Politik Identitas

Politik Identitas

DisclaimerArtikel ini hanya bersifat pendapat pribadi tanpa intervensi dari pihak lain dan tanpa ada maksud menyindir pihak tertentu. Jika terjadi perbedaan perspektif dalam memaknai toleransi beragama, tolong salahkan diriku, jangan agamaku. 

Kondisi perpolitikan Indonesia sedang memasuki sejarah yang paling menyedihkan. Semenjak serangkaian turbulensi yang terjadi pada pemilihan gubernur Jakarta 2017 silam, memang kondisi keberagaman masyarakat Indonesia mulai terganggu. Terutama dalam hal polarisasi etnis dan agama; misalnya saja kasus identitas etnis pribumi, penyerangan agama di beberapa provinsi, sampai pengusiran biksu di Tanggerang.

Hal ini menggelitik saya untuk menulis artikel politik, apalagi setelah mendengar pernyataan wakil ketua DPR RI yang mengatakan “Politik Identitas bukanlah suatu masalah“. Bahwa alasan memilih pemimpin berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan adalah hal yang wajar.

Hal ini sangat mengejutkan karena pernyataan itu keluar dari elit bangsa yang seharusnya mampu membawa persaingan politik kearah yang lebih rasional.

Read more

Kampanye

Alkisah ada seorang laki-laki yang mengikuti kampanye malaikat dan setan.

Si lelaki mengikuti kampanye malaikat di surga, ia melihat suasana yang tenang, setiap orang beribadah masing-masing, seluruh warganya berpakaian panjang dan lebar. Malaikat berkata “kami menawarkan anda suasana kondusif untuk beribadah, aturan yang ketat untuk mengangkat martabat semua orang, tapi sayangnya kami hanya mengizinkan makanan halal untuk kebaikan bersama”.

Kemudian si lelaki mengikuti kampanye setan ke neraka, ia melihat  narkoba dilegalkan, minuman keras menjadi wajar, pakaian wanita seksi dan pergaulan bebas menjadi lumrah. Lalu setan berkata “kami menawarkan kebebasan, tidak ada aturan yang mengikat, makanan bebas tak perlu perizinan. Martabat kita semua sudah tinggi, tak perlu ada aturan yang mengikat. Semua yang kami sediakan adalah kebahagiaan.”

Si lelaki pun mantap dengan pilihannya mengikuti setan. Begitu ia mengikuti setan kedua kalinya, semuanya berbeda, neraka penuh dengan penyiksaan. Manusia sudah seperti zombi karena tubuhnya hancur disiksa. Tidak ada kebahagiaan, yang ada hanya tangisan dan teriakan penyesalan.

Lalu si lelaki protes kepada setan “Ini tidak seperti yang engkau janjikan, bukan ini pilihan yang saya inginkan”.

Lalu setan menjawab “Lha kemarin kan baru kampanye, suka2 aku dong gimana caranya menarik simpatisan”.