The language that matter

The language that matter

My foreigner friend visited Yogyakarta. As a good host I accompanied him to travel around while explaining a little bit about Indonesia especially Yogyakarta.

Me: In Indonesia we own more than 500 indigenous languages with 7 different phonetics symbol (In a way, I’m proud to be Indonesian).

Him: It can’t be true.

Me: I’m not kidding. In this city, most of people speak Javanese.

Him: So, how many languages do you speak?

Me: Malay is my mother tongue, Bahasa Indonesia is my second language, Sambas is my third, English is the fourth and Javanese is my last language. So in total, I could speak 5 languages.

Him: That’s a total insane. How did you manage to master all of them?

Me: My dad speaks Malay and I grew in Malay environment. While Bahasa Indonesia as our Lingua Franca is used in office, school and other official institutions. My mom speaks Sambas, I speak this language when I meet my mom’s family. So basically I master those 3 languages by nature.

Him: cool!

Me: I started learning English in elementary as the mandatory subject. And now I’m struggling to master Javanese as the original language of this city.

Him: awesome!! do you learn foreign language?, I mean, language from other countries.

Me: I managed to give a try. But none of them works on me. I think I suck at foreign language.

Him: Why? (showing a curious smile).

Me: I tried to learn Arabic, Germany, Japanese, and Thailand. But none of them works on me. How about you?, What language do you speak?

Him: I speak two languages, Malay as my mother tongue, and English as the business language.

Me: Are you interested to learn new language?

Him: Does that matter?

Me: What do you mean? (trying to catch what he implies)

Him: Does that matter to learn other language?, what matter to me is not that someone could speak France, Germany, or Spain. What matter to me is do you speak human rights? do you speak climate change? or do you speak SDGs?. I think this world needs people who speak about global issues and its solutions.

Me: Yeah, I couldn’t agree more.

Read more

Seleksi PPAN – Semifinal

Seleksi PPAN – Semifinal

Alhamdulillah usahaku pada wawancara imyep tidak sia-sia dan aku lolos bersama 39 kandidat lainnya ke fase berikutnya.

Dua hari setelah pengumuman semua semifinalis dikumpulkan untuk mengikuti briefing. Kami semua dikumpulkan pada satu ruang yang kemudian akan diberikan tugas secara individu selama dua hari.

Tugas yang aku dapat bertema “business culinary”. Tugas ini dapat diselesaikan dengan membuat artikel ilmiah, proposal kegiatan, photography atau vidiografi. Aku memutuskan memanfaatkan kemampuanku dibidang vidiografi, lagi pula pada video tersebut dapat aku selipkan beberapa foto yang mungkin menjadi nilai tambah untuk kemampuan fotografiku.

Malamnya aku langsung mengonsep video yang akan dibuat, mulai dari list tempat, potongan yang akan diambil dan musik yang akan digunakan sebagai backsound. Aku juga tidak lupa mengontak temenku yang memiliki kamera bagus untuk merekam.

Keesokan harinya aku mulai mengontak tempat-tempat yang sudah aku list untuk mendapatkan izin meliput. Banyak tempat yang menolak untuk diliput, sebagian lagi bersedia diliput setelah proposal diACC. Waktu untuk proses birokrasi proposal tidak akan cukup dengan deadline yang relatif singkat. Akhirnya aku memutuskan untuk meliput seadanya.

Read more

Jika kau sibuk, kapan kau sempat?

Kalau kau sibuk berteori saja
Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?
Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja
Kapan kau sempat memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja
Kapan kau sempat menikmati hidup?
Kalau kau sibuk menikmati hidup saja
Kapan kau hidup?

Kalau kau sibuk dengan kursimu saja
Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?
Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja
Kapan kau menyadari joroknya?

Kalau kau sibuk membodohi orang saja
Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?
Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja
Kapan orang lain memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk pamer kepintaran saja
Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?
Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja
Kapan kau pintar?

Kalau kau sibuk mencela orang lain saja
Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?
Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja
Kapan kau menyadari celamu sendri?

Kalau kau sibuk bertikai saja
Kapan kau sempat merenungi sebab pertkaian?
Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja
Kapan kau akan menyadari sia-sianya?

Kalau kau sibuk bermain cinta saja
Kapan kau sempat merenungi arti cinta?
Kalau kau sibuk merenung arti cinta saja
Kapan kau bercinta?

Kalau kau sibuk berkutbah saja
Kapan kau sempat menyadari kebijakan kutbah?
Kalau kau sibuk dengan kebijakan kutbah saja
Kapan kau akan mengamalkannya?

Kalau kau sibuk berdzikir saja
Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri?
Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja
Kapan kau kan mengenalnya?

Kalau kau sibuk berbicara saja
Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?
Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja
Kapan kau mengerti arti bicara?

Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja
Kapan kau sempat berpuisi?
Kalau kau sibuk berpuisi saja
Kapan kau akan memuisi?

(Kalau kau sibuk dengan kulit saja
Kapan kau sempat menyentuh isinya?
Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja
Kapan kau sampai intinya?
Kalau kau sibuk dengan intinya saja
Kapan kau memakrifati nya-nya?
Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja
Kapan kau bersatu denganNya?)

“Kalau kau sibuk bertanya saja
Kapan kau mendengar jawaban!”

By : K.H Mustofa Bisri

Sudahkah Indonesia Merdeka?

sudahkah indonesia merdeka?, kalau menurut saya tentu saja indonesia belum merdeka. Terus hari apakah 17 agustus 1945 itu?,  banyak yang berkata bahwa 17 agustus adalah hari kemerdekaan indonesia, tentu saja bukan. 17 agustus adalah hari proklamasi kemerdekaan indonesia, merdeka tapi hanya teori atau merdeka secara defacto. tapi kemerdekaan yang hakiki sama sekali belum ada dalam diri indonesia itu sendiri.

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” kurasa kalimat diatas sudah menjelaskan bahwa pahlawan kita hanya mengantarkan indonesia KEDEPAN PINTU GERBANG bukan mengantarkan indonesia pada kemerdekaan. tentu saja indonesia masih harus berusaha untuk melewati gerbang kemerdekaan itu. Dan saya rasa perjuangan indonesia kali ini jauh lebih berat dibanding perjuangan melawan penjajah dulu.
Jika dulu pahlawan kita harus berjuang untuk melawan penjajah dari bangsa asing, maka kali ini rakyat indonesia harus berjuang melawan penjajahan moderen yaitu penjajahan dari bangsa indonesia itu sendiri. Jika dulu indonesia berjuang melawan kekerasan fisik, maka kali ini indonesia harus berjuang melawan penjajahan ekonomi, penjajahan pendidikan, penjajahan fikiran yang dilakukan oleh putra bangsa itu sendiri.


 Ditaman kanak-kanak, disekolah dasar para siswa-siswi selalu diajarkan bahwa Indonesia telah merdeka, pada setiap tanggal 17 agustus para pejabat dikantor-kantor selalu merayakan hari KEMERDEKAAN INDONESIA. Jika indonesia telah merdeka tapi kenapa masih banyak masyarakat yang masih belum merasakan arti kemerdekaan intu sendiri, kenapa masih banyak anak-anak yang bekerja dijalanan sementara anak-anak lainnya sedang duduk tenang menikmati bangku pendidikan, kenapa masih banyak orang sakit yang hanya mampu terbaring dirumah karena tidak mampu membayar mahalnya biaya pengobatan, kenapa masih banyak pemuda indonesia yang duduk terpaku dirumah mereka masing-masing karena tidak ada lapangan  pekerjaan.

Dimana janji-janji para pemimpin bangsa yang akan meningkatkan tingkat kehidupan masyarakat, dimana janji para pemimpin yang akan membuka lapangan pekerjaan, dimana janji para pejabat yang akan mempermudah pengobatan bagi rakyat yang tidak mampu, dimana janji pemerintah untuk meratakan pendidikan 9 tahun.

alasan lain kenapa saya menganggap indonesia belum merdeka adalah, masih hilangnya penghasilan masyarakat karena pajak yang dimakan para koruptor, ntah berapa banyak uang rakyat yang telah dimakan para koruptor. uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat kini hilang tak berbekas. uang yang seharusnya bisa digunakan untuk biaya pendidikan malah hilang dimakan para koruptor. Bagaimana indonesia bisa merdeka jika pendidikan tidak diperbaiki, bagaimana indonesia bisa benar-benar merdeka jika para pejabat terus menjajah fikiran bangsa dengan memangkas uang pendidikan.
Kemanakah perginya uang bangsa? uang yang seharusnya bisa digunakan untuk pelayanan pengobatan bagi rakyat yang tidak mampu malah digunakan secara ilegal oleh para pejabat bangsa. Bagaimana indonesia bisa merdeka jika rakyatnya terus dijajah kesehatannya. sampai ada orang yang berkata “di indonesia orang miskin dilarang sakit”.
Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun negara ini malah digunakan untuk membangun kekayaan pribadi para koruptor. Tidakkah mereka melihat disana masih banyak orang yang sulit bekerja ataupun bersekolah karena transportasi tidak memadai, disana masih banyak sarjana yang menganggur karena kurangnya lapangan pekerjaan, disana masih banyak rumah yang berdiri ditengah kerumunan sampah karena tidak mampu membangun rumah ditempat yang layak.
Hasil tambang kita diekspor keluar negeri tanpa timbal balik yang berarti bagi rakyat, padahal yang menambang adalah rakyat indonesia itu sendiri. Semua tambang diekspor hanya untuk kesenangan para investor, hal ini sama saja dengan kerja paksa. Rakyat diharuskan bekerja keras untuk para investor, jika tidak maka mereka tidak akan mendapatkan uang untuk melanjutkan hidup mereka. Inilah penjajahan moderen, penjajahan cara halus yang dilakukan bangsa asing.
Ditandatanganinya perjanjian di Oslo, Norwegia, mewajibkan Indonesia mengurangi emisi karbon dengan iming-iming hibah sebesar 1 miliar dolar AS jika berhasil. Akibatnya, dalam setahun perjanjian Oslo, praktis tidak ada keuntungan apapun yang diperoleh Indonesia. Lahan tidur tidak dapat didayagunakan, padahal sebenarnya bisa menyerap jutaan tenaga kerja. Sebaliknya, Norwegia dan negara maju lainnya dengan seenaknya memproduksi emisi karbon dalam jumlah yang besar melalui industri mereka.Untuk memenuhi kebutuhan listrik, misalnya, Norwegia menggunakan tenaga batubara sebesar 9%, sementara Indonesia hanya 1%. Padahal, pembangkit listrik tenaga batubara merupakan salah satu penghasil emisi karbon terbesar. Sekali lagi cara bangsa asing menjajah kita secara halus.
Coba perhatikan dari berbagai unsur di industri telekomunikasi, adakah yang merupakan produk dalam negeri? Dari sisi operator, hampir semua yang beroperasi di Indonesia dikuasai asing. Meski ada yang masih milik dalam negeri, tetapi hanya operator kecil di jaringan CDMA. Semua operator GSM dikuasai asing.
Dua operator terbesar yang masih ada unsur BUMN misalnya. Porsi saham terbesar PT Indosat Tbk dikuasai perusahaan Qatar Telecom sebanyak 65 persen, kemudian dari Norwegia (Skagen AS) sebanyak 5,38%. Pemerintah hanya memiliki 14,29% dan sisanya untuk publik sebanyak 15,33%. Bahkan Telkomsel yang mengaku Paling Indonesia dengan pelanggan lebih dari 100 juta saja sebanyak 35% sahamnya dimiliki oleh perusahaan Singapura SingTel Mobile dan sisanya 65% dikuasai Telkom.
Perusahaan swasta lebih besar lagi. Sebanyak 66,7% saham XL dikuasai Axiata Group Berhad, Malaysia. Kemudian Etisalat memiliki 13,3% dan sisanya 20% untuk publik. Hal serupa untuk Axis dan Tri yang semuanya milik asing. Praktis, hampir semua frekuensi telekomunikasi Indonesia dikuasai oleh asing.
Sementara itu dari sisi jaringan sudah jelas. Belum ada satupun perusahaan nasional yang memiliki kemampuan untuk mengelola jaringan telekomunikasi. Saat ini ada empat vendor yang dipercaya mengelola jaringan telekomunikasi operator di Indonesia yang semuanya adalah asing. Dua dari dari Eropa yakni Nokia Siemens Network dan Ericsson. Dua lagi dari China yakni Huawei dan ZTE.
Bagaimana dengan perangkat dari sisi end user? Saat ini sudah banyak beredar hape lokal yang harganya murah meriah seperti merek NexianHT Mobile, TiPhone dan lainnya. Tetapi itu hanya sekadar merek, karena pesannya masih dari China. Sedangkan NokiaBlackBerrySony EricssoniPhoneSamsungLGHTC dan lainnya jelas-jelas merek global dari luar negeri.

17 Agustus

17 Agustus, hari dimana indonesia mendapatkan kemerdekaan, benarkah itu? jujur saya meragukan hal ini.
Karena menurutku indonesia hanya terbebas dari penjajah luar, tapi masih belum bebas dari penjajah dalam negeri. Bagaimana tidak, kemiskinan masih tersebar di penjuru bangsa ini, perbudakan masih begitu kental menyatu pada negeri ini. Hanya saja penjajahan di Indonesia saat ini tidak secara langsung.

Inikah kemerdekaan yg diperjuangkan oleh pahlawan kita? inikah kemerdekaan yg begitu di idam-idamkan oleh para pendahulu kita? saya rasa tidak. Saat mereka berperang hanya satu kata yg menjadi penyemangat mereka, kata itu adalah ‘MERDEKA!!’. Setelah terbebas dari penjajahan fisik indonesia tampaknya Indonesia harus terus berusaha melawan penjajahan ekonomi, penjajahan fikiran dan penjajahan Kekuasaan.
Semakin hari Indonesia semakin terpuruk, krisis ekonomi? hah itu sudah menjadi pemandangan yg biasa di negeri ini, Lebih hebatnya lagi kini indonesia tidak hanya mengalami krisis ekonomi tapi juga krisis ‘KEJUJURAN’, krisis ‘KEPEMIMPINAN’ dan krisis ‘PERSATUAN’.

Melihat Dirgahayu Indonesia kali ini tidak sesemangat merayakan Dirgahayu tahun sebelumnya, karena bulan puasa? kurasa bukan itu alasannya, yah Dirgahayu indonesia kali ini tidak sesemangat tahun-tahun sebelumnya karena keprihatinan akan terpuruknya bangsa ini. Ntah berapa lama Indonesia dapat bertahan dalam keadaan yg seperti ini, yang jelas jika Indonesia tetap tidak berubah maka Indonesia akan HANCUR.

Kini Dirgahayu Indonesia hanya dirayakan oleh orang2 tertentu, diantaranya adalah para keturunan pahlawan, pegawai negeri, siswa, dan dari partai-partai politik, dan yang saya lihat hanya keturunan pahlawan yg benar2 mengetahui betapa pentingnya detik-detik proklamasi itu, sedangkan pegawai negeri, siswa, partai-partai politik dan pejabat2 negara sepertinya melakukan upacara hanya sebagai kewajiban bukan sebagai kesadaran.

Di daerah terpencil masyarakat dengan sendal dan pakaian seadanya pergi berbondong-bondong ke lapangan upacara untuk melaksanakan upacara 17 agustus. Sedangkan dikota besar para pejabat yg memiliki sepatu dan jas yg bagus untuk melaksanakan upacara malah mencari alasan untuk tidak mengikuti upacara, padahal diantara mereka bahkan berbaris di bawah tenda.

Yah begitulah Indonesia semoga saja Dirgahayu kali ini dapat disertaik dengan semakin dewasanya rakyat dan pemimpin nya.