kami bersama dalam mewujudkan mimpi-mimpi kami. Ini baru memasuki tahun ketiga, dan sinar mereka sudah mulai terlihat. Pengaruh mereka sangat besar, dan aku yakin cahaya mereka akan semakin berkilau seiring berjalanya waktu.

Lessons from Google Science Fair

Hi today i’m gonna share my problems here.

I’ve worked in robotic club for 2 years and passed many failed in my experiments. Started from my research in measuring object distance using stereo vision method. I’ve took thousands samples for that research, it was tiring and vary boring but my senior kept forcing me to finish the research. I did it in 3 months, and the result is not as accurate as we expected. But when i look at the other side i realized that i should have be proud of for what i’ve done, i’m the one who accomplished a research in the first semester. Even it’s just a failed experiments, we keep publish them on national journal because my lecturer said that failed is also a lesson.

The second failed is when i tried to make fire fighter robot. I did it in second semester, we took six months to make the robot. The robot was able to find the fire in labirin. It also able to extinguished the fire using its fan.We lost at the competition because we can’t made an efficient algorithm and the other team could extinguished the fire faster than us. I thought i was failed just because i can’t won the competition.

The third failed is when i tried to make robot humanoid soccer in third and fourth semester. And i’ve wrote them in previous article. I thought i was failed to. I thought it wasn’t fair because i sacrificed many things on it and can’t win the competition.

And this year is the last year for me to join the competition. I’ve frustrated of working on it, many things didn’t go well and we don’t know why. I am working with my team which is consist of 7 people. Three people from mechanical engineering, two people from  electrical engineering and 2 from informatics engineering. Each person have their own capabilities, but we still can’t fix our problems.

Yesterday, i found a new channels in youtube, it’s about google science fair. There were many young scientist who invented a great technology. I wonder how can they invent such as technology in their age. I was curious and watched the event from the opening ceremony, there was something interesting on the opening ceremony. It was a great greeting from Susan Wojcicki the senior vice president at google and science anthisiast.

“No matter who wins, i know all of you will go on to do amazing things. And i hope you continue your love of science, and i hope you continue thinking big, and i hope you continue your ambitions, and i hope you keep trying for things go well and things that don’t go well. That’s part of being a scientist, is trying to figure out what worked and didn’t work and then making it better the next time.”

 I love that quotes, i never knew that failed is a part of being scientist. I remember that Thomas Alva Edison were failed for thousands times and it took years for him to make the first lamp. How can i be a scientist if a little pressure will knock me down. They tried for years, i just tried for months and i wanna give it up?. I’ve learned that being scientist is not about winning competition, because competition is just a reference point so we can compete to each other.

I was continued watching the next video, it’s a video from young scientist from canada who invent a flashlight using energy from human heat. Her name is Ann Makosinski and she is 16 years old, can you imagine how could a little girl make such a great invention. It seems crazy but there she is, the one who harvest human heat for flashlight energy. I kept watching the video and found some great statement from her:

“I think the biggest mistake people make about kids who enter science fairs, is that we are top of the class, straight A students. I am not the genius nerd some people expect me to be!. I think the only difference is that we’re always questioning how things work.”

And the end of the video she said:

“I’ve learned that we shouldn’t be scared by how crazy our ideas seem. Harvesting human heat? I thought that only happened in the movies!”

 Some people said that the people who enter robotics club is a freak genius, sometimes i’m proud of it but sometimes i really want to say that robotics is not a set of genius people. We just have a spirit to make our dreams real. We have bravery to think big, to think beyond what other think. 

Ever since i was a kid, i’ve been interested in robotics, tried to fix every toys and made some modification on them even though it will be broken in the end. I thought working on robotics is only a dream, but i really tried to make it real even i didn’t know what to do. I remember when some of my friends said that  i’m crazy, but i keep building my dreams and now i realize that we shouldn’t be scared by how crazy our ideas seem.

I continued to watch the next video, and it was came from young scientist from istanbul turkey. Her name is elif bilgin 16 years old, she invented a bio plastic from banana’s peels. She did the research for 2 years. Can you imagine 14 years old girl took a research for next 2 years?. She was willingly to leave their comfort zone. It’s surely a great decision for her and the result is much more than excellent. In the video she said that:

“I actualy quits for a while in the middle of the first year, for like three months and then i said well i came so far why i have to stop now. My prinsip is allowed me to discover something really new.”

“People should never give up on their goals, i didn’t and i discovered something brand new and this really suprised me.”

It’s not only you who ever feel the failure,  everyone who had a great dream will fall many times. They just can handled it, and making it better the next time. The question is, can we manage our spirits and accept the failure?, because without spirit we will never gain our goals, and without failure we will never know what success really means.

Scores Are Not Everythings

I used to say that scores ARE NOT the everythings, but the fact say that everythings NEED the scores. am i wrong to say that scores aren’t the everythings? because according to me scoresare just a formality of our education. so, why is the everybody got stress when they got a bad score, when unfortunately the subject have not any relation for our carrier.

It seems like everybody say that you need to have a good  score then have a good skill. and the question is are you sure that your  score will help you to through this life? i guess not. In the fact you just need the  scores when you want to get a job, after you get the job you will not need the  scores anymore.

Maybe this is the illustration of our education, you study – you take the test – you pass it – you forget what you learnt and smile you are an engineer. is this what you want? you waste your time in school just to pass the test, graduate from the school and  get the certificate and  the title, and after all you take a good job without any skill in your mind. its sounds fools but many people take this way. they just waste their time to take the certificate and the title. And when they get the job, they should learn from the begining, because they know nothing about their carrer. And it means the instance have add a new incompetent person. How can this country will be better if the worker haven’t a good skill.

Maybe some people said that their  scores will make another people knows them as a smart person. But i’ve learn form my friends in the senior high school. He is very genious and he was smart in all of the subject, but he never see the  scores as the first priority, but the quality is the first. Maybe he have no very high  scores , but he have very high quality, he have skill in every subject and absolutely he have something that i guess its much better than a high  scores . Maybe he is not the first rank, but everybody know he is the best. So i think the oppinion that  score will make your name femouse is not true.

Many people said the  scores will make your future brighter, and once again i say thats not true. There are so many engineer are unemploye, there are so many people who study hard for their education but haven’t any job. And can you see that education is not the first element to get the succesfull, did you see there are many people who had low education but they can handle higher position in the office than the people who had high education.