The Stranger – Albert Camus

The Stranger

The Stranger by Albert Camus

My rating: 5 of 5 stars

This book really led me into bunch of questions.

What makes me a sad the most is how being “stranger” in society might be misinterpreted by society and cause us problem. The main character simply doesn’t play with societal rules, he is being true to himself, he say what he is, and he refuses to lie. As a result, the society feel threatened, and his life ended up tragically.

Read more

Sudahkah Indonesia Merdeka?

sudahkah indonesia merdeka?, kalau menurut saya tentu saja indonesia belum merdeka. Terus hari apakah 17 agustus 1945 itu?,  banyak yang berkata bahwa 17 agustus adalah hari kemerdekaan indonesia, tentu saja bukan. 17 agustus adalah hari proklamasi kemerdekaan indonesia, merdeka tapi hanya teori atau merdeka secara defacto. tapi kemerdekaan yang hakiki sama sekali belum ada dalam diri indonesia itu sendiri.

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” kurasa kalimat diatas sudah menjelaskan bahwa pahlawan kita hanya mengantarkan indonesia KEDEPAN PINTU GERBANG bukan mengantarkan indonesia pada kemerdekaan. tentu saja indonesia masih harus berusaha untuk melewati gerbang kemerdekaan itu. Dan saya rasa perjuangan indonesia kali ini jauh lebih berat dibanding perjuangan melawan penjajah dulu.
Jika dulu pahlawan kita harus berjuang untuk melawan penjajah dari bangsa asing, maka kali ini rakyat indonesia harus berjuang melawan penjajahan moderen yaitu penjajahan dari bangsa indonesia itu sendiri. Jika dulu indonesia berjuang melawan kekerasan fisik, maka kali ini indonesia harus berjuang melawan penjajahan ekonomi, penjajahan pendidikan, penjajahan fikiran yang dilakukan oleh putra bangsa itu sendiri.


 Ditaman kanak-kanak, disekolah dasar para siswa-siswi selalu diajarkan bahwa Indonesia telah merdeka, pada setiap tanggal 17 agustus para pejabat dikantor-kantor selalu merayakan hari KEMERDEKAAN INDONESIA. Jika indonesia telah merdeka tapi kenapa masih banyak masyarakat yang masih belum merasakan arti kemerdekaan intu sendiri, kenapa masih banyak anak-anak yang bekerja dijalanan sementara anak-anak lainnya sedang duduk tenang menikmati bangku pendidikan, kenapa masih banyak orang sakit yang hanya mampu terbaring dirumah karena tidak mampu membayar mahalnya biaya pengobatan, kenapa masih banyak pemuda indonesia yang duduk terpaku dirumah mereka masing-masing karena tidak ada lapangan  pekerjaan.

Dimana janji-janji para pemimpin bangsa yang akan meningkatkan tingkat kehidupan masyarakat, dimana janji para pemimpin yang akan membuka lapangan pekerjaan, dimana janji para pejabat yang akan mempermudah pengobatan bagi rakyat yang tidak mampu, dimana janji pemerintah untuk meratakan pendidikan 9 tahun.

alasan lain kenapa saya menganggap indonesia belum merdeka adalah, masih hilangnya penghasilan masyarakat karena pajak yang dimakan para koruptor, ntah berapa banyak uang rakyat yang telah dimakan para koruptor. uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat kini hilang tak berbekas. uang yang seharusnya bisa digunakan untuk biaya pendidikan malah hilang dimakan para koruptor. Bagaimana indonesia bisa merdeka jika pendidikan tidak diperbaiki, bagaimana indonesia bisa benar-benar merdeka jika para pejabat terus menjajah fikiran bangsa dengan memangkas uang pendidikan.
Kemanakah perginya uang bangsa? uang yang seharusnya bisa digunakan untuk pelayanan pengobatan bagi rakyat yang tidak mampu malah digunakan secara ilegal oleh para pejabat bangsa. Bagaimana indonesia bisa merdeka jika rakyatnya terus dijajah kesehatannya. sampai ada orang yang berkata “di indonesia orang miskin dilarang sakit”.
Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun negara ini malah digunakan untuk membangun kekayaan pribadi para koruptor. Tidakkah mereka melihat disana masih banyak orang yang sulit bekerja ataupun bersekolah karena transportasi tidak memadai, disana masih banyak sarjana yang menganggur karena kurangnya lapangan pekerjaan, disana masih banyak rumah yang berdiri ditengah kerumunan sampah karena tidak mampu membangun rumah ditempat yang layak.
Hasil tambang kita diekspor keluar negeri tanpa timbal balik yang berarti bagi rakyat, padahal yang menambang adalah rakyat indonesia itu sendiri. Semua tambang diekspor hanya untuk kesenangan para investor, hal ini sama saja dengan kerja paksa. Rakyat diharuskan bekerja keras untuk para investor, jika tidak maka mereka tidak akan mendapatkan uang untuk melanjutkan hidup mereka. Inilah penjajahan moderen, penjajahan cara halus yang dilakukan bangsa asing.
Ditandatanganinya perjanjian di Oslo, Norwegia, mewajibkan Indonesia mengurangi emisi karbon dengan iming-iming hibah sebesar 1 miliar dolar AS jika berhasil. Akibatnya, dalam setahun perjanjian Oslo, praktis tidak ada keuntungan apapun yang diperoleh Indonesia. Lahan tidur tidak dapat didayagunakan, padahal sebenarnya bisa menyerap jutaan tenaga kerja. Sebaliknya, Norwegia dan negara maju lainnya dengan seenaknya memproduksi emisi karbon dalam jumlah yang besar melalui industri mereka.Untuk memenuhi kebutuhan listrik, misalnya, Norwegia menggunakan tenaga batubara sebesar 9%, sementara Indonesia hanya 1%. Padahal, pembangkit listrik tenaga batubara merupakan salah satu penghasil emisi karbon terbesar. Sekali lagi cara bangsa asing menjajah kita secara halus.
Coba perhatikan dari berbagai unsur di industri telekomunikasi, adakah yang merupakan produk dalam negeri? Dari sisi operator, hampir semua yang beroperasi di Indonesia dikuasai asing. Meski ada yang masih milik dalam negeri, tetapi hanya operator kecil di jaringan CDMA. Semua operator GSM dikuasai asing.
Dua operator terbesar yang masih ada unsur BUMN misalnya. Porsi saham terbesar PT Indosat Tbk dikuasai perusahaan Qatar Telecom sebanyak 65 persen, kemudian dari Norwegia (Skagen AS) sebanyak 5,38%. Pemerintah hanya memiliki 14,29% dan sisanya untuk publik sebanyak 15,33%. Bahkan Telkomsel yang mengaku Paling Indonesia dengan pelanggan lebih dari 100 juta saja sebanyak 35% sahamnya dimiliki oleh perusahaan Singapura SingTel Mobile dan sisanya 65% dikuasai Telkom.
Perusahaan swasta lebih besar lagi. Sebanyak 66,7% saham XL dikuasai Axiata Group Berhad, Malaysia. Kemudian Etisalat memiliki 13,3% dan sisanya 20% untuk publik. Hal serupa untuk Axis dan Tri yang semuanya milik asing. Praktis, hampir semua frekuensi telekomunikasi Indonesia dikuasai oleh asing.
Sementara itu dari sisi jaringan sudah jelas. Belum ada satupun perusahaan nasional yang memiliki kemampuan untuk mengelola jaringan telekomunikasi. Saat ini ada empat vendor yang dipercaya mengelola jaringan telekomunikasi operator di Indonesia yang semuanya adalah asing. Dua dari dari Eropa yakni Nokia Siemens Network dan Ericsson. Dua lagi dari China yakni Huawei dan ZTE.
Bagaimana dengan perangkat dari sisi end user? Saat ini sudah banyak beredar hape lokal yang harganya murah meriah seperti merek NexianHT Mobile, TiPhone dan lainnya. Tetapi itu hanya sekadar merek, karena pesannya masih dari China. Sedangkan NokiaBlackBerrySony EricssoniPhoneSamsungLGHTC dan lainnya jelas-jelas merek global dari luar negeri.