BACA DEH!!! (untuk adik kecilku yang sedang merantau)

Selamat datang mahasiswi baru Universitas Islam Indonesia. 😀
 
Semoga betah tinggal di jogja ya, tenang aja jogja berhati nyaman kok. Abang belum pernah dengar orang nggak suka tinggal di jogja. Yang ada banyak orang yang pingin berlama-lama tinggal di jogja. Hehehe

 

Jangan takut untuk hidup merantau, awalnya memang agak sulit, tapi lama-kelamaan terbiasa dan bisa dibawa asik kok. Asal jangan disalah gunakan aja. Akan ada banyak hal yang bisa kamu pelajari disini, di tanah perantauan. Belajar hidup mandiri, berjuang menghadapi masalah sendiri, belum lagi lingkungan yang mendukung pembelajaran. Dan bakal banyak lagi pelajaran hidup yang bakal kamu temuin di tanah perantauan ini. Eh ada puisi yang sangat abang sukai dari imam syafi’i :
MERANTAULAH
Orang pandai dan beradab tak kan diam di kapung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggal kan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran

Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam,
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan

Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota berubah mahal seperti emas

Read more

Homesick

26 januari 2012, sore itu aku merasakan begitu penat akan semua tugas ku pada liburan ini, di dalam lab dari  jam 10 pagi sampai jam 2 malam begitu terus kegiatan ku setiap hari kecuali hari minggu. Begitu monoton, tapi aku harus menjalaninya demi tercapainya targetku.

Penat, bosan, capek semua nya bercampur menjadi satu.Akupun pergi ke toilet untuk mencuci muka dan berharap semua penat itu akan berkurang, saat kembali dari toilet tanpa sengaja aku melintas di depan jendela dan terlihat oleh ku keadaan langit saat itu, terdiam sejenak aku berdiri di depan jendela itu, seperti ada sesuatu yang melintas di fikiranku,  kusempatkan diriku menikmati indahnya langit sambil mencari tau apa yang telah melintas di fikiranku.

Tak lama setelah ku termenung di jendela itu, aku mendapati bahwa suasana saat itu mengingat kan ku pada suasana di tempat asal ku. Hanya saja kali ini dibawah langit itu begitu banyak bangunan tinggi, dan di tempat asal ku keindahan langit tersebut ditambah dengan indahnya hamparan sawah yang sejuk.

Di pontianak tempat asal ku, setiap kali aku merasakan penat akan semua aktifitas aku selalu menyempatkan diri menyendiri di hamparan ladang sambil memandangi langit, disana aku melepaskan semua penat ku, melepaskan semua beban yang ada, dan setelah itu aku merasa jauh lebih baik. Tapi bagaimana dengan disini, ladangnya kecil dan dekat dari jalan raya, sehingga tak cukup nyaman untuk bersantai di tengahnya.

Kalau saja saat itu aku sedang di rumah, pasti aku sudah membersihkan semua beban ku dengan bersantai di tengah hamparan sawah, pergi berkeliling sambil menikmati indahnya sunset. Hal itu begitu sempurna untuk mengobati semua penat dan keluh kesah ku.

Disetiap hari minggu selalu ku sempatkan diriku untuk pergi refreshing, ke pantai yang begitu indah, ke funstation, pergi kebeberapa tempat hiburan, tapi tetap saja penat ini menggantung di dadaku. Karena saat ini aku tidak butuh tempat hiburan seperti apapun, aku tidak butuh tempat refreshing seperti apapun, yang aku butuhkan adalah suasana rumah. Suara orang sekitar rumah yang  dapat membangkitkan aku dari keterpurukan. Suasana yang begitu sempurna untuk mengobati rasa rinduku ini.


Hah, apakah ini karena pengalaman pertamaku dalam merantau, sehingga berat sekali rasanya ketika aku rindu akan suasana rumah.Seandainya saja situasi memungkinkan aku untuk kembali ketempat asalku, kembali dalam kehangatan rumah tangga. 


Perpisahan

Perpisahan, ada awal kan ada akhirnya, semua materi memiliki batas ruang dan waktu, hanya saja kapan itu berakhir tak ada yang mengetahui.

Banyak orang mengatakan bahwa tidak menyukai perpisahan. Tapi mengapa mereka tidak pernah berkata membenci pertemuan?, bukankah semua pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahan. Mengapa kita harus senang dengan suatu awal jika kita membenci akhirnya..

Aku akui perpisahan memang perih, apalagi ketika berpisah dengan mereka yang kita sayangi, ku akui hatiku menjerit dan ingin menangis saat berpisah, tapi semua itu tak ku lakukan agar aku tetap kuat dan tidak terlarut dalam kesedihan.

Memang benar pertemuan sering kali membuat kita terlena hingga kita terlupa bahwa semua pasti berakhir, tapi dengan perpisahan jugalah kita menjadi lebih mengerti arti sebuah pertemuan.

Mungkin kata-kata diatas benar, saat aku disana bersamanya aku merasa dia biasa saja, tapi setelah aku meninggalkannya dan melihat kebelakang, aku mengerti betapa besarnya orang tersebut di dalam hidupku.

MERANTAU

Merantau, kata itu lah yg sebentar lagi akan ku jalani. Ntah apa yang aku fikirkan hingga aku memutuskan untuk pergi merantau, semua alasan begitu abstract di dalam fikiranku dan kini tak ada jalan untuk kembali, aku harus melanjutkan langkah yang sudah kumulai.

Ku harap perantauanku ini bukan untuk meninggikan ego, kuharap akal sehat dan komitmenku jauh lebih besar daripada egoku, dan sungguh ku berharap bahwa cita-citaku ini tidak hanya untuk kesenangan sementara.

Dari berbagai aspek telah kupertimbangkan, akreditasi, pergaulan, kualitas teman, fasilitas, hingga tekad untuk menjadi lebih dewasa pun telah aku pertimbangkan, tapi ntah mengapa semakin dekat waktuku untuk melangkah aku semakin meragu.

“Yakin dan bersungguh-sungguhlah dalam suatu pekerjaan, maka semua akan indah pada waktunya”, kalimat itulah yg selalu menjadi kata-kataku saat meyakinkan orang tua, tapi kini bahkan diriku sendirilah yang meragukan kalimat itu.

Memang benar semua tekadku untuk merantau bukanlah tekad yang tidak beralasan, semua nya sungguh cita-cita yg baik bagiku, karena aku bertekad bahwa aku harus berprestasi dalam bidangku ini, aku harus menjadi orang yang berguna saat aku selesai dari studiku ini. Tapi kini aku ragu, aku takut kalau ini hanya keinginan sesaat, aku takut bidang ku ini hanyalah hobi sementara ku saja dan aku takut ilmu yang ku miliki ini tak dapat diterapkan dalam kehidupan sebenarnya.

Ya ALLAH, tunjukanlah jalan yang terbaik bagiku, kuatkanlah pundakku agar mampu menopang semua tanggung jawab ku, Ya ALLAH kuserahkan semua kehidupan ku hanya di jalanmu.