Being Different

Being Different

Sometimes people’s voices confuse me. Some tell me to be authentic. Some others tell me to be “normal” and “fit” into society. While adjusting to both sides is not as easy as a lot of people say it is. Sometimes attempting to please our surroundings, being good at career, maintaining relationships, and all while trying to be authentic feels like a battle. Sometimes it makes me worry whether I am fit enough to my surrounding. The attire I wore, the words I chose, the idea I expressed, the things I did. It was all because I was afraid to be rejected.

I remember one day my friends and I had a dinner with one of my favorite lecturers in school. We talked about a lot of things, but one thing that I can never forget was about being different.

He gave us an interesting case:

“Suppose we have an aquarium with 100 fish in it. Ninety-nine of them are one-eyed, and only one fish has two eyes. In this context, which side is normal? Which side do you think will be oppressed to be ‘normal’?” Read more

Too Good To Be True

Too Good To Be True

We all have that experience, when things are so good and it is hard to believe. For example, you got an SMS about winning a million dollar door prize from unknown number. Or you find something in online store, it claims as the lowest price in the world for great quality while actually it’s only a fake product. Or, someone that out of the blue treats you so nice, while actually they are just buttering you up.

There are a lot of similar experience happened throughout our lives. Well experience makes us learn. And after several times trapped in that kind of illusive situation, I slowly realize that good always follows bad, and vice versa. Just like Yin Yang, light and darkness always complete one another. So if there is an extreme goodness, something will surely go wrong.

Now I have a very strong intuition for things that smells very fishy. And every time I face with similar position, I’d rather have a second-guess for the worst thing that probably happened. Well, even dawn comes after the darkest. So I decided to only believe in effort and reputation. If I want something great, then work for it.

Read more

Seleksi PPAN – Final

Ditengah lembutnya terpaan angin padang rumput, tiba-tiba hpku berdering. Dering pengingat akan pengumuman kandidat yang lolos ketahap final seleksi PPAN.

Kebetulan hari itu kelasku sedang kosong sehingga aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bersantai di runway bandara di kotaku. Memang kegiatan beberapa minggu belakangan membuat waktu me-time ku berkurang. Biasanya aku habiskan waktu seperti ini dengan membaca novel atau menulis cerita.

Serentak degub jantung semakin cepat ketika membaca pengingat yang ku pasang. Novel ku tutup dan simpan dalam tas kecilku. Jemari kemudian berlomba untuk menekan tuts keyboard pada layar tablet, mengetik alamat website PCMI Jogja dimana pengumuman akan dipublish.

Halaman web terbuka perlahan seiring mata bergerilya mencari teks pengumuman finalis. Hei my name’s on the list!. Segera aku mengecup tabletku sambil mengucap Alhamdulilah. Aku merasa mempiku sudah di depan mata. Hanya butuh kemauan lebih untuk terus berjuang menjadikan impian itu menjadi nyata. Segera aku screenshot pengumuman itu dan ku kirim ke keluargaku. Tak lupa aku kabari beberapa kerabat dekatku. Hari itu senyum ku mekar hingga aku tidur, atau bahkan bisa jadi, tidurku pun tetap tersenyum saking senang nya.

—–***—–

Beberapa minggu kemudian proses seleksi final diselenggarakan. Seleksi terakhir ini dilakukan dengan mekanisme karantina selama 3 hari 2 malam. Seluruh kegiatan didesain dengan padat untuk melihat kedisiplinan pesertanya, selain itu tes yang beraneka ragam memaksa seluruh kandidat mengeluarkan kemampuan terbaiknya, bahkan untuk ranah yang tidak mereka mengerti.

Seleksi dibuka dengan penilaian public speaking selama 2 menit. Topic yang diberikan merupakan isu internasional dan berbeda untuk setiap orang nya. Jujur aku sendiri tidak mengerti mengenai topic yang aku dapatkan. Yang aku tampilkan adalah topik lain yang mungkin mirip dengan kasusku. Yah setidaknya mereka dapat menilai usaha yang aku berikan meskipun topic melenceng kesegala arah.

—–***—–

Program selanjutnya adalah skill individu. Peserta kembali diminta untuk menampilkan pertunjukan individu selama 20 menit. Kali ini aku tak tampil tanpa persiapan. Aku telah melakukan latihan beberapa tarian daerah dari berbagai provinsi melalui tutorial youtube. Tidak lupa aku menghafalkan beberapa lagu daerah yang mudah dihafalkan jika ternyata waktu yang dibutuhkan tarian tidak mencukupi. Lebih dari itu, aku juga meminjam baju khas daerahku di Asrama putra daerah.

Waktu tampilku pun tiba. Aku tak sempat menghitung seluruh panitia di ruangan. Yang aku ingat ada 3 orang yang aku perhatikan terus menulis selama penampilanku sambil mencatat sesuatu. Sedangkan panitia yang lain hanya memperhatikan sambil memberikan instruksi skill individu.

Ku awali penampilanku dengan menarikan tarian nusantara. Sama seperti saat seleksi wawancara, baru sebentar aku menari dan musikpun dimatikan. Bedanya, kali ini aku ditantang dengan spontan menarikan tarian sesuai irama musik yang dipilih oleh dewan juri. Aku cukup kesulitan menyesuaikan irama lagu dengan tarian, mungkin ini akibat aku baru melatih gerakan beberapa hari sebelum seleksi. Tugas selanjutnya adalah menyanyikan lagu daerah, kubawakan lagu Batu belah yang telah kuhafalkan saat menunggu antrian tampil. Setelah itu aku diminta melakukan story telling mengenai legenda dibalik lagu tersebut. Setelah story telling, kemampuan individu yang dites adalah bermain musik. Jeng jeng… Tak satupun alat musik yang bisa aku mainkan selain pianika, itupun terbatas lagu-lagu wajib untuk upacara hari senin. Alhasil, sesi ini aku lewati dengan memalukan.

—–***—–

Malam selanjutnya disebut sesi konfirmasi, pada tes kali ini kami satu persatu maju untuk menjawab pertanyaan. Bedanya tes kali ini adalah proses tanya jawab dilakukan sambil penekanan mental dari dewan juri. Pada giliranku, kuhitung ada sampai 7 dewan juri yang memperhatikan ditambah 1 dewan juri yang duduk disudut ruangan memperhatikan gerak-gerikku, yang kemudian aku fikir seorang psikolog.

Motivation

Motivation

What was your strongest reason to do something? I mean, something that crazily drives you to act or behave in a certain way. Do you still remember what was it?

Some of you might say most of the reasons are money, reward, experience, or acknowledgement. Some even say game station, food, and toys. I think there is totally nothing wrong with all of them. Sometimes I got my motivation from those reasons as well.

And sometimes people get motivation in a very mysterious way. She is “The Altair“, a girl who turns my world upside down, from unmotivated person into a man who is willing to struggle to pursue his dreams. Read more

Jum’at an di negeri orang

26 juli 2014, hari ini merupakan hari jum’at pertama kami di negeri 1000 pagoda. Pagi ini kami memutuskan untuk tidak pergi ke fakultas agar tidak ribet meminta izin ketika mau sholat jum’at. Sebenarnya nggak ribet-ribet amat sih, mereka sangat mempersilahkan kami dalam melakukan aktifitas keagamaan, hanya saja karna kami belum terlalu kenal sama mereka jadi segan untuk meminta izin keluar.

Sholat dhuhur dimulai jam setengah 1, berhubung tidak ada masjid disekitar asrama jadi mau tidak mau kami harus sholat jum’at di muslim center-nya RMUTT. Pemeluk agama muslim disini terbilang sedikit, saat kami sholat jum’at saja terhitung hanya 35 anak yang hadir dalam mushola tersebut. Yah, padahal menurut agama minimal 40 anak yang hadir dalam sholat jum’at. Tapi dari pada kami tidak sholat jum’at yah lebih baik mengikuti kebiasaan disini.

Saat pertama kali sampai ke muslim center kami rada canggung karena hanya ada mushola yang sangat kecil disini, mungkin hanya berukuran 4×5 m saja. Dari pada bingung sendiri, lantas kami mencoba menyapa mahasiswa disana, “Assalamualaikum” kataku, “Waalaikumsalam” mereka membalas. Meskipun penyebutan bahasa inggris mereka berbeda tapi pelafalan bahasa arab mereka sama seperti yang diajarkan di Indonesia.  Selanjutnya kami memperkenalkan diri kami dan meminta izin untuk mengikuti kegiatan sholat jum’at ditempat mereka. Ternyata hanya kata assalamualaikum-lah yang menyambungkan kami semua. Selanjutnya perkenalan diri kami dan izin untuk bergabung diabaikan dan hanya dibalas dengan muka bingung. Ok fine, lebih baik kami bingung dari pada membuat mereka yang bingung. Untung saja tak jauh dari situ ada seorang kakak tingkat kami di uii yang mendengar perkenalan diri kami, mendengar kami dari indonesia dia langsung berbicara dalam bahasa indonesia. Dan kami pun terselamatkan.

Saat melakukan sholat jum’at alhamdulillah hanya bahasa arablah yang familiar di telinga kami,  selebihnya hanya mereka dan tuhanlah yang mengerti. Untung saja pengalaman merantauku sudah lumayan banyak, sudah beberapa kali sholat di tempat terpencil yang semua khutbahnya dalam bahasa jawa “halus”. Jadi ini bukan kali pertama aku sholat jum’at melongo seperti ini. Alhasil tak sedikitpun khutbah yang kami mengerti. Dan kami harus bertahan mendengarkan khutbah ini untuk 2 bulan kedepan.

Oke sekian cerita pengalaman sholat jum’at pertama ku di negeri Thailand ini.

Join Project RMUTT, Explore Bangkok part II

24 Juli 2014, agenda hari ini adalah mengambil passport dan visa di KBRI. Perjalanan kali ini kami ditemani salah satu buddy kami yaitu aomsin. Alih-alih ternyata teman-teman baru kami di Bangkok khawatir akan keadaan kami, alhasil mereka menghubungi buddy kami untuk menemani kami sepanjang perjalanan. Jarak dari asrama ke KBRI cukup jauh, jika tidak macet bisa mencapai 1 jam perjalanan. Dan karena di Thailand minim orang yang bisa bahasa inggris maka mereka takut kalau kami akan tersesat di Bangkok. Yup kami tidak bisa menolak bantuan kali ini, apalagi kami masih awam dengan kota ini.

Kami berangkat ke KBRI pukul 8 pagi, pertama kami naik van dari depan gate 3 RMUTT. Van ini akan mengantarkan kami ke Victory Monument. Van adalah minibus dengan kelas eksekutif, kalo di Indonesia seperti bis travel. Harganya cukup mahal tpi tidak semahal taxi, harga setiap perjalanan adalah 50bath atau sekitar 18000 rupiah (yah memang jaraknya jauh banget sih). Enaknya naik kendaraan ini adalah cepat karena kendaraan ini berangkat melalui motorway (jalan tol) sehingga dapat meminimalisir kemacetan. Waktu tempuh dari gate 3 ke Victory Monument adalah 40 menit.

Setelah sampai di Victory Monument, kami langsung pergi ke KBRI dengan menggunakan skyTrain. Perjalanan dengan menggunakan skyTrain ini hanya membutuhkan kurang dari 1 menit perjalanan dengan melalui 2 stasiun skyTrain(sangat cepat bukan). 

Sesampainya di KBRI kami langsung mengambil passport kami dan kemudian langsung keluar lagi (Ok, datang jauh-jauh cuma untuk urusan 5 menit). Untuk informasi KBRI terletak di tengah kota bangkok, merupakan embassy yang paling strategis di Bangkok. Ini semua berkat kekuatan soekarno pada zaman dahulu, bangsa lain termasuk thailand sangat respect kepadanya. Berita terakhir mengatakan bahwa KBRI ditawarkan untuk pindah di pinggiran kota bangkok dan diberi lahan 4 kali lebih luas dari yang sekarang, akan tetapi KBRI menolak hal ini dan tetap bertahan di lokasi yang dulu. 

Tidak mau rugi, kami langsung mengambil inisiatif untuk jalan-jalan, maklum banyak mall yang dekat dengan KBRI. Mulai dari Platinum Fashion Shop, Paragon Shopping Center, Central World dan Pratunam Market. Semua tempat ini sangat besar, minimal sebesar amplas di jogja. 

Perjalanan menuju Central World, gadis yang disebelah kiri adalah buddy kami.

Traffic near Central World.
Ngeksis di depan Central World

Ngeksis part 2. hehehe

Tempat Ibadah para Budhist

 Kami pergi ke central world, mall ini gedenya minta ampun. Atau mungkin aku yang udik karna selama ini belum pernah ke mall ibu kota. Kalau masalah harga ya 11-12 dengan mall di jogja. Beberapa memang berbeda harga ada yang lebih mahal ada yang lebih murah, tapi tetap saja ini mall,  bukan tempatnya mahasiswa untuk nongkrong dan belanja. Kecuali ada diskon hahaha.

Sepulangnya dari mall kami pergi mencari makan untuk berbuka, kami diantar buddy kami ke salah satu kantin di RMUTT yang menyediakan makanan halal. Dari obrolan singkat kami dengan si penjual, ternyata ibunya islam, dan dia hanya menjual makanan HALAL.

Kantin 10, makanan HALAL

Pahlawan yang mempertahankan makanan HALAL

Join Project RMUTT, explore bangkok

23 July 2014, hari ini merupakan hari ketiga saya merantau di negeri orang. Kegiatan hari ini adalah melaporkan diri ke KBRI di Thailand. Untuk apa?, hal ini diperlukan untuk mendata kembali siapa saja warga negara indonesia yang menetap di Thailand. KBRI perwakilan utama Indonesia di sebuah negara asing yang memiliki hubungan diplomatik dengan indonesia.  Lapor diri bertujuan disamping untuk mendata keberadaan para WNI di negara akreditasi, juga untuk dapat diberikannya bantuan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti hilangnya paspor atau travel document. Perwakilan Republik Indonesia tidak akan dapat memberikan bantuan atau melakukan penggantian paspor / travel document seketika, bila Perwakilan tidak mempunyai data diri yang bersangkutan.

Kami memulai perjalanan pukul 8 pagi waktu setempat (waktu sama dengan WIB). Kami berangkat ditemani 2 dosen saya dari UII yaitu Mr Hendrik dan Mr Teduh dengan menggunakan sebuah mobil univ. Kami sampai di KBRI pukul 9 kemudian mobil yang mengantar kami langsung pulang sehingga kami harus berpetualang ketika pulang, alih-alih ternyata dosen kami sengaja menyuruh supir kami pulang agar kami dapat belajar menggunakan angkutan umum disini. 


KBRI Bangkok


Pengamanan di gedung KBRI sangat ketat, jujur baru pertama kali masuk gedung yang penuh pengamanan seperti difilm-film, hehehe. Begitu masuk sudah disambut dengan CCTV, sampai di dalam pintu pertama kami disambut dengan orang thailand yang bisa bahasa Indonesia. Disini terjadi tanya jawab singkat mengenaik identitas kita dan tujuan kita datang kesini. Setelah mengetahui identitas kita, ia akan menghubungin bagian dalam gedung untuk meminta persetujuan, jika disetujui maka kita akan diberikan id card. Untuk membuka pintu kedua dibutuhkan sidik jari orang-orang tertentu, setelah kami diberikan id maka ia akan membukakan pintu yang kedua. Setelah itu kami masuk kedalam suatu ruang yang dijaga oleh seorang tentara bersenjata penuh, walaupun kami hanya lewat di depannya tapi rasa takut masih saja ada. Setelah melewati ruang ini barulah kami memasuki area halaman gedung KBRI. Tidak berhenti sampai disitu, tak jauh dari gedung itu terdapat sejenis perangkap ban, perangkap ini akan menancap pada ban mobil yang masuk melalui jalur yang salah.

Sampai di dalam gedung KBRI kami disambut oleh seorang yang sangat cantik, selain cantik ia memiliki bahasa inggris yang sangat fasih dan halus, ok ia adalah orang yang memiliki bahasa inggris paling fasih yang pernah aku temuin. Rasanya ingin melihat dia bicara lagi-lagi dan lagi,  wuh tidak salah gedung ini dilapisi pengamanan yang berlapis (ngawur). Kamipun langsung meminta izin untuk bertemu dengan pak Yunardi, ia adalah duta indonesia yang khusus menangani pelajar Indonesia di Thailand. Pengamanan tak berhenti sampai disini, banyak CCTV yang mengintai kami selama perjalanan dari meja resepsionis ke ruang pak Yunardi. Sesampai di dalam kami memulai dialog ringan dengan beliau, setelah berbincang-bincang kami segera melakukan lapor diri. Sayangnya petugas imigrasi yang seharusnya mengurus visa kami sedang tidak berada ditempat, sehingga kami harus meninggalkan passport kami dan kembali lagi esok hari. Setelah melakukan lapor diri kami pergi keluar dengan melalui jalur pengamanan yang kami masuki pada saat masuk.

Setelah keluar dari gedung KBRI kami pergi ke salah satu tempat penjualan elektronik terbesar di bangkok. Disini kami belajar bagaimana memesan barang dalam bahasa inggris dan beradaptasi dengan bahasa inggris yang terkadang tidak terlalu baik. Alhasil kami hanya membeli satu set obeng untuk persiapan penelitian kami. 

Disini sebagian besar orang masih sabar untuk berjalan kaki atau menunggu angkutan umum. Sebagai pendatang yang tidak memiliki kendaraan pribadi kami terpaksa berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum. Meskipun jarak yang ditempuh lumayan jauh tapi orang tetap mau berjalan kaki.
Suasana jalan di Bangkok

Pedagang kaki lima di Bangkok

Jembatan Layang

Di kota ini orang tidak menyebrang sembarangan, untuk menyebrang jalan mereka akan mencari jembatan atau zebra cross terdekat. Seharian ini  saya belum pernah melihat ada seorangpun yang menyebrang selain melewati jembatan atau zebracross.



Taxi Roda tiga
Taxi Bajaj
Kalau di Indonesia kendaraan tersebut disebut bajaj, kalau disini tetap dibilang taxi, bahkan tukang ojek juga disebut taxi. Mungkin semua kendaraan yang mengantar langsung ketujuan disebut taxi kali ya, hehehe.
Bis
Disini bis memiliki nomor tujuannya masing-masing, misalnya bis diatas memiliki nomor 113, nah nomor ini nantinya akan menentukan ke rute mana ia akan pergi. Nah sebelum naik bis ini ada baiknya kita bertanya dengan orang setempat mengenai nomor bis yang harus kita naiki. Harga bis ini relatif murah, hanya 10 bath atau Rp 3000, yah harga menentukan kualitas pelayanan. Di setiap pintu pada bis ini disediakan sebuah bel, bagi penumpang yang ingin berhenti tinggal menekan tombol bel  yang disediakan.

Pak Teduh dan Pak Hendrik
Escalator datar

Kami berhenti di MBK, salah satu mall di Bangkok. Sama saja seperti mall lainnya, hanya saja mall ini memiliki beberapa fasilitas dan tema yang unik. Di awali dengan escalator datar, metal detector dan beberapa tema unik lainnya. Mall ini sangat luas dan tinggi, yah mungkin karena kami puasa dan baru berjalan jauh jadi kami tidak mampu untuk mengelilingi seluruh tempat. Disini tempat sholat hanya ada satu dan tempatnya agak sedikit tersembunyi, kami sempat kebingungan untuk mencarinya, setelah bertanya beberapa kali baru kami dapat menemukan posisi musholanya. Untuk masalah harga mall ini 11-12 dengan mall di Jogja, yah bagaimanapun ini tetap mall, bukan tempatnya mencari barang murah, hehehe.
Lelah berkeliling MBK kami pergi ke skytrain. Skytrain adalah sejenis kereta api yang memiliki jalurnya sendiri. Nah disebut skytrain karena jalurnya berada di atas jembatan dan sering kali menjadi jalur yang paling tinggi di Bangkok. Harga skytrain relatif murah 22 bath atau Rp 8000 untuk setiap perjalanannya, kereta ini sangat cepat dan mewah, bisa dibandingkan dengan kereta eksekutif di Indonesia. Di kereta ini penumpang tidak diperbolehkan makan dan minum, hal ini mungkin untuk menjaga kebersihan kereta. 
Sekitar MBK
Infront Of MBK
Panorama di depan MBK

Jalur SkyTrain

Kami melakukan perjalanan dari national stadium sampai ke Victory Monument. Kami diharuskan pindah kereta dan merubah jalur kereta ke arah Victory Monument.

Loket pembelian Tiket


Memesan tiket

Pembelian tiket dilakukan secara elektronik, dengan cara ini pemesanan tiket dapat lebih cepat dilakukan. Hanya saja uang yang sudah tidak rapi terkadang tidak diterima mesin ini.


Loket Masuk Kekereta
Kereta SkyTrain
SkyTrain saat sepi

SkyTrain saat penuh
Me and our teacher

And last, let us take a selfie
Nah ini dia Victory Monument, lebih mirip ke simpang lima Semarang, hehehe. Katanya sih disini pusat pemberhentian semua alat transportasi. Mulai dari sini kami harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ven (orang thai membacanya wen). Nah disini masalah dimulai, tak satupun petugas penjual tiket yang mengerti bahasa inggris, dosen kami juga sempat bingung melihatnya, sistem baru ini menyulitkan pendatang untuk menggunakan jasanya. Bahkan stop, wait, dan tell saja mereka tidak mengerti. Kami duduk pasrah sampai salah seorang petugas penjual tiket menghampiri kami dan menyuruh kami naik dengan menggunakan bahasa universal, bahasa tubuh.

Victory Monument
Tempat mengunggu ven

Loket penjualan tiket

Setelah sampai di asrama kami langsung tidur karena mempersiapkan welcoming party yang akan diadakan malam harinya. 


Malam harinya kami dibawa ke restoran yang cukup terkenal di bangkok, makanannya luar biasa enak,  mereka memiliki menu ayam dan seafood terbaik. Perut kami hampir meledak karna dipaksa memakan beraneka ragam makanan, walaupun tanpa dipaksa kami akan memakan semuanya. hahaha

Join Project RMUTT part 1

Faculty of Science and Technology RMUTT
22 july 2014, Hari ini hari pertama kami di Bangkok. Jadwal hari ini adalah serah terima mahasiswa dan perkenalan dengan beberapa prof (dalam bahasa thai disebut acan) yang akan membimbing kami 2 bulan kedepan. 
Kata sambutan dari RMUTT

Paginya kami berkumpul di Hall fakultas, setelah dekannya datang kami langsung masuk ke ruang sidang untuk melakukan serah terima mahasiswa. Yah sambutan hangat kepada kami dan juga ada kesan dan pesan dari fai selaku delegasi RMUTT pada join project di UII.
Hall Fakultas ilmu dan komputer
Serah terima Mahasiswa dari dosen UII ke Prof RMUTT
Setelah melakukan serah terima kami berkeliling fakultas dan melihat beberapa laboratorium yang mungkin akan kami gunakan. 
Halaman Tengah 
Tampak atas Fakultas ilmu dan teknologi
Fakultas ini terdiri dari 9 lantai, lantai 8 khusus computer science atau bahasa indonesianya ilmu komputer. Nah berhubung lantai 8 itu jauh maka mahasiswa turun naik dengan menggunakan lift. Katanya beberapa lantai dimiliki oleh jurusan tertentu misal lantai 8 computer science, lantai 9 computer engineering dan lain sebagainya. 
Dilantai 8 lah kami akan melakukan tugas penelitian kami. Dan salah satu ruang kerja kami sudah terdapat beberapa kursi roda yang telah selesai dikerjakan. Kursi roda inilah project kami 2 bulan kedepan, tugas kami adalah membuat sebuah program android yang dapat mengendalikan kursi roda ini. Baik dengan menggunakan tombol, sensor gyro dan perintah suara.
Kursi Roda elektronik
Halaman Tengah

Halaman tengah dengan suasana tersendiri, mungkin ini dibuat agar mahasiswa (dalam bahasa thailand disebut bandit) lebih betah tinggal di Kampus. Memiliki corak warna seperti di TK, mungkin biar mahasiswanya tidak cepat bosan. Setau saya di perusahaan google dan microsoft juga menggunakan warna seperti ini pada setiap kantornya. Cara ini dinilai efektif untuk mengurangi kejenuhan.
Fakultas Liberal Arts
Panorama sebelah fakultas
Danau Buatan
Ini merupakan danau buatan, luasnya bisa jadi lebih dari 6x lapangan sepak bola. Danau ini dibuat dalam rangka menanggulangi banjir, mereka membuat aliran sungai kecil yang menuju danau ini. Diharapkan ketika hujan besar universitas tidak akan banjir. Selain sebagai tempat untuk membendung air, danau ini juga sering digunakan untuk bersantai, pemandangan disekitar danau ini juga sangat bagus. Pohon-pohon tertata rapi dan terlihat beberapa model sedang melakukan sesi foto disana.
Warnet Gratis
Semua mahasiswa  dapat mengakses gratis ditempat ini, suasana disini sangat nyaman dan tenang. Ditambah lagi kecepatan internet yang sangat baik, kemarin sempat ngecek sampai 5MBps. Kalo ini di UII pasti sudah nggak ada komputer yang nganggur.

Tempat Nonton

Di tempat ini mahasiswa dapat menonton film bioskop tanpa perlu membayar sedikitpun. Sebagai konsekuensinya mereka harus menonton film yang sudah tayang di box office beberapa minggu yang lalu. Tentu saja pihak universitas harus menghargai film box office yang resmi. Di tempat ini bandit (siswa) tinggal menunjukkan KTM kemudian memilih film yang hendak ia tonton. Saya melihat 2-3 buku binder yang memperlihatkan judul buku yang mereka miliki.

Di atas tempat ini adalah ruang perpustakaan, masalahnya adalah sebagian besar buku ditulis dengan aksara thailand. Dari 5 buku yang saya ambil secara random, semua buku menggunakan bahasa thailand. Padahal dari judulnya terlihat seperti menggunakan bahasa inggris.
Uang amal
Begini cara mereka melakukan perbuatan amal, salah seorang tourguide kami mengatakan setiap orang yang ingin menyumbang harus mengikat uang yang ia punya di salah satu lidi, kemudian meletakkannya pada tempat ini. Uang yang telah terkumpul akan digunakan dalam kegiatan amal atau akan disumbangakan ke orang yang tidak mampu
Mini Bus Tampak Depan

Mini Bus Tampak Belakang
Disini kebanyakan siswa bepergian menggunakan bus atau jalan kaki. Nah karena universitas ini sangat luas maka mahasiswa sebagian besar menggunakan mini bus ini untuk pergi dari satu tempat ketempat lain. Disini disediakan 10 unit minibus sehingga mahasiswa tidak perlu menunggu terlalu lama ketika ingin menaiki bus ini. Kelemahannya adalah semua supir tidak ada yang mengerti bahasa inggris, jadi kita sebagai orang asing harus bisa ngomong thailand terlebih dahulu, atau setidaknya memiliki catatan alamat yang akan diberikan kepada si pak supir.
Seharian kami berkeliling kampus, karena panas, puasa dan memang jarak yang cukup jauh jadi kami memutuskan untuk tidak pergi keluar kampus. Secara general memang kampus ini memiliki fasilitas yang sangat baik, jujur aku belum pernah menemukan fasilitas kampus sebaik ini. Akan tetapi di kampus ini masih minim orang yang bisa berbahasa inggris sehingga sulit untuk beradaptasi dan berbaur dengan mereka.
Malam harinya kami mendapatkan undangan makan malam disalah satu restaurant terkenal di bangkok. Makanannya sangat enak, memang terasa aneh dilidah ku tapi rasanya buat kamu mau lagi-lagi dan lagi. Makanan disini rasanya sangat asam, tapi asam tersebut tidak kecut seperti di indonesia, paduan bumbunya memang sangat mengikat lidah para penikmatnya. Kami bebas memilih makanan apapun yang kami mau, dan kami makan makanan terbaik tanpa dicampur nasi, you could say lauk pakai banyak lauk. Setelah makan kami pergi ke department store untuk membeli perlengkapan sehari-hari. Jam 10 kami pulang ke asrama. 
To Be Continued…