Know Thyself

Know Thyself

Around 2400 years ago in Athens of Greece, there lived a cute boy from one of the wealthiest and the most influential families. His father provided every facility for his development. Grammar class, music class, gymnastics class, ballet class, all from the greatest teachers in the city. Wait, I guess he didn’t take ballet class. But he grew very well, sharp and talented; unfortunately, without the ballet skill. People recognized him as a bright though modest boy who excelled in his studies.

Raised in the era of philosophy, he studied under some of the era’s most distinguished teachers: Socrates. He learned a lot about Socrates’ philosophy. One of them is how to reach the state that he termed: “Eudaimonia” which means ‘fulfilment’. Unlike Socrates who never wrote anything about his thoughts, this boy wrote lots of them. He wrote 36 books, all dialogues with his teacher beautifully crafted scripts of imaginary discussions. These then became the root of modern philosophy.

A few years went by. Then a few more. And then . . . nothing happened.  Just a little bit older, but still cute. He then created his own philosophy. One of them is the idea of how to reach Eudaimonia: “Think Harder”. In his opinion, our lives go wrong because we barely give ourselves time to think carefully and logically about our lives and how to live them. So we end up with the wrong values, careers and relationships. Read more

For the first time, I brave myself to change

For the first time, I brave myself to change

After I was overwhelmed with lots of things in my surrounding, I decided to change myself completely. Ya I decided to be bald.

I am bored of following popular opinions, while I actually have a different perspective about them.

I am sick of pretending to be okay, when in fact I’m actually not.

I am tired of being people pleaser and sacrificing my own happiness.

I am exhausted of being nicely fit in to society, while in reality every piece inside me is screaming because it doesn’t fit my personality.

Read more

Kak kenapa suka dancing in the rain?

Kak kenapa suka dancing in the rain?

Someone once told me:

“Cloudy does not always mean sad”

Even if you’re in sorrow, it is important to remember that you’re not alone in the sadness, even the world cries, even the sky that holds everything together fall a part from time to time.

And if you’re in joy. Don’t be afraid to express it even in the most childish way. It will make you feel more delighted, it will amplify your happiness, it will liberate you.

Read more

Ketakutan

Tiba-tiba muncul quote yang di-post oleh salah satu rekanku di jejaring sosial:

Too many of us are not living our dreams because we are living our fears.” – Les Brown

Quote ini cukup menggelitik, karna disatu sisi ada benarnya, disisi yang lain aku juga tidak begitu setuju.

Aku memiliki teori hina bahwa:

“Setiap orang di dunia hidup dalam ketakutan. Perbedaannya, bagaimana cara mereka mengendalikan ketakutan mereka.”

Disadari atau tidak, kita tumbuh dan dididik dari ketakutan. Read more

Filosofi Kopi

So gua mau cerita tentang sebuah film yang buat gua penasaran sampe hampir 2 tahun, judulnya filosofi kopi. Sebenarnya gua bukan fans film2 remaja, tapi review teman2 dan mulai menjamurnya kopi membuat gua penasaran setengah mati. Well judulnya sih berat ya, embel-embelnya pakai “filosofi”, tapi menurut gua filmnya overrated banget. Ok di film dikatakan ada beberapa nama kopi yang memiliki makna tertentu. Tapi menurut gua maknanya itu nggak begitu mengena sampai harus dikatakan sebagai suatu filosofi. Justru yang guadapat malah filosofi yang dibuat-buat mengikuti resep kopi yang ada. Setidaknya itulah persepsi yang gua dapatkan sebagai seseorang yang tidak begitu mengerti kopi. Apalagi punch line nya hanya masalah buat kopi pakai hati atau obsesi. Sesuatu yang menurut gua terlalu mainstream dan udh diulangi oleh ratusan film lainnya.

Img src: muvila

 

Ok sebelum gua akhiri, gua mau minta maaf kepada semua pecinta kopi karna mungkin opini gua yang tidak sejalan dengan kalian. Kembali lagi posisi gua disini bukan penggila kopi, tapi cukup gila dengan hal-hal yang berbau filosofis. Thanks…

4 x 6 = 6 x 4???

Sebenarnya berita ini sudah dari sebulan yang lalu, hanya saja baru sekarang saya dapat meluangkan waktu untuk menuliskan opini saya mengenai kasus ini.
Masalah sepele, 4 x 6 apakah sama dengan 6 x 4?, hanya sesederhana ini. Akan tetapi persoalan ini telah mengundang banyak pakar untuk angkat bicara mengenai masalah ini, katakan saja pakar fisika Indonesia bapak Yohanes Surya, dan Iwan Pranoto, profesor matematika dari Institut Teknologi Bandung. Siapa yang tak kenal mereka berdua, nama-nama besar para cendikiawan indonesia. Selain itu termasuk jugalah dosen-dosen saya di Universitas Islam Indonesia yang saya nilai beliau-beliau ini adalah orang-orang hebat. Bagaimana mungkin banyak orang-orang hebat yang mendebatkan masalah semudah ini.

Pemikiran saya pada saat pertama kali melihat gambar tersebut adalah kakak yang terlalu egois dan terlalu memenangkan adiknya. Banyak orang yang memenangkan sang kakak, banyak juga yang setuju dengan tindakan gurunya.

Orang biasa akan berfikir sekali, orang pintar akan berfikir dua sampai tiga kali, tapi orang yang hebat akan berfikir berkali-kali. Yah memang hasil 4×6 sama dengan 6×4, setidaknya itu teori dasar yang diajarkan kepada kita di sekolah dulu. Tapi semakin kamu berfikir kritis kamu akan menyadari bahwa 4×6 belum tentu sama dengan 6×4. Orang biasa, akan menjawab 4×6 sama dengan 6×4, dan mereka akan menghina guru tersebut karena dinilai tidak kreatif dan terlalu kaku. Tapi orang yang sedikit lebih kritis akan setuju dengan tindakan guru karena mereka menilai ada konsep dasar yang harus diketahui oleh setiap anak. Saya pribadi langsung berfikir untuk mendukung gurunya, walaupun hal ini didorong juga oleh tidak setuju nya saya atas tindakan yang diambil oleh kakaknya.

Menurut saya pendidikan di Indonesia terlalu mementingkan hasil, bukan proses. Hal ini lah yang membentuk mental anak bangsa menjadi kurang baik. Sampai ia dewasa maka ia akan terus menghargai nilai bukan prosesnya. Pantas saja banyak pejabat yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil yang ia inginkan tanpa mau berusaha dengan keras. Beberapa mahasiswa membeli gelar, membayar orang untuk mengerjakan tugas, demi mendapatkan hasil yang setara. Hasilnya sama, SARJANA, tapi kualitasnya berbeda. Lantas, apakah mereka pantas mengeluh dengan negeri ini karna minimnya lapangan kerja? saya rasa tidak, jika mereka memang lulusan berkualitas maka pekerjaanlah yang akan mencari mereka.

Menurut saya ada proses yang harus mereka pelajari dari 6×4 dan 4×6. Tidak hanya mengetahui bahwa itu sama, tapi juga tau teori dasar mereka. Lagi pula matriks 6×4 berbeda dengan 4×6, aturan minum obat 2×3 berbeda dengan 3×2, dan jika berfikir kearah yang lebih teknis maka akan banyak sekali alasan kenapa 6×4 tidak sama dengan 4×6.

Kedua pakar yang saya sebutkan tadi juga tak satupun mengatakan bahwa 6×4 dan 4×6 itu sama. Hanya saja pak Yohanes surya lebih menekankan untuk mengikuti proses yang ada dan menurut saya beliau lebih mensupport kearah tindakan si guru. Sedangkan pak Iwan Pranoto lebih mendukung si siswa karena menimbang bahwa mereka masih kelas 2 SD, bukan saatnya mereka berfikir terlalu kritis. Menurutnya yang penting adalah si anak mengerti kenapa 6×4 sama dengan 4×6. Jika mereka mengerti alasan dibalik kedua perhitungan tersebut maka sudah cukuplah bagi si guru untuk membenarkan jawaban si anak. Bagaimana pun mental anak akan jatuh ketika diberi nilai 20, dan tentu itu tak baik bagi si anak.

Membaca pernyataan pak Iwan tadi serentak wajahku terasa ditampar. Jika aku memaksakan pola fikir taknis ku kepada si anak maka itu sama saja menyuruh bayi untuk melakukan lompat jauh, jangankan untuk lompat jauh, untuk berjalan saja ia masih sulit. Bukan saatnya untuk anak sekelas 2 SD untuk memikirkan hal rumit seperti yang telah saya fikirkan. Cukuplah bagi dia mengetahui alasan kenapa 6×4 dan 4×6 itu sama.

Menurutku jawaban pak Iwan ini sangat hebat, ia mengerti bahwa 6×4 dan 4×6 itu tidak sama. Akan tetapi ia tidak memaksakan pemikiran dia ke anak sekelas 2 SD seperti yang dikatakan orang2 pintar diluar sana. Jawaban pak Iwan ini begitu membangun, ia dapat menegur si kakak juga dapat menasehati guru. Sebuah jawaban langka yang hanya dikeluarkan oleh orang yang hebat.

Chess and My philosophy

Chess and My philosophy

Hey guys, today i wanna share my opinion about one of my favorite game, it is chess game. Since i was a kid, i’ve been interested in this game. He was my father who taught me how to play this game. I learnt it at 8 years old and since then i love this game so much. I love this game because for me this game is not only about the way of your thinking, it also show your maturity.  
First of all, let me give you some information about this game. Chess is a two-player strategy board game played on a chessboard. The chessboard consist of 64 squares arranged in an eight-by-eight grid. Each player begins the game with 16 pieces, it is one king, one queen, two rooks, two knights, two bishops and eight pawns. Each of the six piece types moves differently. The objective is to ‘checkmate’ the opponent’s king by placing it under an inescapable threat of capture.

Read more

Wonderland

Wonderland

Wonderland, actually it’s just in my imagination, a land with a million dreams which lately i called it as wonderland. It’s inspired by “One Piece” soundtrack, one of the best kid story that i’ve ever read. I’ve been read this story since i was in the 6th grade of primary school. Its have been 761 episodes, and i don’t even feel bored to read this story. I love this story because it has a lot of moral values, and i’ve learnt a lot of life lessons from that story.

It’s a story about a journey of some people. A journey to find “One Piece”, one thing that no one even knows what it is, and no one knows where it’s hiding, but the legend said that “One piece” is the greatest treasure in the world. These people keep believing in that legend, they are keep looking for it, they travel the world just to get that “One piece”, never feel tired, never feel exhausted. They started the journey with nothing but spirits. Throughout their travel they encountered many problems, but they never give up, the lessons from the journey make them even stronger and wiser.

Read more