Seleksi PPAN – Final

Ditengah lembutnya terpaan angin padang rumput, tiba-tiba hpku berdering. Dering pengingat akan pengumuman kandidat yang lolos ketahap final seleksi PPAN.

Kebetulan hari itu kelasku sedang kosong sehingga aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bersantai di runway bandara di kotaku. Memang kegiatan beberapa minggu belakangan membuat waktu me-time ku berkurang. Biasanya aku habiskan waktu seperti ini dengan membaca novel atau menulis cerita.

Serentak degub jantung semakin cepat ketika membaca pengingat yang ku pasang. Novel ku tutup dan simpan dalam tas kecilku. Jemari kemudian berlomba untuk menekan tuts keyboard pada layar tablet, mengetik alamat website PCMI Jogja dimana pengumuman akan dipublish.

Halaman web terbuka perlahan seiring mata bergerilya mencari teks pengumuman finalis. Hei my name’s on the list!. Segera aku mengecup tabletku sambil mengucap Alhamdulilah. Aku merasa mempiku sudah di depan mata. Hanya butuh kemauan lebih untuk terus berjuang menjadikan impian itu menjadi nyata. Segera aku screenshot pengumuman itu dan ku kirim ke keluargaku. Tak lupa aku kabari beberapa kerabat dekatku. Hari itu senyum ku mekar hingga aku tidur, atau bahkan bisa jadi, tidurku pun tetap tersenyum saking senang nya.

—–***—–

Beberapa minggu kemudian proses seleksi final diselenggarakan. Seleksi terakhir ini dilakukan dengan mekanisme karantina selama 3 hari 2 malam. Seluruh kegiatan didesain dengan padat untuk melihat kedisiplinan pesertanya, selain itu tes yang beraneka ragam memaksa seluruh kandidat mengeluarkan kemampuan terbaiknya, bahkan untuk ranah yang tidak mereka mengerti.

Seleksi dibuka dengan penilaian public speaking selama 2 menit. Topic yang diberikan merupakan isu internasional dan berbeda untuk setiap orang nya. Jujur aku sendiri tidak mengerti mengenai topic yang aku dapatkan. Yang aku tampilkan adalah topik lain yang mungkin mirip dengan kasusku. Yah setidaknya mereka dapat menilai usaha yang aku berikan meskipun topic melenceng kesegala arah.

—–***—–

Program selanjutnya adalah skill individu. Peserta kembali diminta untuk menampilkan pertunjukan individu selama 20 menit. Kali ini aku tak tampil tanpa persiapan. Aku telah melakukan latihan beberapa tarian daerah dari berbagai provinsi melalui tutorial youtube. Tidak lupa aku menghafalkan beberapa lagu daerah yang mudah dihafalkan jika ternyata waktu yang dibutuhkan tarian tidak mencukupi. Lebih dari itu, aku juga meminjam baju khas daerahku di Asrama putra daerah.

Waktu tampilku pun tiba. Aku tak sempat menghitung seluruh panitia di ruangan. Yang aku ingat ada 3 orang yang aku perhatikan terus menulis selama penampilanku sambil mencatat sesuatu. Sedangkan panitia yang lain hanya memperhatikan sambil memberikan instruksi skill individu.

Ku awali penampilanku dengan menarikan tarian nusantara. Sama seperti saat seleksi wawancara, baru sebentar aku menari dan musikpun dimatikan. Bedanya, kali ini aku ditantang dengan spontan menarikan tarian sesuai irama musik yang dipilih oleh dewan juri. Aku cukup kesulitan menyesuaikan irama lagu dengan tarian, mungkin ini akibat aku baru melatih gerakan beberapa hari sebelum seleksi. Tugas selanjutnya adalah menyanyikan lagu daerah, kubawakan lagu Batu belah yang telah kuhafalkan saat menunggu antrian tampil. Setelah itu aku diminta melakukan story telling mengenai legenda dibalik lagu tersebut. Setelah story telling, kemampuan individu yang dites adalah bermain musik. Jeng jeng… Tak satupun alat musik yang bisa aku mainkan selain pianika, itupun terbatas lagu-lagu wajib untuk upacara hari senin. Alhasil, sesi ini aku lewati dengan memalukan.

—–***—–

Malam selanjutnya disebut sesi konfirmasi, pada tes kali ini kami satu persatu maju untuk menjawab pertanyaan. Bedanya tes kali ini adalah proses tanya jawab dilakukan sambil penekanan mental dari dewan juri. Pada giliranku, kuhitung ada sampai 7 dewan juri yang memperhatikan ditambah 1 dewan juri yang duduk disudut ruangan memperhatikan gerak-gerikku, yang kemudian aku fikir seorang psikolog.

Seleksi PPAN – Semifinal

Seleksi PPAN – Semifinal

Alhamdulillah usahaku pada wawancara imyep tidak sia-sia dan aku lolos bersama 39 kandidat lainnya ke fase berikutnya.

Dua hari setelah pengumuman semua semifinalis dikumpulkan untuk mengikuti briefing. Kami semua dikumpulkan pada satu ruang yang kemudian akan diberikan tugas secara individu selama dua hari.

Tugas yang aku dapat bertema “business culinary”. Tugas ini dapat diselesaikan dengan membuat artikel ilmiah, proposal kegiatan, photography atau vidiografi. Aku memutuskan memanfaatkan kemampuanku dibidang vidiografi, lagi pula pada video tersebut dapat aku selipkan beberapa foto yang mungkin menjadi nilai tambah untuk kemampuan fotografiku.

Malamnya aku langsung mengonsep video yang akan dibuat, mulai dari list tempat, potongan yang akan diambil dan musik yang akan digunakan sebagai backsound. Aku juga tidak lupa mengontak temenku yang memiliki kamera bagus untuk merekam.

Keesokan harinya aku mulai mengontak tempat-tempat yang sudah aku list untuk mendapatkan izin meliput. Banyak tempat yang menolak untuk diliput, sebagian lagi bersedia diliput setelah proposal diACC. Waktu untuk proses birokrasi proposal tidak akan cukup dengan deadline yang relatif singkat. Akhirnya aku memutuskan untuk meliput seadanya.

Read more

Seleksi PPAN

Seleksi PPAN

Img Src: http://kreativitas.ugm.ac.id/site/?p=3873

Ada sebuah pertanyaan yang sering lupa kita tanyakan kepada diri sendiri.

“Kapan terakhir kali kita berani berkompetisi?”

Pertanyaan ini tiba-tiba terlintas ketika email dari PCMI mampir ke inbox emailku. Sebuah email yang berisi undangan untuk datang ke stand PCMI pada acara career days di Yogyakarta.

Semenjak membaca novel “Ranah 3 Warna” 6 tahun lalu, PPAN merupakan salah satu target pada bucket list yang belum tercapai. Buku karangan Ahmad Fuadi tersebut memang sangat menginspirasi diriku, tidak heran aku ingin sekali merasakan program yang sama dengan apa yang telah ia alami.

Sebetulnya aku sudah pernah mencoba mewujudkan impian ini 3 tahun lalu, tapi hal itu kandas ketika aku gagal melewati proses administrasi dan essay. Ya aku gagal pada fase pertama seleksi ini, baru pada fase administrasi dan essay. Dua tahun berikutnya nyaliku sempat surut untuk mengikuti seleksi yang sama. Baru pada tahun ketiga ini aku memberanikan diri untuk kembali barkompetisi diajang yang sama.

Read more