Negara yang “Katanya” Bermoral

Negara yang “Katanya” Bermoral

Dalam sebuah percakapan mengenai moral:

Ngapain sih ngikutin negara barat? Udh jelas-jelas liberal dan sekuler. Mau ngancurin moral bangsa?

Guys, sebelum ngehakimin negara-negara yang nggak bermoral, yuk kita introspeksi diri dulu.

In my humble opinion, kata “bermoral” itu sendiri sangat subjektif. Bagaimana sih nentuin standar moralitas? Apakah seseorang hanya dikatakan bermoral kalau dia memiliki paham yang sama dengan kita?

 

Atau mungkin coba kita lihat data:

Negara yang katanya bermoral dan beragama ini menduduki posisi ke-96 di dunia untuk indeks korupsi, sedangkan negara yang kamu bilang amoral seperti Amerika menduduki posisi 16, sedangkan Inggris di posisi 8 dunia [1]. Di negeri yang katanya bermoral ini korupsi udh mengakar bahkan di lapisan paling bawah masyarakat. Nggak heran kalau sering ada “mark up” pada proses pelaporan.

Negara yang katanya bermoral ini memiliki angka perokok tertinggi di dunia dengan 76.2% laki-lakinya merokok, sedangkan Amerika hanya 19.5% dan Inggris 19.9%. Bahkan Australia hanya 16.7% [2]. Selain itu, di negara bermoral ini rokok bisa diakses dengan murah oleh siapapun dan dimanapun, bahkan anak kecil ngerokok udah sering ditemuin. Sedangkan di negara yang kamu bilang amoral seperti Amerika dan Inggris, mereka menjual rokok dengan harga yang tinggi, selain itu mereka juga punya regulasi ketat untuk umur pembelian rokok [3], [4]. Read more

Politik Identitas

Politik Identitas

DisclaimerArtikel ini hanya bersifat pendapat pribadi tanpa intervensi dari pihak lain dan tanpa ada maksud menyindir pihak tertentu. Jika terjadi perbedaan perspektif dalam memaknai toleransi beragama, tolong salahkan diriku, jangan agamaku. 

Kondisi perpolitikan Indonesia sedang memasuki sejarah yang paling menyedihkan. Semenjak serangkaian turbulensi yang terjadi pada pemilihan gubernur Jakarta 2017 silam, memang kondisi keberagaman masyarakat Indonesia mulai terganggu. Terutama dalam hal polarisasi etnis dan agama; misalnya saja kasus identitas etnis pribumi, penyerangan agama di beberapa provinsi, sampai pengusiran biksu di Tanggerang.

Hal ini menggelitik saya untuk menulis artikel politik, apalagi setelah mendengar pernyataan wakil ketua DPR RI yang mengatakan “Politik Identitas bukanlah suatu masalah“. Bahwa alasan memilih pemimpin berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan adalah hal yang wajar.

Hal ini sangat mengejutkan karena pernyataan itu keluar dari elit bangsa yang seharusnya mampu membawa persaingan politik kearah yang lebih rasional.

Read more

Generasi Pembelajar

 

Saat rantau menawarkan beribu goda dan harapan,
kampung halaman terasa sungguh meragukan.

Di bawah naungan bujuk rayu materi,
tanah air terasa hanya sekedar melankoli.

Wajar jika keraguan merajalela,
Indonesia tampak belum menjanjikan apa-apa.

Tapi ibu pertiwi tak pernah bosan memanggil,
perantau kuyup dengan perasaan sentimentil.

Dipantik oleh ingatan dan kenangan,
rindu tanah air kelahiran pasti tak tertahankan.

Namun kepulangan jangan semata memuaskan kerinduan,
Indonesia butuh sumbangsih mereka yang berpengetahuan.

Begitu banyak agenda bersama yang harus direalisasikan,
mimpi dan harapan yang harus jadi kenyataan.

Kami amat risau menunggu,
kepulangan kalian yang sedang berguru.

Pulanglah kapanpun kalian mau,
saudara-saudaramu juga sangat ingin maju.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung,
kita bikin Indonesia menjadi bangsa yang agung.

Mata Najwa, Generasi Pembelajar
21 November 2016.

Read more