Embrace Yourself

Embrace Yourself

When I ask you about your first love. I am silently wishing that you’re going to say your own name.

So that I know, every choice that you make is based upon your conscience. So if one day you ask me to be on your side, I know that it will be your final decision.

So before that, please embrace yourself. Be alone, eat alone, and take yourself on dates. Only then you could learn about yourself in a deeper level. Only then you could hear the whisper of your heart.

Kampanye

Alkisah ada seorang laki-laki yang mengikuti kampanye malaikat dan setan.

Si lelaki mengikuti kampanye malaikat di surga, ia melihat suasana yang tenang, setiap orang beribadah masing-masing, seluruh warganya berpakaian panjang dan lebar. Malaikat berkata “kami menawarkan anda suasana kondusif untuk beribadah, aturan yang ketat untuk mengangkat martabat semua orang, tapi sayangnya kami hanya mengizinkan makanan halal untuk kebaikan bersama”.

Kemudian si lelaki mengikuti kampanye setan ke neraka, ia melihat  narkoba dilegalkan, minuman keras menjadi wajar, pakaian wanita seksi dan pergaulan bebas menjadi lumrah. Lalu setan berkata “kami menawarkan kebebasan, tidak ada aturan yang mengikat, makanan bebas tak perlu perizinan. Martabat kita semua sudah tinggi, tak perlu ada aturan yang mengikat. Semua yang kami sediakan adalah kebahagiaan.”

Si lelaki pun mantap dengan pilihannya mengikuti setan. Begitu ia mengikuti setan kedua kalinya, semuanya berbeda, neraka penuh dengan penyiksaan. Manusia sudah seperti zombi karena tubuhnya hancur disiksa. Tidak ada kebahagiaan, yang ada hanya tangisan dan teriakan penyesalan.

Lalu si lelaki protes kepada setan “Ini tidak seperti yang engkau janjikan, bukan ini pilihan yang saya inginkan”.

Lalu setan menjawab “Lha kemarin kan baru kampanye, suka2 aku dong gimana caranya menarik simpatisan”.

 

Jika kau sibuk, kapan kau sempat?

Kalau kau sibuk berteori saja
Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?
Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja
Kapan kau sempat memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja
Kapan kau sempat menikmati hidup?
Kalau kau sibuk menikmati hidup saja
Kapan kau hidup?

Kalau kau sibuk dengan kursimu saja
Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?
Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja
Kapan kau menyadari joroknya?

Kalau kau sibuk membodohi orang saja
Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?
Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja
Kapan orang lain memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk pamer kepintaran saja
Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?
Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja
Kapan kau pintar?

Kalau kau sibuk mencela orang lain saja
Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?
Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja
Kapan kau menyadari celamu sendri?

Kalau kau sibuk bertikai saja
Kapan kau sempat merenungi sebab pertkaian?
Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja
Kapan kau akan menyadari sia-sianya?

Kalau kau sibuk bermain cinta saja
Kapan kau sempat merenungi arti cinta?
Kalau kau sibuk merenung arti cinta saja
Kapan kau bercinta?

Kalau kau sibuk berkutbah saja
Kapan kau sempat menyadari kebijakan kutbah?
Kalau kau sibuk dengan kebijakan kutbah saja
Kapan kau akan mengamalkannya?

Kalau kau sibuk berdzikir saja
Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri?
Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja
Kapan kau kan mengenalnya?

Kalau kau sibuk berbicara saja
Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?
Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja
Kapan kau mengerti arti bicara?

Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja
Kapan kau sempat berpuisi?
Kalau kau sibuk berpuisi saja
Kapan kau akan memuisi?

(Kalau kau sibuk dengan kulit saja
Kapan kau sempat menyentuh isinya?
Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja
Kapan kau sampai intinya?
Kalau kau sibuk dengan intinya saja
Kapan kau memakrifati nya-nya?
Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja
Kapan kau bersatu denganNya?)

“Kalau kau sibuk bertanya saja
Kapan kau mendengar jawaban!”

By : K.H Mustofa Bisri

Illogical

How she smiles at me,
that’s how I find peace within my soul.
It sounds ridiculous, and it’s always the
way it happened. The only way my mind
cannot agree with my heart.

Her smile is irresistible to me.
Just like a drug, so beautiful, so fantastic.
In the other side, it is also so dangerous,
so wild, and yet addictive. And every time
I see it, I cannot refrain to keep staring on it.
I know I should have stopped all the things
before it’s gone too far. But I just can’t.

Her existence is like drinking salt water
>while thirst devouring my tongue.
I perhaps feel a little bit better at the
beginning, a little bit less thirsty for awhile.
But it wouldn’t be so long before my tongue
agonizing more pain of thirst.

It repeated every time we met.
My brain rebels while my heart enjoys the flow.
And there are illogical things happened in between.

Rahmalianto, 31 May 2016

Love Letter

Dear Adiks,
 
I used to hate saying “I Love You” and others flirting words to a girl. Besides it sounds cliche for me, I also believe that action speaks louder than words. I used to laugh at other guys when they flirt on their girls. But do you know what? Now there are thousands similar words swarm inside my head urge to be expressed, and I bet you don’t want to hear all of those boring words. I need to make it short but how am I suppose to express all of them? While those common three words can’t even depict the magnitude nor the depth of my emotions. I want to be able to create a new metaphor that would erupt like a volcano when you read my message, so hopefully you will understand my heart condition now. Unfortunately I can’t, this is just too much, I’m not a poet who can produce romantic sentences like all women always dreamed of. Instead of being romantic, I’d prefer to illustrate my feeling in the way I treat you, the way I share my affection. But special in this occasion, please let me show my tremendous feeling by saying “I LOVE YOU MY DEAREST!!!”.
 
Deepest feeling 
Kakaks
 
 
 

Diam


Ketika bercerita tak lagi menjadi pilihan yang baik
Ketika suara tak lagi mendapat tempat untuk dipertimbangkan
Ketika kata yang didengar tak lagi sama dengan kata yang terucap
Seketika itulah diam menjadi cara yang terbaik


Mungkin aku yang salah…

Memang tak seharusnya memohon kemakluman atas apa yang tidak pantas untuk dimaklumi
Dan tidak ada yang dapat menjamin apakah semua dapat memetik hal yang baik dari kemakluman itu
Seketika itulah menjauh menjadi jalan yang terbaik

Saya hanya akan bercerita kepada tuhan
Bersuara dan menjerit di dalam hati
Berkata pada diri sendiri
Lalu diam dan menjauh demi kebaikan

Deny Rahmalianto 10-desember2014 11:00