Lanterne festival De Paris 2019

Lanterne festival De Paris 2019

I think Lenterne Festival De Paris is one of the most memorable festivals that I’ve ever been to. I just love every idea about the festival.

It was located on seaside area, around 1.5 hours from the heart of the city. I personally love the experience of attending festival on the seashore. The sea breeze and the sound of waves created a chill and comforting ambiance that is very “Jogja”.

The concert also played songs that intrigued us to reflect for what had happened in our country. The festival was actually held 4 months after presidential election, but the residue of the election was still very strong, polarization was still happening everywhere in that moment.

Read more
Being Different

Being Different

Sometimes people’s voices confuse me. Some tell me to be authentic. Some others tell me to be “normal” and “fit” into society. While adjusting to both sides is not as easy as a lot of people say it is. Sometimes attempting to please our surroundings, being good at career, maintaining relationships, and all while trying to be authentic feels like a battle. Sometimes it makes me worry whether I am fit enough to my surrounding. The attire I wore, the words I chose, the idea I expressed, the things I did. It was all because I was afraid to be rejected.

I remember one day my friends and I had a dinner with one of my favorite lecturers in school. We talked about a lot of things, but one thing that I can never forget was about being different.

He gave us an interesting case:

“Suppose we have an aquarium with 100 fish in it. Ninety-nine of them are one-eyed, and only one fish has two eyes. In this context, which side is normal? Which side do you think will be oppressed to be ‘normal’?” Read more

Too Good To Be True

Too Good To Be True

We all have that experience, when things are so good and it is hard to believe. For example, you got an SMS about winning a million dollar door prize from unknown number. Or you find something in online store, it claims as the lowest price in the world for great quality while actually it’s only a fake product. Or, someone that out of the blue treats you so nice, while actually they are just buttering you up.

There are a lot of similar experience happened throughout our lives. Well experience makes us learn. And after several times trapped in that kind of illusive situation, I slowly realize that good always follows bad, and vice versa. Just like Yin Yang, light and darkness always complete one another. So if there is an extreme goodness, something will surely go wrong.

Now I have a very strong intuition for things that smells very fishy. And every time I face with similar position, I’d rather have a second-guess for the worst thing that probably happened. Well, even dawn comes after the darkest. So I decided to only believe in effort and reputation. If I want something great, then work for it.

Read more

Seleksi PPAN – Final

Ditengah lembutnya terpaan angin padang rumput, tiba-tiba hpku berdering. Dering pengingat akan pengumuman kandidat yang lolos ketahap final seleksi PPAN.

Kebetulan hari itu kelasku sedang kosong sehingga aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bersantai di runway bandara di kotaku. Memang kegiatan beberapa minggu belakangan membuat waktu me-time ku berkurang. Biasanya aku habiskan waktu seperti ini dengan membaca novel atau menulis cerita.

Serentak degub jantung semakin cepat ketika membaca pengingat yang ku pasang. Novel ku tutup dan simpan dalam tas kecilku. Jemari kemudian berlomba untuk menekan tuts keyboard pada layar tablet, mengetik alamat website PCMI Jogja dimana pengumuman akan dipublish.

Halaman web terbuka perlahan seiring mata bergerilya mencari teks pengumuman finalis. Hei my name’s on the list!. Segera aku mengecup tabletku sambil mengucap Alhamdulilah. Aku merasa mempiku sudah di depan mata. Hanya butuh kemauan lebih untuk terus berjuang menjadikan impian itu menjadi nyata. Segera aku screenshot pengumuman itu dan ku kirim ke keluargaku. Tak lupa aku kabari beberapa kerabat dekatku. Hari itu senyum ku mekar hingga aku tidur, atau bahkan bisa jadi, tidurku pun tetap tersenyum saking senang nya.

—–***—–

Beberapa minggu kemudian proses seleksi final diselenggarakan. Seleksi terakhir ini dilakukan dengan mekanisme karantina selama 3 hari 2 malam. Seluruh kegiatan didesain dengan padat untuk melihat kedisiplinan pesertanya, selain itu tes yang beraneka ragam memaksa seluruh kandidat mengeluarkan kemampuan terbaiknya, bahkan untuk ranah yang tidak mereka mengerti.

Seleksi dibuka dengan penilaian public speaking selama 2 menit. Topic yang diberikan merupakan isu internasional dan berbeda untuk setiap orang nya. Jujur aku sendiri tidak mengerti mengenai topic yang aku dapatkan. Yang aku tampilkan adalah topik lain yang mungkin mirip dengan kasusku. Yah setidaknya mereka dapat menilai usaha yang aku berikan meskipun topic melenceng kesegala arah.

—–***—–

Program selanjutnya adalah skill individu. Peserta kembali diminta untuk menampilkan pertunjukan individu selama 20 menit. Kali ini aku tak tampil tanpa persiapan. Aku telah melakukan latihan beberapa tarian daerah dari berbagai provinsi melalui tutorial youtube. Tidak lupa aku menghafalkan beberapa lagu daerah yang mudah dihafalkan jika ternyata waktu yang dibutuhkan tarian tidak mencukupi. Lebih dari itu, aku juga meminjam baju khas daerahku di Asrama putra daerah.

Waktu tampilku pun tiba. Aku tak sempat menghitung seluruh panitia di ruangan. Yang aku ingat ada 3 orang yang aku perhatikan terus menulis selama penampilanku sambil mencatat sesuatu. Sedangkan panitia yang lain hanya memperhatikan sambil memberikan instruksi skill individu.

Ku awali penampilanku dengan menarikan tarian nusantara. Sama seperti saat seleksi wawancara, baru sebentar aku menari dan musikpun dimatikan. Bedanya, kali ini aku ditantang dengan spontan menarikan tarian sesuai irama musik yang dipilih oleh dewan juri. Aku cukup kesulitan menyesuaikan irama lagu dengan tarian, mungkin ini akibat aku baru melatih gerakan beberapa hari sebelum seleksi. Tugas selanjutnya adalah menyanyikan lagu daerah, kubawakan lagu Batu belah yang telah kuhafalkan saat menunggu antrian tampil. Setelah itu aku diminta melakukan story telling mengenai legenda dibalik lagu tersebut. Setelah story telling, kemampuan individu yang dites adalah bermain musik. Jeng jeng… Tak satupun alat musik yang bisa aku mainkan selain pianika, itupun terbatas lagu-lagu wajib untuk upacara hari senin. Alhasil, sesi ini aku lewati dengan memalukan.

—–***—–

Malam selanjutnya disebut sesi konfirmasi, pada tes kali ini kami satu persatu maju untuk menjawab pertanyaan. Bedanya tes kali ini adalah proses tanya jawab dilakukan sambil penekanan mental dari dewan juri. Pada giliranku, kuhitung ada sampai 7 dewan juri yang memperhatikan ditambah 1 dewan juri yang duduk disudut ruangan memperhatikan gerak-gerikku, yang kemudian aku fikir seorang psikolog.

Motivation

Motivation

What was your strongest reason to do something? I mean, something that crazily drives you to act or behave in a certain way. Do you still remember what was it?

Some of you might say most of the reasons are money, reward, experience, or acknowledgement. Some even say game station, food, and toys. I think there is totally nothing wrong with all of them. Sometimes I got my motivation from those reasons as well.

And sometimes people get motivation in a very mysterious way. She is “The Altair“, a girl who turns my world upside down, from unmotivated person into a man who is willing to struggle to pursue his dreams. Read more

Jum’at an di negeri orang

26 juli 2014, hari ini merupakan hari jum’at pertama kami di negeri 1000 pagoda. Pagi ini kami memutuskan untuk tidak pergi ke fakultas agar tidak ribet meminta izin ketika mau sholat jum’at. Sebenarnya nggak ribet-ribet amat sih, mereka sangat mempersilahkan kami dalam melakukan aktifitas keagamaan, hanya saja karna kami belum terlalu kenal sama mereka jadi segan untuk meminta izin keluar.

Sholat dhuhur dimulai jam setengah 1, berhubung tidak ada masjid disekitar asrama jadi mau tidak mau kami harus sholat jum’at di muslim center-nya RMUTT. Pemeluk agama muslim disini terbilang sedikit, saat kami sholat jum’at saja terhitung hanya 35 anak yang hadir dalam mushola tersebut. Yah, padahal menurut agama minimal 40 anak yang hadir dalam sholat jum’at. Tapi dari pada kami tidak sholat jum’at yah lebih baik mengikuti kebiasaan disini.

Saat pertama kali sampai ke muslim center kami rada canggung karena hanya ada mushola yang sangat kecil disini, mungkin hanya berukuran 4×5 m saja. Dari pada bingung sendiri, lantas kami mencoba menyapa mahasiswa disana, “Assalamualaikum” kataku, “Waalaikumsalam” mereka membalas. Meskipun penyebutan bahasa inggris mereka berbeda tapi pelafalan bahasa arab mereka sama seperti yang diajarkan di Indonesia.  Selanjutnya kami memperkenalkan diri kami dan meminta izin untuk mengikuti kegiatan sholat jum’at ditempat mereka. Ternyata hanya kata assalamualaikum-lah yang menyambungkan kami semua. Selanjutnya perkenalan diri kami dan izin untuk bergabung diabaikan dan hanya dibalas dengan muka bingung. Ok fine, lebih baik kami bingung dari pada membuat mereka yang bingung. Untung saja tak jauh dari situ ada seorang kakak tingkat kami di uii yang mendengar perkenalan diri kami, mendengar kami dari indonesia dia langsung berbicara dalam bahasa indonesia. Dan kami pun terselamatkan.

Saat melakukan sholat jum’at alhamdulillah hanya bahasa arablah yang familiar di telinga kami,  selebihnya hanya mereka dan tuhanlah yang mengerti. Untung saja pengalaman merantauku sudah lumayan banyak, sudah beberapa kali sholat di tempat terpencil yang semua khutbahnya dalam bahasa jawa “halus”. Jadi ini bukan kali pertama aku sholat jum’at melongo seperti ini. Alhasil tak sedikitpun khutbah yang kami mengerti. Dan kami harus bertahan mendengarkan khutbah ini untuk 2 bulan kedepan.

Oke sekian cerita pengalaman sholat jum’at pertama ku di negeri Thailand ini.

Join Project RMUTT, Explore Bangkok part II

24 Juli 2014, agenda hari ini adalah mengambil passport dan visa di KBRI. Perjalanan kali ini kami ditemani salah satu buddy kami yaitu aomsin. Alih-alih ternyata teman-teman baru kami di Bangkok khawatir akan keadaan kami, alhasil mereka menghubungi buddy kami untuk menemani kami sepanjang perjalanan. Jarak dari asrama ke KBRI cukup jauh, jika tidak macet bisa mencapai 1 jam perjalanan. Dan karena di Thailand minim orang yang bisa bahasa inggris maka mereka takut kalau kami akan tersesat di Bangkok. Yup kami tidak bisa menolak bantuan kali ini, apalagi kami masih awam dengan kota ini.

Kami berangkat ke KBRI pukul 8 pagi, pertama kami naik van dari depan gate 3 RMUTT. Van ini akan mengantarkan kami ke Victory Monument. Van adalah minibus dengan kelas eksekutif, kalo di Indonesia seperti bis travel. Harganya cukup mahal tpi tidak semahal taxi, harga setiap perjalanan adalah 50bath atau sekitar 18000 rupiah (yah memang jaraknya jauh banget sih). Enaknya naik kendaraan ini adalah cepat karena kendaraan ini berangkat melalui motorway (jalan tol) sehingga dapat meminimalisir kemacetan. Waktu tempuh dari gate 3 ke Victory Monument adalah 40 menit.

Setelah sampai di Victory Monument, kami langsung pergi ke KBRI dengan menggunakan skyTrain. Perjalanan dengan menggunakan skyTrain ini hanya membutuhkan kurang dari 1 menit perjalanan dengan melalui 2 stasiun skyTrain(sangat cepat bukan). 

Sesampainya di KBRI kami langsung mengambil passport kami dan kemudian langsung keluar lagi (Ok, datang jauh-jauh cuma untuk urusan 5 menit). Untuk informasi KBRI terletak di tengah kota bangkok, merupakan embassy yang paling strategis di Bangkok. Ini semua berkat kekuatan soekarno pada zaman dahulu, bangsa lain termasuk thailand sangat respect kepadanya. Berita terakhir mengatakan bahwa KBRI ditawarkan untuk pindah di pinggiran kota bangkok dan diberi lahan 4 kali lebih luas dari yang sekarang, akan tetapi KBRI menolak hal ini dan tetap bertahan di lokasi yang dulu. 

Tidak mau rugi, kami langsung mengambil inisiatif untuk jalan-jalan, maklum banyak mall yang dekat dengan KBRI. Mulai dari Platinum Fashion Shop, Paragon Shopping Center, Central World dan Pratunam Market. Semua tempat ini sangat besar, minimal sebesar amplas di jogja. 

Perjalanan menuju Central World, gadis yang disebelah kiri adalah buddy kami.

Traffic near Central World.
Ngeksis di depan Central World

Ngeksis part 2. hehehe

Tempat Ibadah para Budhist

 Kami pergi ke central world, mall ini gedenya minta ampun. Atau mungkin aku yang udik karna selama ini belum pernah ke mall ibu kota. Kalau masalah harga ya 11-12 dengan mall di jogja. Beberapa memang berbeda harga ada yang lebih mahal ada yang lebih murah, tapi tetap saja ini mall,  bukan tempatnya mahasiswa untuk nongkrong dan belanja. Kecuali ada diskon hahaha.

Sepulangnya dari mall kami pergi mencari makan untuk berbuka, kami diantar buddy kami ke salah satu kantin di RMUTT yang menyediakan makanan halal. Dari obrolan singkat kami dengan si penjual, ternyata ibunya islam, dan dia hanya menjual makanan HALAL.

Kantin 10, makanan HALAL

Pahlawan yang mempertahankan makanan HALAL