(Mengapa) sudah tua baru belajar?

(Mengapa) sudah tua baru belajar?

(Mengapa) sudah tua baru belajar?

Seribu asumsi bisa saja muncul, namun hanya beliaulah yang satu-satunya mengerti. Meski dengan pendekatan super canggih hingga disebut ilmiah, tapi asumsi tetap saja asumsi.

Hati-hati, asumsi sering kali melahirkan orang-orang sok ngerti.

Toh tidak semua hal di dunia ini harus kita mengerti. Apalagi tentang hidup orang lain, apa yang membuat kita berhak memainkan peran paling mengerti?

Di dunia ini sudah terlalu banyak orang yang merasa dirinya paling mengerti. Dengan latar belakang yang “katanya” terpelajar, mereka merasa berhak menjadi yang paling benar lalu berperangai kurang ajar.

 

Read more

Weird Happiness

Weird Happiness

Sometimes I miss my childhood…

In a way where, my happiness was just so simple. Even a stupidity of false belief could bring happiness in my daily.

I remember when I was a kid, on 6th birthday my dad gave me a special present. Guess what, when other kids got a roller skate, PlayStation, or remote controller car, my dad gave me… a couple of CHICKENS. Yeah it was a rooster and a hen.

To be honest, I didn’t have a clear idea about the reason why my dad gave me a couple of chickens. At least the reason for why should it be on my birthday. Seriously, what kind of dad give his beloved son a couple of teen chickens on the special day?

Probably he wanted me to learn how to share love, or probably he saw my quality as a caretaker and visualized me to be an eminent breeder in the future.

From the way the chickens seeing each other I can say: those teen chickens were falling in love, ready to make a further commitment as a family. And I knew, I was the third wheeler in their relationship. Thanks dad, I learnt how to be a third wheeler since my early age. Pffttt…

Read more

Conflict Management

Conflict Management

Conflict is an inevitable part of life. We have experience so many situations with conflicts in it. Poor interpersonal communication for most of the time become the number one factor that flares up a simple disagreement into a resentment or worse.

It is human to disagree. Conflict can either be good or be bad, the essential part is to manage them. With a good management, conflict might produce a great solution. On the contrary, with a bad management, it might be ended up as a terminal friction.

Conflict might be ended up with exhausting, stressful, broken relationships and lost of opportunities or it can deepen our connection to the people we care about. It can provoke useful conversation with people with whom we disagree. Conflict can give us the momentum and the opportunity to talk about what matters.

Most of the time the advice you get to manage the conflict is “communication“. But sometimes talking about it seems to make it worse. The other advice is “to compromise“. But it is not always easy to compromise with people who are in the same conflict. Moreover, when you are drowning in the sea of negative emotions.

I’m sure all of aforementioned advice is well-intentioned. But it treats conflict as if it’s a problem.

What if conflict isn’t a problem, what if it’s a solution.
What if it’s not negative, but full of beauty?

Read more

4 x 6 = 6 x 4???

Sebenarnya berita ini sudah dari sebulan yang lalu, hanya saja baru sekarang saya dapat meluangkan waktu untuk menuliskan opini saya mengenai kasus ini.
Masalah sepele, 4 x 6 apakah sama dengan 6 x 4?, hanya sesederhana ini. Akan tetapi persoalan ini telah mengundang banyak pakar untuk angkat bicara mengenai masalah ini, katakan saja pakar fisika Indonesia bapak Yohanes Surya, dan Iwan Pranoto, profesor matematika dari Institut Teknologi Bandung. Siapa yang tak kenal mereka berdua, nama-nama besar para cendikiawan indonesia. Selain itu termasuk jugalah dosen-dosen saya di Universitas Islam Indonesia yang saya nilai beliau-beliau ini adalah orang-orang hebat. Bagaimana mungkin banyak orang-orang hebat yang mendebatkan masalah semudah ini.

Pemikiran saya pada saat pertama kali melihat gambar tersebut adalah kakak yang terlalu egois dan terlalu memenangkan adiknya. Banyak orang yang memenangkan sang kakak, banyak juga yang setuju dengan tindakan gurunya.

Orang biasa akan berfikir sekali, orang pintar akan berfikir dua sampai tiga kali, tapi orang yang hebat akan berfikir berkali-kali. Yah memang hasil 4×6 sama dengan 6×4, setidaknya itu teori dasar yang diajarkan kepada kita di sekolah dulu. Tapi semakin kamu berfikir kritis kamu akan menyadari bahwa 4×6 belum tentu sama dengan 6×4. Orang biasa, akan menjawab 4×6 sama dengan 6×4, dan mereka akan menghina guru tersebut karena dinilai tidak kreatif dan terlalu kaku. Tapi orang yang sedikit lebih kritis akan setuju dengan tindakan guru karena mereka menilai ada konsep dasar yang harus diketahui oleh setiap anak. Saya pribadi langsung berfikir untuk mendukung gurunya, walaupun hal ini didorong juga oleh tidak setuju nya saya atas tindakan yang diambil oleh kakaknya.

Menurut saya pendidikan di Indonesia terlalu mementingkan hasil, bukan proses. Hal ini lah yang membentuk mental anak bangsa menjadi kurang baik. Sampai ia dewasa maka ia akan terus menghargai nilai bukan prosesnya. Pantas saja banyak pejabat yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil yang ia inginkan tanpa mau berusaha dengan keras. Beberapa mahasiswa membeli gelar, membayar orang untuk mengerjakan tugas, demi mendapatkan hasil yang setara. Hasilnya sama, SARJANA, tapi kualitasnya berbeda. Lantas, apakah mereka pantas mengeluh dengan negeri ini karna minimnya lapangan kerja? saya rasa tidak, jika mereka memang lulusan berkualitas maka pekerjaanlah yang akan mencari mereka.

Menurut saya ada proses yang harus mereka pelajari dari 6×4 dan 4×6. Tidak hanya mengetahui bahwa itu sama, tapi juga tau teori dasar mereka. Lagi pula matriks 6×4 berbeda dengan 4×6, aturan minum obat 2×3 berbeda dengan 3×2, dan jika berfikir kearah yang lebih teknis maka akan banyak sekali alasan kenapa 6×4 tidak sama dengan 4×6.

Kedua pakar yang saya sebutkan tadi juga tak satupun mengatakan bahwa 6×4 dan 4×6 itu sama. Hanya saja pak Yohanes surya lebih menekankan untuk mengikuti proses yang ada dan menurut saya beliau lebih mensupport kearah tindakan si guru. Sedangkan pak Iwan Pranoto lebih mendukung si siswa karena menimbang bahwa mereka masih kelas 2 SD, bukan saatnya mereka berfikir terlalu kritis. Menurutnya yang penting adalah si anak mengerti kenapa 6×4 sama dengan 4×6. Jika mereka mengerti alasan dibalik kedua perhitungan tersebut maka sudah cukuplah bagi si guru untuk membenarkan jawaban si anak. Bagaimana pun mental anak akan jatuh ketika diberi nilai 20, dan tentu itu tak baik bagi si anak.

Membaca pernyataan pak Iwan tadi serentak wajahku terasa ditampar. Jika aku memaksakan pola fikir taknis ku kepada si anak maka itu sama saja menyuruh bayi untuk melakukan lompat jauh, jangankan untuk lompat jauh, untuk berjalan saja ia masih sulit. Bukan saatnya untuk anak sekelas 2 SD untuk memikirkan hal rumit seperti yang telah saya fikirkan. Cukuplah bagi dia mengetahui alasan kenapa 6×4 dan 4×6 itu sama.

Menurutku jawaban pak Iwan ini sangat hebat, ia mengerti bahwa 6×4 dan 4×6 itu tidak sama. Akan tetapi ia tidak memaksakan pemikiran dia ke anak sekelas 2 SD seperti yang dikatakan orang2 pintar diluar sana. Jawaban pak Iwan ini begitu membangun, ia dapat menegur si kakak juga dapat menasehati guru. Sebuah jawaban langka yang hanya dikeluarkan oleh orang yang hebat.

Passenger – Let Her Go



Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go
Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you’ll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast
You see her when you close your eyes
Maybe one day you’ll understand why
Everything you touch surely dies
But you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
‘Cause love comes slow and it goes so fast
Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
‘Cause you loved her too much
And you dived too deep
Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go (oh, oh, ooh, oh no)
And you let her go (oh, oh, ooh, oh no)
Will you let her go?
‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go



The Hidden Lessons

Today 5 mei 2013 is one of the greatest day in my life. This is the day i’ve been waiting for. I’ve sacrifice almost everything for this day. I’ve gave my time, my energy, my mind, my “comfortable zone”, and many things for this day. I almost wasted 5 months focusing for this day, worked almost everyday. But the final result is not comparable at all.

How many nights i’ve passed for this things, how many ideas that i’ve gave for this, how much energy that i’ve gave, moreover i even didn’t care if i was sick or not. Just keep working on this thing. Keep thinking optimist that every sacrifice will rewarded in kind. Keep giving beyond my limitation.

I cutted my holiday for work on this, i leave my family just for this. I canceled my plan to do my hobbies “travelling”. I didn’t join my friends party just because of this. I cutted my time for doing sport, doing assignment, playing with friends and any other things.

They say “the more you give, the more you receive”. Sometimes there are so many questions in my mind, what’s wrong with me?, what’s wrong with my sacrifice?.  Sometimes i afraid about that sentence, and sometimes i wonder if i could keep that sentence in mind.

Now what ever the result, what i can do is to entertain myself. Hopefully god will reward every sacrifices in different way and it much sweater than a glory. Now i just try to believe that god give you failure is to sweetten the glory, because the glory would be meaningful when you know defeat. Now i try to appreciate what i’ve got, try to proud what ever the result. Try to entertain so i can hold on this way. It was over, there is no point to regret. Regret just makes us more frustate, and the more we frustate the more we cann’t get back up. Try to find the hidden lesson of this failure, start to learn from the problem. Think optimist, if i had sacrificed that much, what about the winner. I believe there is no luck in competition, they work much harder than us.

It was bitter, but its not my style to be frustate. I’m gonna keep moving to chase my other dream, i’ll start to build up my biggest dream. The dream which is forgotten because of this project.

Scores Are Not Everythings

I used to say that scores ARE NOT the everythings, but the fact say that everythings NEED the scores. am i wrong to say that scores aren’t the everythings? because according to me scoresare just a formality of our education. so, why is the everybody got stress when they got a bad score, when unfortunately the subject have not any relation for our carrier.

It seems like everybody say that you need to have a good  score then have a good skill. and the question is are you sure that your  score will help you to through this life? i guess not. In the fact you just need the  scores when you want to get a job, after you get the job you will not need the  scores anymore.

Maybe this is the illustration of our education, you study – you take the test – you pass it – you forget what you learnt and smile you are an engineer. is this what you want? you waste your time in school just to pass the test, graduate from the school and  get the certificate and  the title, and after all you take a good job without any skill in your mind. its sounds fools but many people take this way. they just waste their time to take the certificate and the title. And when they get the job, they should learn from the begining, because they know nothing about their carrer. And it means the instance have add a new incompetent person. How can this country will be better if the worker haven’t a good skill.

Maybe some people said that their  scores will make another people knows them as a smart person. But i’ve learn form my friends in the senior high school. He is very genious and he was smart in all of the subject, but he never see the  scores as the first priority, but the quality is the first. Maybe he have no very high  scores , but he have very high quality, he have skill in every subject and absolutely he have something that i guess its much better than a high  scores . Maybe he is not the first rank, but everybody know he is the best. So i think the oppinion that  score will make your name femouse is not true.

Many people said the  scores will make your future brighter, and once again i say thats not true. There are so many engineer are unemploye, there are so many people who study hard for their education but haven’t any job. And can you see that education is not the first element to get the succesfull, did you see there are many people who had low education but they can handle higher position in the office than the people who had high education.

Perpisahan

Perpisahan, ada awal kan ada akhirnya, semua materi memiliki batas ruang dan waktu, hanya saja kapan itu berakhir tak ada yang mengetahui.

Banyak orang mengatakan bahwa tidak menyukai perpisahan. Tapi mengapa mereka tidak pernah berkata membenci pertemuan?, bukankah semua pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahan. Mengapa kita harus senang dengan suatu awal jika kita membenci akhirnya..

Aku akui perpisahan memang perih, apalagi ketika berpisah dengan mereka yang kita sayangi, ku akui hatiku menjerit dan ingin menangis saat berpisah, tapi semua itu tak ku lakukan agar aku tetap kuat dan tidak terlarut dalam kesedihan.

Memang benar pertemuan sering kali membuat kita terlena hingga kita terlupa bahwa semua pasti berakhir, tapi dengan perpisahan jugalah kita menjadi lebih mengerti arti sebuah pertemuan.

Mungkin kata-kata diatas benar, saat aku disana bersamanya aku merasa dia biasa saja, tapi setelah aku meninggalkannya dan melihat kebelakang, aku mengerti betapa besarnya orang tersebut di dalam hidupku.

MERANTAU

Merantau, kata itu lah yg sebentar lagi akan ku jalani. Ntah apa yang aku fikirkan hingga aku memutuskan untuk pergi merantau, semua alasan begitu abstract di dalam fikiranku dan kini tak ada jalan untuk kembali, aku harus melanjutkan langkah yang sudah kumulai.

Ku harap perantauanku ini bukan untuk meninggikan ego, kuharap akal sehat dan komitmenku jauh lebih besar daripada egoku, dan sungguh ku berharap bahwa cita-citaku ini tidak hanya untuk kesenangan sementara.

Dari berbagai aspek telah kupertimbangkan, akreditasi, pergaulan, kualitas teman, fasilitas, hingga tekad untuk menjadi lebih dewasa pun telah aku pertimbangkan, tapi ntah mengapa semakin dekat waktuku untuk melangkah aku semakin meragu.

“Yakin dan bersungguh-sungguhlah dalam suatu pekerjaan, maka semua akan indah pada waktunya”, kalimat itulah yg selalu menjadi kata-kataku saat meyakinkan orang tua, tapi kini bahkan diriku sendirilah yang meragukan kalimat itu.

Memang benar semua tekadku untuk merantau bukanlah tekad yang tidak beralasan, semua nya sungguh cita-cita yg baik bagiku, karena aku bertekad bahwa aku harus berprestasi dalam bidangku ini, aku harus menjadi orang yang berguna saat aku selesai dari studiku ini. Tapi kini aku ragu, aku takut kalau ini hanya keinginan sesaat, aku takut bidang ku ini hanyalah hobi sementara ku saja dan aku takut ilmu yang ku miliki ini tak dapat diterapkan dalam kehidupan sebenarnya.

Ya ALLAH, tunjukanlah jalan yang terbaik bagiku, kuatkanlah pundakku agar mampu menopang semua tanggung jawab ku, Ya ALLAH kuserahkan semua kehidupan ku hanya di jalanmu.